<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1706669">
 <titleInfo>
  <title>HUBUNGAN DEVIASI SEPTUM NASI DENGAN KEJADIAN RINOSINUSITIS KRONIS DI KSM THT-KL RSUDZA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Ghina Al Haya</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Rinosinusitis kronis merupakan peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung lebih dari 12 minggu dan sering disebabkan oleh kombinasi faktor infeksi, inflamasi, serta kelainan anatomi seperti deviasi septum nasi. Deviasi septum nasi, yaitu penyimpangan septum hidung dari garis tengah, dapat mengganggu ventilasi dan drainase sinus sehingga memicu sumbatan pada kompleks osteomeatal dan meningkatkan risiko peradangan kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara deviasi septum nasi dengan kejadian rinosinusitis kronis pada pasien di KSM THT-KL RSUDZA Banda Aceh. Penelitian dilakukan dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan potong lintang (cross-sectional) berdasarkan data rekam medis pasien rinosinusitis kronis periode Januari–Desember 2024. Sebanyak 45 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p &lt; 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berasal dari wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh (20%), dengan proporsi laki-laki lebih tinggi (53,3%) dan kelompok usia terbanyak 18–25 tahun (37,8%). Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara deviasi septum nasi dengan kejadian rinosinusitis kronis (p = 0,001), yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara deviasi septum nasi dengan rinosinusitis kronis. Hasil ini menunjukkan bahwa kelainan anatomi pada septum hidung berperan penting dalam patogenesis rinosinusitis kronis melalui gangguan ventilasi dan drainase sinus, sehingga deteksi serta koreksi dini deviasi septum dapat membantu menurunkan risiko penyakit ini.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>NASAL SINUS DISEASES - MEDICINE</topic>
 </subject>
 <classification>616.212</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1706669</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-12-04 15:10:53</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-12-08 10:20:25</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>