<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1706701">
 <titleInfo>
  <title>EVALUASI RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT ANTIINFLAMASI NONSTEROID PADA PASIEN LANJUT USIA DI KECAMATAN KUTA ALAM</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Cindy Faralia Putri</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) pada pasien lanjut usia (lansia) memerlukan perhatian khusus karena adanya perubahan fisiologis dan peningkatan risiko efek samping, terutama gangguan gastrointestinal. Evaluasi rasionalitas penggunaan OAINS penting dilakukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas terapi pada kelompok lansia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan OAINS pada pasien lansia. Penelitian menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan pendekatan cross sectional, data diambil dari lembar peresepan pasien lansia yang berkunjung ke poli lansia dari Januari hingga April 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jenis OAINS yang paling banyak diresepkan adalah natrium diklofenak (77,7%), diikuti dengan ibuprofen (17,9%), dan asam mefenamat (4,2%), dengan penyakit terbanyak pada lansia adalah gangguan sistem muskuloskeletal (36,1%). Didapatkan juga bahwa sebagian besar dosis OAINS (95,7%) telah sesuai dengan rentang yang aman sesuai rekomendasi. Dimana (52,1%) OAINS memiliki potensi interaksi dengan obat lain. Dari aspek ketidaktepatan peresepan, sebagian besar (58,2%) resep masih belum tepat dan ketersediaan OAINS di Kecamatan Kuta Alam masih berfluktuatif tiap bulannya. Secara keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa sebagian besar penggunaan OAINS telah sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Namun masih terdapat ketidaktepatan peresepan pada pasien lansia. Ketidaktepatan menunjukkan perlunya peningkatan pengawasan terhadap praktik rasionalisasi obat. Peningkatan pengawasan diperlukan untuk mengurangi risiko efek samping obat, terutama pada saluran cerna.&#13;
&#13;
Kata Kunci :  OAINS, Rasionalitas Penggunaan Obat, Peresepan, Layanan Primer, Aceh&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>ELDERLY PERSONS</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>GERIATRIC THERAPETICS</topic>
 </subject>
 <classification>615.547</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1706701</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-12-08 13:44:39</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-12-08 14:56:55</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>