<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1705425">
 <titleInfo>
  <title>KARAKTERISTIK TERMAL BATU BATA LOKAL PADA PROSES PEMANASAN DAN PENDINGINAN</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Athira Alya Putri</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas mipa</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Perubahan iklim global menyebabkan peningkatan suhu udara yang berdampak pada kenyamanan termal bangunan. Penelitian ini bertujuan menganalisis sifat termal batu bata lokal dari berbagai daerah di Aceh untuk menentukan material yang optimal dalam menjaga kestabilan suhu ruangan. Sampel batu bata diambil dari tujuh lokasi: Takengon, Krueng Geukueh, Meulaboh, Lamreung, Lampeudaya, Jantho 1, dan Jantho 2, dengan tiga variasi ketebalan (1 cm, 2 cm, dan 4 cm). Pengujian meliputi konduktivitas termal menggunakan metode steady-state, serta kapasitas kalor dan kalor jenis melalui metode pemanasan langsung dengan hair dryer. Hasil penelitian menunjukkan konduktivitas termal berkisar 0,2399–0,2772 W/m°C, dengan nilai terendah pada Lamreung (0,2399 W/m°C) dan tertinggi pada Lampeudaya (0,2772 W/m°C). Kapasitas kalor pada ketebalan 1 cm berkisar 843,8–1138,3 J/°C, ketebalan 2 cm berkisar 813,6–1078,5 J/°C, dan ketebalan 4 cm berkisar 883,9–1147,1 J/°C. Kalor jenis pada ketebalan 1 cm berada pada rentang 2987,9–5749,1 J/kg°C, ketebalan 2 cm pada rentang 2021,3–2932,3 J/kg°C, dan ketebalan 4 cm pada rentang 685,7–1019,5 J/kg°C. Batu bata Takengon menunjukkan sifat termal terbaik dengan kalor jenis tertinggi (5749,1 J/kg°C pada ketebalan 1 cm) dan konduktivitas rendah (0,2483 W/m°C), menjadikannya paling efektif sebagai thermal mass. Pengamatan mikroskopis menunjukkan tanah liat halus dan rapat menghasilkan kapasitas kalor tinggi dengan konduktivitas rendah, sedangkan tanah berpasir menghasilkan sebaliknya. Peningkatan ketebalan sampel menyebabkan penurunan kalor jenis efektif akibat distribusi panas yang tidak merata. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemilihan material bangunan yang tepat untuk iklim tropis guna meningkatkan efisiensi energi dan kenyamanan termal.&#13;
Kata kunci: batu bata lokal, sifat termal, konduktivitas termal, kapasitas kalor, kalor jenis, efisiensi energi bangunan&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1705425</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-28 11:39:34</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-28 11:42:41</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>