Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
RUANG DAN POLITIK DALAM MEDIA SOSIAL TIKTOK MEMBENTUK PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP FENOMENA VICTIM BLAMING
Pengarang
NATASYA AZAHRA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Faradilla Fadlia - 198410012014042001 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
2110103010069
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Politik (S1) / PDDIKTI : 67201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala., 2025
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Fenomena victim blaming dalam kasus kekerasan seksual merupakan isu yang kompleks dan sarat dengan dimensi sosial-politik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana ruang dan dinamika politik di media sosial TikTok membentuk pandangan masyarakat terhadap fenomena victim blaming. Dalam konteks ini, TikTok tidak hanya dipandang sebagai platform hiburan tetapi juga sebagai ruang publik digital yang menjadi arena pertarungan narasi dan kekuasaan sosial-politik antara budaya patriarki dan gerakan keadilan gender. Secara sosial, TikTok menjadi wadah interaksi yang menampilkan berbagai pandangan masyarakat melalui komentar, konten dan opini publik yang mencerminkan nilai- nilai patriarki serta stigma terhadap korban. Sementara secara politik, TikTok memperlihatkan adanya kekuasaan simbolik dan politik representasi yang dikendalikan oleh algoritma, akun media populer dan influencer sehingga ruang digital ini berfungsi sebagai arena politik diskursif tempat berbagai pihak saling memperebutkan makna tentang keadilan dan kekerasan seksual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori ruang publik Jurgen Habermas sebagai landasan teoritis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, wawancara mendalam dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial di TikTok memperlihatkan dualisme narasi antara dukungan terhadap korban dan penyudutan terhadap korban. Narasi victim blaming tumbuh subur karena algoritma yang mendorong konten sensasional dan diperkuat oleh nilai budaya patriarki serta lemahnya regulasi digital. Akun-akun media populer berperan sebagai aktor politik non-formal yang membentuk opini publik melalui praktik framing yang bias dan patriarkal, sedangkan aktor seperti Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) serta akademisi menunjukkan upaya edukatif dan resistensi melalui literasi gender. Penelitian ini menegaskan bahwa media sosial merupakan ruang sosial-politik yang tidak netral, melainkan arena kekuasaan simbolik yang turut membentuk cara masyarakat memahami kekerasan dan keadilan terhadap korban.
Kata Kunci: Victim Blaming, TikTok, Politik Gender
The phenomenon of victim blaming in cases of sexual violence is a complex issue intertwined with social and political dimensions. This study aims to analyze how space and political dynamics on the social media platform TikTok shape public perceptions of victim blaming. In this context, TikTok is not merely viewed as an entertainment platform but as a digital public sphere that serves as an arena of narrative and socio-political power contestation between patriarchal culture and gender justice movements. Socially, TikTok functions as an interactive space where various public opinions emerge through comments, content and discussions that reflect patriarchal values and stigmatization of victims. Politically, TikTok demonstrates symbolic power and politics of representation, controlled by algorithms, popular media accounts and influencers, making the digital sphere a discursive political arena where competing meanings of justice and sexual violence are continuously negotiated. This study employs a descriptive qualitative approach using Jurgen Habermas’s theory of the public sphere as its theoretical foundation. Data collection techniques include observation, documentation, in-depth interviews, and literature study. The results indicate that social interactions on TikTok reveal a dual narrative: support for victims on one hand and victim-blaming tendencies on the other. Victim blaming narratives thrive due to algorithmic amplification of sensational content, the influence of patriarchal culture, and weak digital regulation. Popular media accounts act as non-formal political actors that shape public opinion through biased and patriarchal framing, while institutions such as the Center for Gender and Child Studies (PSGA) and academics engage in educational resistance through gender literacy. This study concludes that social media functions as a non-neutral socio-political space, an arena of symbolic power that shapes public understanding of violence and justice for victims. Keywords: Victim Blaming, TikTok, Gender Politics
FENOMENA VICTIM BLAMING PADA PEREMPUAN KORBAN TINDAK KEKERASAN (ANALISIS TERHADAP PENURUNAN LAPORAN KASUS KEKERASAN PEREMPUAN KOTA BANDA ACEH TAHUN 2020) (ARIS MUNANDAR, 2023)
PERBEDAAN PARTISIPASI POLITIK MAHASISWA USK YANG MENGUNAKAN MEDIA SOSIAL TIKTOK DAN INSTAGRAM (Yusuf Habibi, 2025)
PENGARUH POLITIK IDENTITAS ANIES BASWEDAN DI MEDIA SOSIAL TERHADAP PERILAKU MEMILIH GEN Z PADA PEMILIHAN CALON PRESIDEN TAHUN 2024 DI KOTA BANDA ACEH (NURMALISA, 2025)
MEDIA SOSIAL DAN PREFERENSI POLITIK PEMILIH PEMULA DI GAMPONG BEURAWE KOTA BANDA ACEH (RAYSA ZILVA NABILA, 2025)
PENGARUH AKUN MEDIA SOSIAL TIKTOK PARTAI NASDEM (NASIONAL DEMOKRAT) TERHADAP CITRA POLITIK PARTAI NASDEM ACEH PADA MAHASISWA UNIVERSITAS SYIAH KUALA (AULIA AKBAR, 2024)