Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS PERBANDINGAN FUNGSI PENDENGARAN PASIEN KARSINOMA NASOFARING SEBELUM & SESUDAH KEMOTERAPI CISPLATIN DI RSUDZA
Pengarang
Mauzatul Husna - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Dina Alia - 198109182014042002 - Dosen Pembimbing I
Teuku Muhammad Yus - 198105292008011008 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2207101010196
Fakultas & Prodi
Fakultas Kedokteran / Pendidikan Dokter (S1) / PDDIKTI : 11201
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Kedokteran., 2026
Bahasa
Indonesia
No Classification
616.21
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Karsinoma nasofaring merupakan salah satu kanker kepala dan leher yang memiliki angka kejadian tinggi di Indonesia. Kemoterapi cisplatin merupakan bagian penting dalam tata laksana karsinoma nasofaring, namun memiliki efek samping ototoksik sehingga berpotensi mengganggu fungsi pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan fungsi pendengaran pasien karsinoma nasofaring sebelum dan sesudah kemoterapi cisplatin siklus 1 di RSUDZA. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional menggunakan data primer hasil pemeriksaan audiometri. Sampel penelitian adalah 19 pasien karsinoma nasofaring yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan diperoleh melalui metode total sampling. Pemeriksaan audiometri dilakukan sebelum dan sesudah kemoterapi cisplatin siklus 1, kemudian dianalisis menggunakan uji Shapiro–Wilk untuk normalitas dan dilanjutkan dengan uji Wilcoxon dan paired samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki (78,9%) dan berada pada kelompok usia 40–59 tahun (68,4%). Sebelum intervensi, jenis dan derajat gangguan dengar terbanyak adalah tuli sensorineural ringan sebesar 28,9% yang meningkat menjadi 42,1% setelah kemoterapi. Mayoritas pasien mengalami tuli bilateral sebelum kemoterapi (73,7%) dan seluruh pasien (100%) mengalami tuli bilateral setelah kemoterapi. Hasil uji Wilcoxon dan paired samples t-test menunjukkan adanya perbedaan bermakna ambang pendengaran sebelum dan sesudah kemoterapi cisplatin siklus 1 pada frekuensi 4000 dan 8000 Hz (p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah kemoterapi cisplatin siklus 1 dapat menyebabkan penurunan fungsi pendengaran pada pasien karsinoma nasofaring, ditandai dengan penurunan ambang dengar pada frekuensi tinggi, peningkatan jumlah kejadian tuli sensorineural, peningkatan derajat gangguan dengar, serta peningkatan kejadian tuli bilateral.
Kata kunci: Karsinoma nasofaring, cisplatin, ototoksisitas, audiometri, gangguan pendengaran
Nasopharyngeal carcinoma is one of the head and neck cancers with a high incidence in Indonesia. Cisplatin chemotherapy is an important part of the management of nasopharyngeal carcinoma, but it has ototoxic side effects that have the potential to impair hearing function. This study aims to analyze the comparison of hearing function in nasopharyngeal carcinoma patients before and after cycle 1 of cisplatin chemotherapy at RSUDZA. This is an analytical study with a cross- sectional approach using primary data from audiometry examinations. The study sample was 19 nasopharyngeal carcinom patients who met the inclusion and exclusion criteria and were obtained through a total sampling method. Audiometry examinations were performed before and after cycle 1 of cisplatin chemotherapy, then analyzed using the Shapiro–Wilk test for normality followed by the Wilcoxon test and paired samples t-test. The results showed that the majority of patients were male (78.9%) and were in the 40–59 years age group (68.4%). Before the intervention, the most common type and degree of hearing loss was mild sensorineural hearing loss (28.9%) which increased to 42.1% after chemotherapy. The majority of patients experienced bilateral hearing loss before chemotherapy (73.7%) and all patients (100%) experienced bilateral hearing loss after chemotherapy. The results of the Wilcoxon test and paired samples t-test showed a significant difference in hearing thresholds before and after cycle 1 cisplatin chemotherapy at frequencies of 4000 and 8000 Hz (p < 0.05). The conclusion of this study is that cycle 1 cisplatin chemotherapy can cause hearing loss in nasopharyngeal carcinoma patients, characterized by a decrease in hearing thresholds at high frequencies, an increase in the number of sensorineural hearing loss events, an increase in the degree of hearing loss, and an increase in the incidence of bilateral hearing loss. Keywords: Nasopharyngeal carcinoma, cisplatin, ototoxicity, audiometry, hearing loss
GAMBARAN JUMLAH NEUTROFIL SEBELUM DAN SESUDAH KEMOTERAPI BERDASARKAN JENIS REGIMEN KEMOTERAPI PADA PASIEN KANKER DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH (M HABIBIE RUNANDA, 2019)
PERBEDAAN KADAR UREUM DAN KREATININ SEBELUM DAN SESUDAH KEMOTERAPI BERBASIS CISPLATIN PADA PASIEN KANKER DI RSUDZA BANDA ACEH (Lia Shuban Asmuniati, 2014)
GAMBARAN STATUS PENDENGARAN PADA PASIEN KANKER KEPALA DAN LEHER PASCA PEMBERIAN KEMOTERAPI CISPLATIN DI RSUD DR. ZAINOEL ABIDIN (Chaira Al Kanzi, 2017)
PERBEDAAN KUALITAS TIDUR SEBELUM DAN SESUDAH KEMOTERAPI SIKLUS I PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DI RSUD DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH (Nadya Izzaty Away, 2017)
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANTARA TERAPI KOMBINASI ONDANSETRON-DEKSAMETASON DENGAN GRANISETRONDEKSAMETASON TERHADAP MUAL MUNTAH AKUT AKIBAT KEMOTERAPI REGIMEN TAC PADA PASIEN KANKER PAYUDARA (Cut Mela Yunita Sari, 2014)