<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1705927">
 <titleInfo>
  <title>KAJIAN   EPIDEMIOLOGI  PARASIT NEMATODA GASTROINTESTINAL  PADA SAPI  DI DATARAN TINGGI DAN  DATARAN      RENDAH PROVINSI ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Zulfikar</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Veteriner</publisher>
   <dateIssued>2013</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Salah satu penyakit pada temak sapi yang sangat merugikan terhadap perkembangan   temak  adalah  infestasi  parasit  nematoda.  Kerugian  utama  akibat parasit nematoda adalah kekurusan, terhambatnya pertumbuhan, turunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit lain dan gangguan metabolisme serta memperlambat proses produksi.  Untuk   menunjang  pemenuhan  produk  panen asal hewan tidak terlepas dari   manajemen  peternakan,   baik   ta.tanan   pemeliharaan   maupun   penanganan kesehatan  sehingga bisa menentukan  peningkatan  hasil temak dan mencapai  target produksi.&#13;
Di Indonesia kerugian karena infeksi parasit nematoda pencemaan mencapai 4 milyar rupiah per tahun. Dari basil penelitian dan survei beberapa lokasi petemakan menunjukkan bahwa  80% ternak  sapi  dan  kerbau,  kambing,  domba    mengalami beberapa jenis penyakit yaitu cacing gelang (Toxocara sp, Neoascaris vitulorum sp), cacing  lambung  (Haemonchus sp, Trichostrongylus sp,  Ostertagia sp, Oesophagostomum  sp,  dan  Bunostomum sp,  Capillaria  sp)  serta  beberapa  jenis cacing lain. Faktor utama peningkatan penyebaran dan tingginya  infestasi  nematoda gastrointestinal  pada  temak  sapi  disebabkan  oleh  berbagai  faktor yaitu  topografi daerah, letak geografisnya,  kondisi lingkungan yang jelek, iklim yang tidak cocok, perbedaan  umur, populasi  yang tidak sesuai dan penanganan kesehatan  yang tidak tepat serta tingkat pengetahuan pemilik temak yang rendah.&#13;
Penelitian  ini  bertujuan  mengkaji  tentang  parasit  nematoda  gastrointestinal&#13;
pada   sapi   berdasarkan   perbedaan   topografi,   umur,  jenis  kelamin   dan   aspek pengetahuan  (knowledge),  sikap  (attitude)  dan  tindakan  (practice)  atau  disingkat KAP responden terhadap penyakit  cacing di dataran tinggi dan dataran rendah Aceh. Sebanyak  150  sampel  feses sapi dibagi  dalam 3 kelompok  umur yaitu  0-6 bulan,&#13;
7-12  bulan  dan  &gt;12  bulan.  Untuk  melihat  perbedaan  prevalensi   antar  lokasi, kelompok  umur dan jenis  kelamin  akan di analisis dengan menggunakan  uji Chi• kwadrat. Derajat infestasi  telur per gram tinja (tpgt) antar lokasi, kelompok umur dan jenis kelamin dianalisis  dengan uji T-test.  Sedangkan perbedaan persepsi  peternak terhadap penyakit cacing pada sapi akan di analisis dengan analisa deskriptif.&#13;
Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  prevalensi  parasit  nematoda gastrointestinal  pada  sapi  di dataran  tinggi  lebih  rendah  yaitu  22%  berbanding dataran rendah   sebesar 66,7%. Telur cacing yang didapat umumnya jenis  strongyl, setelah  dianalisis  dengan  Chi-kwadrat  memperlihatkan  perbedaan  nyata (P  12 bulan sebanyak  12%, cenderung  memiliki  prevalensi  yang  lebih  tinggi  pada  umur  0-6 bulan.   Setelah  di  uji Chi-kwadrat   menunjukkan  perbedaan  nyata(P12 bulan sebesar 78%. Dari analisis uji Chi-kuadrat  menunjukkan beda nyata (P0,05). Sedangkan dataran rendah&#13;
,;,     untuk jenis kelamin jantan ialah 67,8% dan untuk jenis kelamin betina ialah 65,9%,&#13;
juga terlihat  tidak  ada beda  nyata (P&gt;0,05). Prevalensi  untuk: kelompok  umur  di dataran tinggi terlihat kelompok umur 0-6 bulan jantan 20% clan betina 37,1%, untuk umur 7-12 bulan jantan  10% dan betina  25%,  sedangkan umur &gt; 12 bulan  jantan&#13;
12,2% clan betina 11,9%, terlihat pada kelompok umur 0-6 bulan dan 7-12 bulan dari basil uji chi-kwadrat ada beda nyata  (P12 bulan yang terlihat  tidak beda nyata (P&gt;0,05) antara kelompok jantan clan kelompok betina. Prevalensi  di  dataran rendah  untulc umur  0-6 bulan adalah jantan 63,1% dan betina 54,2%,untuk umur 7-12 bulanjantan 65% clan betina&#13;
66,5%, umur &gt;12 bulan jantan 76,4% dan betina 75,7%, dari basil uji cbi-kwadrat terlihat tidak beda nyata (P&gt;0,05) antar jenis kelamin di kawasan ini.&#13;
