<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1707329">
 <titleInfo>
  <title>KEANEKARAGAMAN ARTHROPODA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (ELAEIS GUINEENSIS JACQ) DENGAN FASE PERTUMBUHAN YANG BERBEDA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>WULAN SUKMA DEWI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>FakultasPertanian	Proteksi Tanaman (S1)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang memiliki peranan penting dalam membangun perekonomian Indonesia. Keanekaragaman arthropoda di perkebunan kelapa sawit berfungsi penting dalam ekosistem, baik sebagai penyerbuk, predator, dekomposer dan parasitoid. Perbedaan fase pertumbuhan tanaman diduga mempengaruhi komposisi, kelimpahan, serta stabilitas kelompok arthropoda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga pada perkebunan kelapa sawit fase tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM).&#13;
Pengambilan sampel dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juli 2025 di Desa Mukti Makmur (TBM) dan Desa Makmur Jaya (TM) Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam. Pengumpulan arthropoda dilakukan di lahan umur 1,5 tahun dan lahan 10 tahun. Pada masing-masing lahan dibuat plot pengamatan pada bagian tengah lahan tanaman kelapa sawit dengan luas 250 m x 250 m, dan jumlah tanaman pada setiap kelompok umur adalah 45 tanaman. Penentuan posisi subplot pada lahan tanaman sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan metode diagonal. Pada masing-masing setiap subplot diambil sebanyak 5 tanaman sampel untuk pemasangan perangkap. Pengamatan dilakukan perangkap jebakan (pitfall trap), jaring serangga (insect net), dan perangkap perekat kuning (yellow sticky trap). Sampel dimasukkan dalam botol sampel 50 ml yang berisikan alkohol 70% kemudian diidentifikasi secara morfologi di Laboratorium Pengendalian Hayati Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Pengamatan dilakukan terhadap (i) komposisi spesies, (ii) kelimpahan, (iii) indeks kekayaan spesies (Margalef), (iv) indeks diversitas (H’), dan (v) indeks kemerataan (E). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan  uji t di program Microsoft Excel 2016 untuk membandingkan setiap parameter antara kedua tipe kebun kelapa sawit.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa arthropoda (serangga dan laba-laba) yang ditemukan terdiri atas 10 ordo, 29 famili, dan 41 spesies. Pada kebun TBM ditemukan 28 spesies dengan total 204 individu, sedangkan pada kebun TM ditemukan 23 spesies dengan total 90 individu. Kelimpahan serangga pada perkebunan kelapa sawit pada pengamatan pertama tidak berbeda nyata (P=0,06, t=2,47, df=4), nilai rata-ratanya yaitu 20,2 dan 10,2. Pada pengamatan kedua terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata dikedua tipe kebun (P=0,02, t=3,70, df=4), nilai rata-ratanya yaitu 20,6 dan 8,6. Indeks kekayaan serangga pada perkebunan kelapa sawit TBM dan TM tidak berbeda nyata pada pengamatan pertama (P=0,97, t=0,03, df=4), nilai rata-ratanya yaitu 1,6 dan 1,5 sedangkan pada pengamatan kedua menunjukkan bahwa rata-rata indeks kekayaan cenderung serupa (P=0,81, t=-0,24, df=4), nilai rata-ratanya yaitu 1,81 dan 1,91. Indeks diversitas serangga pada pengamatan pertama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (P=0,06, t=2,13, df=4), nilai rata-ratanya yaitu 0,19 dan 0,33 sedangkan pada pengamatan kedua menunjukkan hasil berbeda nyata (P=0,03, t=2,13, df=4), nilai rata-ratanya yaitu 0,21 dan 0,37. Indeks kemerataan serangga pengamatan pertama tidak berbeda nyata (P=0,21, t=2,14, df=4), nilai rata-ratanya yaitu 0,11 dan 0,28 sedangkan rata-rata indeks kemerataan pengamatan kedua berbeda nyata (P=0,01, t= 2,13, df= 4), nilai rata-ratanya yaitu 0,12 dan 0,24.&#13;
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fase pertumbuhan kelapa sawit berpengaruh terhadap keanekaragaman arthropoda. Perkebunan TBM memiliki kelimpahan lebih tinggi, sedangkan perkebunan TM memiliki diversitas dan kemerataan yang lebih baik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah bagi pengelolaan hama dan pelestarian keanekaragaman hayati di perkebunan kelapa sawit.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>ARTHROPODA</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>PALMS - FORESTRY</topic>
 </subject>
 <classification>595</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1707329</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-12-29 12:38:25</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-12-29 15:27:05</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>