<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1707321">
 <titleInfo>
  <title>DETERMINAN SOSIAL DAN RELIGIUS DALAM PERSEPSI SERTA SIKAP TERHADAP PENOLAKAN VAKSIN OLEH ULAMA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Athaya Salsabila Hariadi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penolakan vaksinasi di kalangan ulama Aceh menjadi tantangan penting bagi keberhasilan program imunisasi di wilayah yang religius, khususnya Banda Aceh dan Aceh Besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor sosial dan religius yang membentuk persepsi dan sikap ulama terhadap vaksinasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara mendalam terhadap sebelas ulama di Banda Aceh dan Aceh Besar, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penolakan vaksinasi dipengaruhi secara signifikan oleh faktor sosial, seperti norma masyarakat, tekanan komunitas, dan kepercayaan terhadap tokoh agama, serta faktor religius, terutama pemahaman fiqih yang menegaskan bahwa vaksin yang haram hanya diperbolehkan dalam kondisi darurat (ad-dharuratu tubihul mahdhurat) dan ketidakjelasan status kehalalannya. Keterbatasan komunikasi antara ulama dan ahli medis turut memperkuat penerapan prinsip kehati-hatian (ihtiyat) dalam pengambilan keputusan vaksinasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor sosial dan religius menjadi determinan utama dalam membentuk sikap penolakan atau penerimaan vaksinasi di kalangan ulama Aceh, sehingga keberhasilan program vaksinasi membutuhkan strategi komunikasi yang melibatkan tokoh agama serta penjelasan yang jelas terkait status kehalalan dan urgensi medis vaksin.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>VACCINATION - DISEASE CONTROL</topic>
 </subject>
 <classification>614.47</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1707321</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-12-27 05:26:50</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-12-29 11:51:25</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>