UJI KEEFEKTIVITAS EKSTRAK BUNGA KECOMBRANG (ETLINGERA ELATIOR) TERHADAP HAMA CROCIDOLOMIA PAVONANA DI LABORATORIUM | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

UJI KEEFEKTIVITAS EKSTRAK BUNGA KECOMBRANG (ETLINGERA ELATIOR) TERHADAP HAMA CROCIDOLOMIA PAVONANA DI LABORATORIUM


Pengarang

Julia Amanda - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Muhammad Sayuthi - 197211232003121001 - Dosen Pembimbing I
Siti Shofiya Nasution - 199203302022032015 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2105109010030

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman (S1) / PDDIKTI : 54295

Penerbit

Banda Aceh : FakultasPertanian Proteksi Tanaman (S1).,

Bahasa

Indonesia

No Classification

632.9

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Crocidolomia pavonana merupakan salah satu hama utama pada tanaman kubis-kubisan (Brassicaceae) yang dapat menyebabkan kerusakan hingga mencapai 100%. Selama ini, pengendalian hama tersebut umumnya masih bergantung pada penggunaan insektisida sintetis. Penggunaan secara terus-menerus dapat menimbulkan dampak negatif seperti resistensi hama, kematian organisme non-target termasuk musuh alami, residu pestisida pada tanaman, serta pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengendalian hama yang lebih aman dan ramah lingkungan, salah satunya melalui pemanfaatan insektisida nabati menggunakan bunga kecombrang (Etlingera elatior). Bunga kecombrang (Etlingera elatior) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid yang memiliki aktivitas biologis terhadap serangga. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efikasi ekstrak bunga kecombrang sebagai insektisida nabati terhadap hama C. pavonana pada kondisi laboratorium.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Hama Tumbuhan, Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman, dan Laboratorium Analisis Pangan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non-faktorial dengan lima taraf konsentrasi, yaitu kontrol, 2%, 4%, 6%, dan 8%, masing-masing dengan empat ulangan. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut metanol dan diuapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh fraksi kasar. Larva C. pavonana instar III digunakan sebagai serangga uji dengan parameter yang diamati yaitu aktivitas penghambat makan, mortalitas larva, pembentukan pupa, serta kemunculan imago.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bunga kecombrang memberikan pengaruh sangat nyata terhadap seluruh parameter uji. Aktivitas antifeedant tidak berbeda nyata perlakuan 2%, 4%, 6%, dan 8%. Mortalitas larva meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak, di mana konsentrasi 8% menghasilkan mortalitas larva tertinggi yaitu 100% pada hari keenam setelah aplikasi. Sementara itu, pembentukan pupa dan imago menurun secara signifikan pada perlakuan dengan konsentrasi tinggi.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak bunga kecombrang efektif dalam mengendalikan hama C. pavonana dengan konsentrasi 8%. Perlu dilakukan dalam upaya pengendalian hama C. pavonana, penggunaan ekstrak bunga kecombrang dengan konsentrasi 8% efektif pada skala laboratorium. Namun, untuk aplikasi di lapangan disarankan agar konsentrasinya ditingkatkan guna memperoleh hasil pengendalian yang lebih optimal.

Crocidolomia pavonana is a major pest of cabbage (Brassicaceae), capable of causing up to 100% damage. To date, pest control generally relies on the use of synthetic insecticides. Continuous use can lead to negative impacts such as pest resistance, the death of non-target organisms, including natural enemies, pesticide residues in plants, and environmental pollution. Therefore, safer and more environmentally friendly pest control alternatives are needed, one of which is the use of botanical insecticides using torch ginger flowers (Etlingera elatior). Torch ginger flowers (Etlingera elatior) are known to contain secondary metabolites such as flavonoids, tannins, saponins, and alkaloids, which have biological activity against insects. This study aimed to test the efficacy of torch ginger flower extract as a botanical insecticide against C. pavonana under laboratory conditions. The research was conducted in the Plant Pest Science Laboratory, the Basic Plant Protection Laboratory, and the Food Analysis Laboratory, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University. The study used a non-factorial Completely Randomized Design (CRD) with five concentration levels: control, 2%, 4%, 6%, and 8%, each with four replications. The extract was obtained through maceration using methanol as a solvent and evaporated using a rotary evaporator to obtain a coarse fraction. Third-instar C. pavonana larvae were used as test insects, with parameters observed including feeding inhibitor activity, larval mortality, pupal formation, and adult emergence. The results showed that torch ginger flower extract had a highly significant effect on all test parameters. Antifeedant activity did not differ significantly between treatments at 2%, 4%, 6%, and 8%. Larval mortality increased with increasing extract concentration, with 8% resulting in the highest larval mortality of 100% on the sixth day after application. Meanwhile, pupal and adult emergence significantly decreased with the higher concentration treatment. This concludes that torch ginger flower extract is effective in controlling C. pavonana at an 8% concentration. To control C. pavonana, the use of torch ginger flower extract at an 8% concentration is effective in the laboratory. However, for field applications, it is recommended to increase the concentration to achieve optimal control result

Citation



    SERVICES DESK