KETAHANAN RUMAHTANGGA PETANI BERDASARKAN BENCANA TSUNAMI DAN KONFLIK DI ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    DISSERTATION

KETAHANAN RUMAHTANGGA PETANI BERDASARKAN BENCANA TSUNAMI DAN KONFLIK DI ACEH


Pengarang

Elly Susanti - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Agussabti - 196804081993031004 - Dosen Pembimbing I
Fajri - 196009301986021001 - Dosen Pembimbing III
Ahmad Humam Hamid - 195603311984031001 - Penguji
Alfi Rahman - 197712022023211004 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2109300030008

Fakultas & Prodi

Fakultas Pasca Sarjana / Program Doktor Ilmu Pertanian (S3) / PDDIKTI : 54001

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pasca Sarjana., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Sektor pertanian memegang peran penting dalam pembangunan, namun Propinsi Aceh masih sangat rentan terhadap bencana alam maupun buatan manusia, khususnya konflik bersenjata berkepanjangan dan tsunami. Penelitian ini menganalisis ketahanan rumah tangga petani dalam konteks transformasi struktural dan perubahan sosial akibat guncangan ganda tersebut. Dengan menggunakan pendekatan historis dan pemilihan sampel purposif pada rumah tangga petani di Aceh Utara, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Besar, dan Aceh Barat. Analisis difokuskan pada dinamika ketahanan dalam tiga fase, yaitu koping, adaptif, dan transformatif. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan ketahanan rumah tangga petani pada wilayah konflik dan tsunami. Di wilayah konflik, mayoritas rumah tangga berada pada tingkat ketahanan sedang hingga tinggi, ditopang oleh mekanisme kultural dan kelembagaan lokal yang memperkuat kapasitas adaptif dan transformatif. Sebaliknya, di wilayah tsunami, ketahanan cenderung rendah dengan ketergantungan tinggi pada bantuan eksternal dan infrastruktur, sehingga kapasitas transformatif relatif rapuh. Temuan ini mengindikasikan bahwa tipologi bencana secara signifikan memengaruhi pola ketahanan rumah tangga.
Selanjutnya, hasil analisis struktural menunjukkan bahwa faktor-faktor penentu ketahanan rumah tangga petani berbeda menurut fase dan tipologi bencana. Pada wilayah konflik, fase koping dipengaruhi oleh modal penghidupan, jaminan sosial, dan lingkungan, sedangkan fase adaptif ditentukan oleh akses kredit, teknologi, kebijakan pemerintah, serta pengalaman dan keahlian. Pada fase transformatif, kapasitas adaptif berperan dominan dengan dukungan akses kredit dan kebijakan pemerintah. Sebaliknya, di wilayah terdampak tsunami, fase koping sangat dipengaruhi jaringan sosial, modal penghidupan, dan ukuran rumah tangga. Fase adaptif dipengaruhi oleh koping itu sendiri, harga komoditas, serta kondisi lingkungan dan sumber daya alam, sementara fase transformatif terutama ditentukan oleh adaptasi, kebijakan pemerintah, serta akses kredit.
Sintesis dari hasil tersebut menghasilkan model ketahanan rumah tangga petani yang bersifat jalur ganda (double-pathway) sesuai tipologi bencana. Pada konflik, ketahanan lebih banyak berakar pada kekuatan internal berupa modal sosial, kapasitas psikososial, dan kelembagaan lokal, dengan proses transisi ketahanan sangat ditentukan oleh penguatan kapasitas adaptif. Sebaliknya, pada tsunami, model ketahanan bergantung pada dukungan eksternal dan infrastruktur, dengan jaringan sosial dan bantuan struktural menjadi penentu utama transisi dari fase koping ke transformatif. Perbedaan ini menunjukkan bahwa meskipun urutan fase ketahanan sama, fondasi pembentukannya berbeda sesuai karakteristik ancaman. Dengan demikian, model ketahanan yang dihasilkan tidak hanya menjelaskan variasi jalur pembentukan ketahanan rumah tangga petani sesuai tipologi bencana, tetapi juga memberikan kerangka analitis untuk merancang intervensi penguatan ketahanan yang kontekstual dan spesifik terhadap karakter ancaman.

The agricultural sector plays a pivotal role in development; however, Aceh Province remains highly vulnerable to both natural and human-induced disasters, as well as exceptionally prolonged armed conflict and tsunamis. This study analyzes the resilience of farming households in the context of the structural transformation and social change triggered by these dual shocks. Using a historical approach and purposive sampling of farming households in North Aceh, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Besar, and West Aceh, the analysis focuses on the dynamics of resilience across three phases: coping, adaptive, and transformative. The findings reveal notable differences in household resilience between conflict-affected and tsunami-affected areas. In conflict-prone areas, most households exhibit moderate to high resilience, supported by cultural mechanisms and local institutions that strengthen their adaptive and transformative capacities. In contrast, in tsunami-affected areas, resilience tends to be lower, with a firm reliance on external assistance and infrastructure, rendering the transformative capacity relatively fragile. These findings suggest that the disaster typology has a significant impact on household resilience patterns. Furthermore, the structural analysis demonstrates that the determinants of household resilience vary across phases and disaster typologies. In conflict-affected areas, coping mechanisms are shaped by a combination of livelihood assets, social security, and environmental factors. Simultaneously, adaptive capacity is determined by access to credit, technology, government policies, and household skills and experience. During the transformative phase, adaptive capacity plays a dominant role, which is reinforced by access to credit and government support. In tsunami-affected areas, coping is strongly influenced by social networks, livelihood assets, and household sizes. Adaptive capacity, in turn, is driven by effective coping strategies, commodity prices, and access to natural resources, whereas adaptation, government policies, and access to credit primarily determine transformative capacity. Synthesizing these findings, this study developed a dual-pathway resilience model specific to disaster typologies. In the context of conflict, resilience is rooted in internal strengths, particularly social capital, psychosocial capacity, and local institutions, with transitions across phases largely dependent on the reinforcement of adaptive capacity. Conversely, in the context of tsunamis, resilience relies heavily on external support and infrastructure, with social networks and structured assistance serving as key drivers for transitioning from the coping to transformative phases. These contrasts highlight that, although the sequence of resilience phases is similar, the foundations of resilience construction differ according to the nature of the threat. Thus, the proposed resilience model not only illustrates variations in household resilience pathways across different disaster typologies but also provides an analytical framework for designing context-specific interventions to strengthen the resilience of farming households.

Citation



    SERVICES DESK