Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
AGILE GOVERNANCE PEMERINTAH KOTA SABANG DALAM PERCEPATAN PENGENTASAN KEMISKINAN EKSTREM DI KOTA SABANG
Pengarang
MUHAMMAD FARHAN DIFANI - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Wais Alqarni - 199204262019031019 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
2110104010078
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Pemerintahan (S1) / PDDIKTI : 65201
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
362.5
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan sosial yang menjadi isu secara global. Berbagai negara tidak luput dari masalah yang namanya kemiskinan, terutama di negara yang sedang berkembang, termasuk di Indonesia. Sejalan dengan kemiskinan, terdapat fenomena atau kondisi yang lebih urgent dan membutuhkan perhatian khusus terkait dengan ruang lingkup dari kemiskinan itu sendiri, yaitu kemiskinan ekstrem. Kemiskinan ekstrem adalah kondisi di mana seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia, seperti makanan, air bersih, sanitasi, kesehatan, tempat tinggal, pendidikan, dan akses terhadap informasi. Kemiskinan ekstrem tidak hanya bergantung pada pendapatan, tetapi juga pada ketersediaan layanan dan fasilitas dasar tersebut. Tingginya angka kemiskinan ekstrem di Kota Sabang yang mencapai 2,51 persen atau sebanyak 1,73 ribu jiwa pada tahun 2024/2025, menempatkan Kota Sabang sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan ekstrem tertinggi dari Kab/Kota lainnya di Provinsi Aceh. Tujuan dari penelitian dalam skripsi ini yaitu untuk menganalisis agile governance yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Sabang terhadap pemberdayaan masyarakat dalam percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem di Kota Sabang, serta untuk mengetahui apa saja faktor penghambat yang melatarbelakanginya. Teori yang digunakan adalah Teori Pemberdayaan Masyarakat yang dikemukakan oleh Jeffrey Sachs (2005), beserta dengan konsep Agile Governance yang dikemukakan oleh Luna et., al (2015). Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa, pengentasan kemiskinan ekstrem di Kota Sabang masih belum berjalan dengan maksimal. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan masih terdapatnya beberapa hambatan yang signifikan dalam proses penerapan kebijakan maupun program pengentasan kemiskinan ekstrem. Saran yang dapat diberikan yaitu, diharapkan kepada Pemerintah Kota Sabang untuk terus menjaga komitmen dan memperkuat penerapan prinsip agile governance secara konsisten dalam setiap tahapan program pengentasan kemiskinan ekstrem. Kemudian, diharapkan kepada masyarakat miskin ekstrem di Kota Sabang agar dapat mengubah pola pikir dari yang pasif dan cenderung terus menerus berketergantungan, untuk menjadi lebih aktif dan mandiri dalam memanfaatkan program-program pemberdayaan yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Sabang.
Kata Kunci: Kemiskinan Ekstrem, Agile Governance, Pemberdayaan Masyarakat, Kota Sabang.
Poverty is one of the social problems that is a global issue. Poverty is a problem for various countries, especially in developing countries, including Indonesia. Consistent with poverty, there is a more urgent phenomenon or condition and urgent attention linked to the scope of poverty itself, extreme poverty. Extreme poverty is a condition in which a person is unable to meet basic human needs, such as food, clean water, sanitation, health, housing, education, and access to information. Extreme poverty depends not only on income but also on availability of such basic services and facilities. The high level of extreme poverty in the City of Sabang, which reached 2.51 percent or 1.73 thousand by 2024/2025, placed Sabang City as the highest extreme poverty rate of all other cities in the Province of Aceh. The objective of the research in the thesis is to analyze agile governance by the Sabang City Government towards empowering societies in an acceleration to reduce extreme poverty in the City of Sabang, as well as to determine the underlying factors. The theory of empowerment presented by Jeffrey Sachs (2005), along with the Agile Governance concept presented by Luna et., al (2015). The method used is a qualitative method with a descriptive approach. Research has shown that the reduction of extreme poverty in the City of Sabang is not working at a maximum. This can be proved by several significant obstacles to both the application of policies and programs for extreme poverty. The advice can be made is, it is expected for the Sabang City Government to maintain commitment and consistently apply the agile governance principle in every phase of an extreme poverty reduction program. Then, it is expected that extreme communities in the City of Sabang can change the mindset of passive and perpetually dependent, to become more active and independent in leveraging the empowering programs adopted by the Sabang City Government. Keyword: Extreme Poverty, Agile Governace, Empowerment, Sabang City.
THE EFFECT OF GOVERNMENT EXPENDITURE AND ECONOMIC GROWTH ON POVERTY REDUCTION IN INDONESIA (TAUFAN IDI WIDAYAT, 2025)
PEMERATAAN SOSIAL DALAM PENGETASAN KEMISKINAN MASYARAKAT DI GAMPONG PALOH KECAMATAN PULO ACEH (Rahmat Jadnika Sidqi, 2019)
STUDI DAN ANALISA SPASIAL DATA KEMISKINAN DI PROVINSI ACEH (Multazam, 2016)
PENGARUH JUMLAH PDRB DAN TINGKAT KEMISKINAN TERHADAP APBK KOTA BANDA ACEH (Muhammad Alkindi, 2018)
KEBIJAKAN PEMERINTAH ACEH DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT (STUDI ANALISIS PROGRAM PEMERINTAH ACEH TAHUN 2012-2017) (IHDAL HUSNAYAIN, 2019)