<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1706829">
 <titleInfo>
  <title>ALASAN PENOLAKAN VAKSINASI DI KALANGAN ULAMA ACEH:</title>
  <subTitle>PERSPEKTIF AGAMA DAN POLITIK-EKONOMI</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>RANA SEPTINA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued></dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penyakit menular masih menjadi tantangan kesehatan global yang dapat dicegah melalui vaksinasi. Tingkat cakupan vaksinasi di Provinsi Aceh, Indonesia tergolong rendah, sebagian disebabkan oleh faktor keagamaan dan politik-ekonomi yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap vaksin. Ulama sebagai figur sentral dalam kehidupan religius masyarakat Aceh memiliki peran penting dalam membentuk pandangan dan keputusan terhadap vaksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi alasan penolakan vaksinasi di kalangan ulama Aceh dari perspektif agama dan politik-ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara mendalam terhadap sebelas ulama yang menolak vaksinasi. Data dianalisis menggunakan thematic analysis dengan bantuan perangkat lunak ATLAS.ti untuk mengidentifikasi tema-tema utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman ulama terhadap vaksinasi beragam, sebagian memahami vaksin sebagai upaya medis yang sejalan dengan prinsip hifz an-nafs, sementara lainnya menolak karena isu kehalalan bahan vaksin, keyakinan pada takdir Allah, serta pandangan bahwa vaksinasi terkait kepentingan politik dan ekonomi global. Faktor seperti hoaks dan ketidakpercayaan terhadap pemerintah, semakin memperkuat penolakan terhadap vaksinasi. Para ulama menilai vaksinasi dapat diterima jika terbukti aman dan halal sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Penelitian ini menegaskan bahwa penolakan vaksinasi di kalangan ulama Aceh tidak hanya dipengaruhi oleh faktor keagamaan, tetapi juga oleh dinamika politik-ekonomi yang kompleks. Temuan ini diharapkan menjadi dasar bagi strategi komunikasi kesehatan yang melibatkan ulama dalam meningkatkan penerimaan vaksinasi di Provinsi Aceh.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1706829</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-12-15 02:15:11</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-12-17 09:07:29</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>