<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1707143">
 <titleInfo>
  <title>MEMBANGUN EMPATI PADA MAHASISWA KEPANITERAAN KLINIK MELALUI HOME VISIT DI UNIVERSITAS SYIAH KUALA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ANNISA RAHMI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Empati merupakan kompetensi penting dalam praktik kedokteran karena berpengaruh terhadap kualitas hubungan dokter-pasien dan keberhasilan terapi. Namun, pengembangan empati pada mahasiswa kepaniteraan klinik masih menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi internal mahasiswa, kondisi pasien, dan kondisi lingkungan tempat pasien tinggal berperan dalam proses membangun empati melalui kegiatan home visit. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, melibatkan 12 mahasiswa kepaniteraan klinik pada stase Family Medicine, serta observasi terhadap dua kegiatan home visit. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dan observasi partisipatif, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kondisi internal mahasiswa, seperti kondisi fisik-psikis dan tekanan akademik, menjadi dasar terbentuknya empati, namun tidak menghambat munculnya empati selama interaksi langsung dengan pasien; (2) kondisi pasien, termasuk kondisi medis pasien, keterbukaan, sikap kooperatif, usia, dan kondisi sosial-ekonomi, sangat memengaruhi kedalaman empati mahasiswa; dan (3) kondisi lingkungan tempat pasien berada memberikan konteks penting yang membantu mahasiswa memahami tantangan non-medis yang memengaruhi kesehatan pasien. Secara keseluruhan, home visit terbukti menjadi sarana efektif untuk membangun empati karena memberikan pengalaman langsung dan pemahaman holistik mengenai kehidupan pasien. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan kurikulum yang lebih berfokus pada pengalaman kontekstual dalam pendidikan kedokteran. &#13;
Kata kunci: empati, mahasiswa kepaniteraan klinik, home visit, pendidikan kedokteran, etnografi.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>EMPATHY - PSYCHOLOGY</topic>
 </subject>
 <classification>152.41</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1707143</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-12-23 12:28:27</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-12-24 10:28:47</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>