ANALISIS KOMPOSISI HASIL ALAT TANGKAP BUBU TANCAP DI PESISIR BERAS BASAH KABUPATEN LANGKAT, SUMATERA UTARA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS KOMPOSISI HASIL ALAT TANGKAP BUBU TANCAP DI PESISIR BERAS BASAH KABUPATEN LANGKAT, SUMATERA UTARA


Pengarang

MIFTA RIZKI MAULANA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Edy Miswar - 197908162006041003 - Dosen Pembimbing I
Ratna Mutia Aprilla - 198804222019032016 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1911103010078

Fakultas & Prodi

Fakultas Kelautan dan Perikanan / Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (S1) / PDDIKTI : 54246

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Kelautan dan Perikanan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (S1)., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

639.2

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Kabupaten Langkat, khususnya wilayah pesisir Beras Basah, memiliki potensi perikanan tangkap yang cukup besar. Sebagian besar masyarakat setempat berprofesi sebagai nelayan dengan menggunakan alat tangkap tradisional seperti bubu tancap. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unit penangkapan bubu tancap dan menganalisis komposisi hasil tangkapannya di perairan Beras Basah, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Metode yang digunakan adalah survei dan wawancara dengan teknik pengambilan sampel secara sensus terhadap 20 unit kapal penangkapan. Data diperoleh dari nahkoda dan anak buah kapal, lalu dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unit penangkapan terdiri dari kapal berukuran 0,5 GT dengan mesin jenis Yanmar dan dompeng berkekuatan 6 hingga 23 PK, serta satu ABK di setiap kapal. Alat tangkap yang digunakan adalah bubu tancap yang terbuat dari bilah bambu dan jaring, dioperasikan sejauh 2 mil dari garis pantai. Komposisi hasil tangkapan utama meliputi kepiting bakau (Scylla serrata) sebesar 52,51%, rajungan (Portunus pelagicus) sebesar 38,38%, dan udang lipan (Stomatopoda sp.) sebesar 9,11%. Kesimpulannya, bubu tancap merupakan alat tangkap yang selektif dan efektif untuk menangkap biota bernilai ekonomi tinggi secara berkelanjutan. Kata Kunci: bubu tancap, komposisi hasil tangkapan, Beras Basah, kepiting bakau,
rajungan, udang lipan.

The coastal region of Beras Basah in Langkat Regency, North Sumatra, possesses considerable potential for small-scale capture fisheries. The majority of local residents engage in fishing activities, predominantly utilizing traditional gear such as fixed bamboo traps (bubu tancap). This study aims to characterize the operational features of bubu tancap fishing units and to analyze the species composition of their catch. A field survey and structured interviews were conducted using a census method involving 20 fishing units. Data were collected from vessel captains and crew members and analyzed using descriptive and quantitative approaches. The fishing units comprised 0.5 GT vessels equipped with Yanmar and dompeng engines ranging from 6 to 23 horsepower, each operated by a single crew member. The traps, constructed from bamboo slats and netting, were deployed up to 2 nautical miles offshore. The catch composition consisted primarily of mangrove crab (Scylla serrata, 52.51%), swimming crab (Portunus pelagicus, 38.38%), and mantis shrimp (Stomatopoda sp. 9.11%). No by catch or discards were reported. The findings indicate that bubu tancap is a selective and economically viable fishing method for targeting high-value demersal species, supporting sustainable fishery practices in coastal ecosystems. Keywords: fixed bamboo trap, catch composition, Beras Basah, mangrove crab, blue swimming crab.

Citation



    SERVICES DESK