<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1705877">
 <titleInfo>
  <title>IDENTITY AND GROUP MEMBERSHIP FACTORS INFLUENCING THE RELUCTANCE TO USE ACEHNESE AMONG YOUNG PEOPLE IN ACEH BESAR (A CASE STUDY IN LAMGAPANG, KRUENG BARONA JAYA DISTRICT)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>SASKIA KHAIRILLA ANNISA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas KIP Pendidikan Bahasa Inggris</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian studi kasus kualitatif ini meneliti faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pergeseran bahasa di kalangan remaja Aceh di Lamgapang, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. Dengan menggunakan wawancara semi-terstruktur terhadap dua belas partisipan berusia 14–17 tahun, penelitian ini menelaah bagaimana persepsi identitas, tekanan teman sebaya, dan norma kelompok memengaruhi preferensi bahasa. Data dianalisis menggunakan analisis tematik yang dipandu oleh kerangka analitis yang diadaptasi dari Karpava (2022) serta Cekaite dan Björk-Willén (2013), dengan pendekatan yang diinformasikan oleh teori grounded. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun para partisipan mengakui bahasa Aceh sebagai bagian integral dari warisan budaya mereka, sebagian besar lebih memprioritaskan identitas nasional dan global dibandingkan identitas etnik lokal, dengan menganggap bahasa Indonesia sebagai bahasa yang lebih modern dan bergengsi. Delapan dari dua belas partisipan menunjukkan keengganan untuk menggunakan bahasa Aceh di luar lingkungan rumah, yang didorong oleh tiga faktor utama: rasa takut terhadap penilaian negatif (dianggap kampungan atau tidak modern), keinginan untuk diterima secara sosial dalam kelompok sebaya, serta asosiasi bahasa Indonesia dengan modernitas dan komunikasi yang lebih luas. Baik tekanan teman sebaya secara eksplisit melalui ejekan maupun tekanan implisit melalui norma kelompok yang tidak tertulis terbukti berpengaruh signifikan terhadap pilihan bahasa. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun bahasa Aceh masih dihargai secara simbolis, penggunaannya secara fungsional terus menurun seiring dengan upaya remaja menyeimbangkan antara kebanggaan etnik dan penerimaan sosial. Studi ini menekankan pentingnya interaksi antara negosiasi identitas, dinamika kelompok sebaya, dan konformitas sosial dalam mempercepat pergeseran bahasa, serta menyoroti perlunya strategi revitalisasi yang responsif terhadap konteks budaya.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>SOCIAL IDENTITY</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>LANGUAGE ACQUISITION</topic>
 </subject>
 <classification>401.93</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1705877</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-30 10:14:51</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-11-19 12:18:52</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>