<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1705371">
 <titleInfo>
  <title>PENGEMBANGAN MODEL INTEGRASI SUMBER ENERGI TERBARUKAN DENGAN TEKNOLOGI EKSISTING</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Munawir</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Doktor Ilmu Teknik (S3)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, memetakan, dan menganalisis potensi sumber daya energi baru dan terbarukan (EBT) di Provinsi Aceh serta merumuskan model pengembangan energi berkelanjutan berbasis potensi lokal dan kemajuan teknologi. Metode penelitian menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk pemetaan spasial potensi energi, simulasi teknis dan ekonomi dengan perangkat lunak HOMER Pro, serta penerapan machine learning berbasis Artificial Neural Network (ANN) untuk prediksi kebutuhan energi dan pemilihan teknologi konversi yang optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Provinsi Aceh memiliki potensi EBT yang sangat beragam, meliputi biomassa sebesar ±1,5 GW (500 MW layak dikembangkan secara ekonomi), tenaga air ±1.500 MW, mikrohidro ±200 MW, tenaga surya ±7.881 MW, tenaga angin ±160 MW, dan panas bumi ±200 MW. Hasil simulasi sistem energi hibrida (PLTS–angin–mikrohidro–biomassa) menunjukkan biaya energi (Levelized Cost of Energy / LCOE) berkisar antara USD 0,09–0,13/kWh, dengan kontribusi energi terbarukan mencapai lebih dari 80% dari total bauran energi serta potensi pengurangan emisi karbon sekitar 1,2 juta ton CO₂ per tahun. Dari sisi ekonomi, analisis kelayakan menunjukkan nilai Net Present Value (NPV) positif, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 38%, dan periode pengembalian modal kurang dari lima tahun. Tantangan utama pengembangan EBT di Aceh meliputi keterbatasan infrastruktur, teknologi penyimpanan energi, kapasitas SDM, serta dinamika kebijakan dan kompleksitas regulasi. Namun demikian, peluang besar muncul melalui skema pendanaan hijau, kemitraan publik–swasta, dan penerapan teknologi digital. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan EBT di Aceh layak secara teknis, ekonomis, dan sosial-lingkungan serta berpotensi menjadikan Aceh sebagai model provinsi energi terbarukan berkelanjutan di Indonesia bagian barat.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1705371</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-28 09:09:29</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-28 09:43:34</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>