Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PENGARUH SUHU PEMADATAN TERHADAP PARAMETER MARSHALL CAMPURAN COLD PAVING HOT MIX ASBUTON PADA PERKERASAN JALAN RAYA
Pengarang
Dosen Pembimbing
Ruhdi Faisal - 198908142015041003 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
2204001010013
Fakultas & Prodi
Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S1) / PDDIKTI : 22201
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fak. Teknik Sipil Diploma III., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
625.85
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Infrastruktur jalan memiliki peran penting dalam menunjang aktivitas sosial, ekonomi, dan mobilitas masyarakat. Kualitas jalan yang baik bergantung pada mutu material serta teknik pelaksanaan yang digunakan agar mampu memenuhi standar kekuatan dan daya tahan terhadap beban lalu lintas. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah mutu campuran beraspal yang digunakan. Untuk menilai kualitas campuran tersebut, digunakan metode Marshall Test yang bertujuan menentukan nilai stabilitas dan flow sebagai indikator kinerja campuran. Salah satu inovasi yang berkembang saat ini adalah Cold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA), yaitu campuran beraspal yang menggunakan Asbuton (Aspal Buton) sebagai bahan pengikat alami. CPHMA memiliki keunggulan karena tidak memerlukan pemanasan tinggi sehingga lebih efisien dan dapat digunakan di wilayah yang jauh dari Asphalt Mixing Plant (AMP). Penelitian ini dilaksanakan di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh pada Bidang Pengujian dan Peralatan dengan fokus pada pengaruh suhu pemadatan terhadap parameter Marshall pada campuran CPHMA. Bahan CPHMA berasal dari PT Bumi Mulia Perkasa, dengan komposisi campuran aspal Buton dan aspal minyak penetrasi 60/70. Enam benda uji seberat 1200 gram dibuat dan dipadatkan pada dua variasi suhu, yaitu 30–35°C (tanpa pemanasan) dan 120–150°C (dengan pemanasan). Pengujian dilakukan menggunakan metode Marshall sesuai SNI 06-2489-1991 dan AASHTO T 245. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemadatan pada suhu tinggi menghasilkan nilai stabilitas, density, dan Marshall Quotient yang lebih baik dan memenuhi spesifikasi Bina Marga (2018). Sementara itu, pemadatan pada suhu rendah menghasilkan flow yang tinggi dan MQ di bawah standar. Dengan demikian, suhu pemadatan tinggi lebih sesuai untuk pekerjaan perkerasan jalan raya, sedangkan suhu rendah direkomendasikan untuk perbaikan berskala kecil dan jalan dengan lalu lintas rendah.
Road infrastructure has an important role in supporting social, economic, and community mobility activities. Good road quality depends on the quality of the material and the implementation techniques used to be able to meet the standards of strength and durability against traffic loads. One of the influencing factors is the quality of the asphalt mixture used. To assess the quality of the mixture, the Marshall Test method is used which aims to determine the stability and flow values as indicators of mixed performance. One of the innovations that is developing today is Cold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA), which is a paved mixture that uses Asbuton (Buton Asphalt) as a natural binding material. CPHMA has the advantage that it does not require high heating so it is more efficient and can be used in areas far from the Asphalt Mixing Plant (AMP). This research was carried out at the Aceh Public Works and Spatial Planning Office (PUPR) in the Field of Testing and Equipment with a focus on the effect of compaction temperature on Marshall parameters in the CPHMA mixture. CPHMA material comes from PT Bumi Mulia Perkasa, with a mixture composition of Buton asphalt and 60/70 penetration oil asphalt. Six test specimens weighing 1200 grams were made and compacted at two temperature variations, namely 30–35°C (without heating) and 120–150°C (with heating). The test was carried out using the Marshall method in accordance with SNI 06-2489-1991 and AASHTO T 245. The results showed that compaction at high temperatures resulted in better stability, density, and Marshall Quotient values and met Bina Marga specifications (2018). Meanwhile, compaction at low temperatures results in high flow and substandard MQ. Thus, high compaction temperatures are more suitable for highway pavement work, while low temperatures are recommended for small-scale repairs and low-traffic roads.
PENGARUH VARIASI JUMLAH TUMBUKAN PADA SUHU PEMADATAN 70˚C DAN 90˚C TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA LAPISAN ASPHALT CONCRETE - WEARING COURSE (AC-WC) (Bina Oktaria, 2025)
TINJAUAN PARAMETER MARSHALL TERHADAP BETON ASPAL DENGAN VARIASI SUHU PEMADATAN 140OC 150 OC DAN 160 OC MENGGUNAKAN ASPAL RETONA BLEND 55 (muksalmina, 2014)
KAJIAN VARIAS SUHU PENCAMPURAN DAN PEMADATAN PADA BETON ASPAL MENGGUNAKAN ASPAL RETONA BLEND 55 (Syarwan, 2025)
KINERJA CAMPURAN ASPAL EMULSI DINGIN TANPA DAN DENGAN TUNDAAN PEMADATAN (Amri Yan Sunanto, 2015)
KAJIAN PENGARUH SUHU PENCAMPURAN DAN PEMADATAN DENGAN BAHAN ADITIF LATEKS TERHADAP PARAMETER MARSHALL (BERDASARKAN BINA MARGA DAN UJI VISKOSITAS) (Muzwardi Syah Putra, 2024)