PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL DAN MINYAK ATSIRI BATANG SERAI (CYMBOPOGON CITRATUS (DC.) STAPF) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN METHICILLIN-RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS (MRSA) DENGAN METODE DILUSI | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL DAN MINYAK ATSIRI BATANG SERAI (CYMBOPOGON CITRATUS (DC.) STAPF) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN METHICILLIN-RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS (MRSA) DENGAN METODE DILUSI


Pengarang

Zahira Sahiza - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Hanifah Yusuf - 195709111987032001 - Dosen Pembimbing I
Mulkan Azhary - 198108022005011001 - Dosen Pembimbing II
Suryawati - 198204072006042002 - Penguji
Tristia Rinanda - 198209212006042001 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2207101010197

Fakultas & Prodi

Fakultas Kedokteran / Pendidikan Dokter (S1) / PDDIKTI : 11201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Kedokteran.,

Bahasa

Indonesia

No Classification

616.929 7

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Peningkatan resistensi antimikroba, khususnya oleh Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), menjadi tantangan serius dalam penatalaksanaan penyakit infeksi dan mendorong pencarian agen antibakteri alternatif yang lebih aman dan efektif. Batang serai (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti flavonoid, senyawa fenolik, sitral, dan geraniol, yang berpotensi sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antimikroba ekstrak etanol dan minyak atsiri batang serai terhadap Staphylococcus aureus dan MRSA menggunakan metode dilusi cair dengan penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan acak lengkap. Ekstrak etanol dan minyak atsiri batang serai diuji pada beberapa konsentrasi bertingkat, yaitu 0,039%, 0,078%, 0,156%, 0,312%, dan 0,625%, dengan DMSO 5% sebagai pelarut. Uji KHM dilakukan berdasarkan pengamatan kejernihan media dan pengukuran absorbansi, sedangkan uji KBM ditentukan melalui subkultur pada media padat. Analisis data dilakukan menggunakan uji Two-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol batang serai tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus maupun MRSA pada seluruh konsentrasi yang diuji. Sebaliknya, minyak atsiri batang serai menunjukkan aktivitas antibakteri yang bermakna dengan nilai KHM dan KBM terhadap kedua bakteri uji pada konsentrasi 0,625%. Aktivitas antibakteri minyak atsiri diduga berkaitan dengan kandungan senyawa nonpolar, seperti sitral dan geraniol, yang mampu merusak integritas membran sel bakteri sehingga menyebabkan kebocoran sitoplasma dan kematian sel. Kesimpulannya, minyak atsiri batang serai memiliki aktivitas antimikroba yang lebih efektif dibandingkan ekstrak etanol dalam menghambat dan membunuh pertumbuhan Staphylococcus aureus dan MRSA. Temuan ini menunjukkan bahwa minyak atsiri batang serai berpotensi dikembangkan sebagai agen antibakteri alami, khususnya untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten.
Kata kunci: Cymbopogon citratus, ekstrak etanol, minyak atsiri, Staphylococcus aureus, MRSA, metode dilusi





The increasing prevalence of antimicrobial resistance, particularly caused by Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), represents a major challenge in the management of infectious diseases and highlights the need for alternative antibacterial agents. Lemongrass stems (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) contain various bioactive compounds, including flavonoids, phenolic compounds, citral, and geraniol, which exhibit potential antibacterial properties. This study aimed to compare the antimicrobial activity of ethanol extract and essential oil of lemongrass stems against Staphylococcus aureus and MRSA using the broth dilution method to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC). This study was an experimental laboratory research with a completely randomized design. Ethanol extract and essential oil of lemongrass stems were tested at serial concentrations of 0.039%, 0.078%, 0.156%, 0.312%, and 0.625%, using 5% dimethyl sulfoxide (DMSO) as the solvent. MIC was determined based on broth clarity and absorbance measurement, while MBC was assessed through subculture on solid media. Statistical analysis was performed using the Two-Way ANOVA test. The results demonstrated that the ethanol extract of lemongrass stems exhibited no antibacterial activity against Staphylococcus aureus or MRSA at all tested concentrations. In contrast, the essential oil of lemongrass stems showed significant antibacterial activity, with both MIC and MBC values observed at a concentration of 0.625% against both bacterial strains. The antibacterial activity of the essential oil is attributed to nonpolar compounds, such as citral and geraniol, which are capable of disrupting bacterial cell membrane integrity, leading to cytoplasmic leakage and cell death. In conclusion, the essential oil of lemongrass stems is more effective than the ethanol extract in inhibiting and killing Staphylococcus aureus and MRSA. These findings suggest that lemongrass essential oil has potential to be developed as a natural antibacterial agent, particularly for the treatment of infections caused by resistant bacteria. Keywords: Cymbopogon citratus, ethanol extract, essential oil, Staphylococcus aureus, MRSA, broth dilution method.

Citation



    SERVICES DESK