<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1705593">
 <titleInfo>
  <title>RUANG DAN POLITIK DALAM MEDIA SOSIAL TIKTOK MEMBENTUK PANDANGAN  MASYARAKAT TERHADAP FENOMENA VICTIM BLAMING</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>NATASYA AZAHRA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Fenomena victim blaming dalam kasus kekerasan seksual merupakan isu yang kompleks dan sarat dengan dimensi sosial-politik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana ruang dan dinamika politik di media sosial TikTok membentuk pandangan masyarakat terhadap fenomena victim blaming. Dalam konteks ini, TikTok tidak hanya dipandang sebagai platform hiburan tetapi juga sebagai ruang publik digital yang menjadi arena pertarungan narasi dan kekuasaan sosial-politik antara budaya patriarki dan gerakan keadilan gender. Secara sosial, TikTok menjadi wadah interaksi yang menampilkan berbagai pandangan masyarakat melalui komentar, konten dan opini publik yang mencerminkan nilai- nilai patriarki serta stigma terhadap korban. Sementara secara politik, TikTok memperlihatkan adanya kekuasaan simbolik dan politik representasi yang dikendalikan oleh algoritma, akun media populer dan influencer sehingga ruang digital ini berfungsi sebagai arena politik diskursif tempat berbagai pihak saling memperebutkan makna tentang keadilan dan kekerasan seksual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori ruang publik Jurgen Habermas sebagai landasan teoritis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, wawancara mendalam dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial di TikTok memperlihatkan dualisme narasi antara dukungan terhadap korban dan penyudutan terhadap korban. Narasi victim blaming tumbuh subur karena algoritma yang mendorong konten sensasional dan diperkuat oleh nilai budaya patriarki serta lemahnya regulasi digital. Akun-akun media populer berperan sebagai aktor politik non-formal yang membentuk opini publik melalui praktik framing yang bias dan patriarkal, sedangkan aktor seperti Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) serta akademisi menunjukkan upaya edukatif dan resistensi melalui literasi gender. Penelitian ini menegaskan bahwa media sosial merupakan ruang sosial-politik yang tidak netral, melainkan arena kekuasaan simbolik yang turut membentuk cara masyarakat memahami kekerasan dan keadilan terhadap korban.&#13;
Kata Kunci: Victim Blaming, TikTok, Politik Gender&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1705593</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-28 20:31:10</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-29 09:27:04</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>