Derajat  infestasi  telur  per  gram  tinja (tpgt)  nematoda  berdasarkan  Iokasi dataran  tinggi  dan  dataran  rendah.  Telur  per  gram tinja  (Tpgt)  parasit nematoda&#13;
gastrointestinal di  dataran  tinggi  dari  33 ekor  sapi  yang  terinfeksi terdapat telur&#13;
sejumlah  13.731 butir  (rata-rata 416 telur)  dan dataran rendah  dari 100 ekor yang&#13;
terinfeksi telurnya ada sejumlah 82.165 butir (rata-rata 821 butir telur). Hasil analisis uji T ada beda nyata  (P 12 bulan ada 6 ekor yang terinfeksi dengan jumlah telur 2.000 butir (rata-rata&#13;
333 butir).  Hasil uji T umur  0-6 bulan  dengan umur 7-12 bulan tidak  beda nyata&#13;
(P&gt;0,05),  7-12 bulan  dengan  &gt;12 bulan jugatidak beda nyata  (P&gt;0,05),  umur  0-6 bulan dengan&gt;12 bulan ada beda nyata  (P   12  bulan  yang  terifeksi   38  ekor  dengan  jumlah telur  adalah&#13;
33.593  butir  (rata-rata  884 butir).  Hasil  uji T antara umur  0-6 bulan  dengan 7-12 bulan clan antara umur 7-12 bulan dengan &gt;12 bulan tidak ada beda nyata (P&gt;0,05), namun  umur  0-6 bulan dengan  &gt;12  bulan  terlihat  beda nyata  (P0,05).Untuk  dataran rendah tpgt dari 56 ekor sapi jantan yang diperiksa  ada 38 ekor terinfeksi  dengan jumlah telur&#13;
28.263 butir  (rata-rata 744 butir) dan kelamin betina dari 94 ekor di periksa, ada 62 terinfeksi jumlah 53.902 butir (rata-rata  869 butir). Setelah di analisis dengan uji T terlihat tidak ada perbedaan nyata (P&gt;0,05).&#13;
Berdasarkan  tabulasi  data persepsi  responden  tentang  penyakit  cacing  pada sapi  untuk  dataran  tinggi  sebesar  2,14.  Sedangkan  dataran  rendah  adalah  2,11.&#13;
»     Perbandingan    score   responden    dataran  tinggi   dengan   prevalensi    nematoda&#13;
gastrointestinal  menunjukkan score 2,14 dengan prevalensi 22%. Sedangkan untuk dataran rendah scorenya  2.11 sedangkan prevalensinya   adalah   66%. Dari hal ini dapat dijelaskan bahwa  walaupun prevalensi  parasit nematoda cukup tinggi sekitar&#13;
66,6% namun scorenya tidak tinggi hanya 2,11. Dibandingkan dengan dataran tinggi bias dikatakan manajemen pemeliharaan dan kesehatan dataran rendah masih kurang, ini dicerminkan dari nilai prevalensi parasit nematoda tergolong tinggi yaitu 66,6% dibandingkan dengan dataran tinggi cuma 22%.&#13;
Dapat  disimpulkan  bahwa  prevalensi    nematoda  gastrointestinal    pada  sapi dataran tinggi sebesar 22% dan dataran rendah sebesar 66,6%.  Sapi dataran tinggi umur  0-6  bulan  rentan  terhadap   infeksi   di  bandingkan umur  7-12  bulan  dan umur &gt;12  bulan.  Sedangkan dataran rendah umur &gt; 12  bulan lebih rentan terhadap infeksi  dibandingkan  umur  0- 6 bulan dan umur  7-12 bulan. Prevalensi nematoda pada sapi  di dataran tinggi berdasarkan jenis kelamin  lebih tinggi pada kelompok betina dari pada jantan yaitu 23,9% berbanding  15%. Pada dataran rendah  tidak ada perbedaan  nyata  (P&gt;0,05)  antara  jantan dengan  betina  yaitu  65,0%  berbanding&#13;
67,8%.&#13;
Untuk derajat infestasi  berdasarkan intensitas telur per gram tinja menunjukkan lebih rendah  didataran  tinggi  dibanding  dataran  rendah.Untuk  dataran  tinggi  tpgt kelompok umur menunjukkan pedet dan umur muda lebih tinggi derajat infestasi dari sapi dewasa.  Sedangkan dataran rendah untuk kelompok  umur pedet  lebih rendah infestasinya dari sapi  dewasa.  Untuk derajat  infestasi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan untuk dataran tinggi jenis kelamin betina Iebih tinggi disbanding pada jantan, sedangkan pada dataran rendah lebih tinggi jantan dari betina.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>CATTLE - ANIMAL HUSBANDRY</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>PARASITES</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>DIGESTIVE SYSTEM DISEASES - ANIMALS - VETERINARY MEDICINE</topic>
 </subject>
 <classification>636.089 63</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1705927</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-30 11:45:17</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-11-05 09:57:53</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>