<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1705171">
 <titleInfo>
  <title>PRODUKSI TEPUNG TULANG IKAN DAN POTENSINYA SEBAGAI FORTIFIKAN PADA ROTI TAWAR NON GLUTEN DENGAN PENAMBAHAN BUBUK BAWANG PUTIH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Suhaila Naily Muna</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Magister Teknologi Industri Pertanian Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued></dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Pengolahan tulang ikan menjadi tepung tulang ikan dapat meningkatkan nilai produk&#13;
tersebut dan menjadi produk sumber kalsium. Namun, setiap tulang ikan memiliki kadar (Ca)&#13;
yang berbeda dan proses pengolahannya juga dapat mempengaruhi komponennya. Oleh karena&#13;
itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan suhu pengeringan tulang ikan&#13;
terhadap sifat fisikokimia tulang ikan. Hasil perlakuan terbaik akan difortifikasi pada roti tawar&#13;
non gluten dengan penambahan jenis bubuk bawang untuk meningkatkan sifat fungsional&#13;
produk, kemudian akan dianalisis pengaruh konsentrasi fortifikasi tepung tulang ikan dan&#13;
penambahan jenis bubuk bawang terhadap sifat organoleptik dan fisik roti tawar non gluten.&#13;
Penelitian ini terdiri dari dua tahap, tahap pertama ialah pembuatan tepung tulang ikan&#13;
dengan 2 faktor yaitu jenis tulang ikan (tulang ikan tuna, tulang ikan parang-parang, dan tulang&#13;
ikan tenggiri) dan suhu pengeringan (90C dan 110C). Tepung tulang ikan kemudian dianalisis&#13;
kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar serat kasar, kadar karbohidrat, rendemen,&#13;
warna, kadar kalsium, dan analisis perlakuan terbaik. Tepung tulang ikan terbaik dilanjutkan&#13;
sebagai fortifikan pada tahap kedua. Tahap kedua ialah produksi roti tawar non gluten terdiri&#13;
dari 2 faktor yaitu konsentrasi fortifikasi tepung tulang ikan (2,5%, 5%, dan 7,5%) serta jenis&#13;
penambahan bubuk bawang (bubuk bawang putih dan bubuk bawang hitam). Metode yang&#13;
digunakan untuk kedua tahap ialah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang memiliki 6 kombinasi&#13;
perlakuan serta 3 kali pengulangan sehingga dihasilkan 18 satuan percobaan. Analisis roti tawar&#13;
non gluten meliputi uji organoleptik, volume pengembangan, porositas roti, dan analisis&#13;
perlakuan terbaik. Perlakuan terbaik roti tawar non gluten dilakukan analisis proksimat, kadar&#13;
kalsium, serta total fenol.&#13;
Penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa jenis tulang ikan secara signifikan&#13;
mempengaruhi kadar air tertinggi dihasilkan oleh tulang ikan tuna dan paling tinggi oleh tulang&#13;
ikan tenggiri, kadar abu tertingi dihasilkan oleh ikan parang-parang dan paling rendah oleh ikan&#13;
tuna, protein paling tinggi oleh ikan parang-parang dan paling rendah oleh ikan tenggiri, serat&#13;
kasar paling tinggi oleh ikan tuna dan paling rendah oleh ikan tenggiri, karbohidrat paling tinggi&#13;
oleh ikan tenggiri dan paling rendah oleh tulang ikan parang-parang, dan kalsium. Selain itu,&#13;
suhu pengeringan juga berpengaruh terhadap penurunan kadar air, peningkatan protein, dan&#13;
peningkatan serat kasar. Interaksi jenis tulang ikan dan suhu pengeringan mempengaruhi kadar&#13;
lemak dan kadar kalsium. Berdasarkan uji efektivitas metode de Garmo, perlakuan terbaik&#13;
diperoleh dari T2S2 (tulang ikan parang-parang pada suhu 110°C) dengan karakteristik kimia&#13;
yaitu kadar air 3,84%, kadar abu 62,67%, kadar lemak 2,46%, kadar protein 23,21%, kadar serat&#13;
kasar 26,29%, kadar karbohidrat 7,81%, kadar kalsium 229,32 mg/L.&#13;
Tahap kedua ialah fortifikasi tepung tulang ikan, ditemukan bahwa penambahan jenis&#13;
bubuk bawang memberikan pengaruh terhadap uji hedonik yaitu menurunkan nilai hedonik&#13;
warna, aroma, rasa, dan keseluruhan produk serta konsentrasi fortifikasi mempengaruhi&#13;
penurunan nilai hedonik keseluruhan. Interaksi konsentrasi fortifikasi dan jenis bubuk bawang&#13;
mempengaruhi nilai hedonik tekstur. Hasil uji efektivitas de Garmo menunjukkan bahwa&#13;
perlakuan fortifikasi 7,5% tepung tulang ikan dan penambahan bubuk bawang putih adalah yang&#13;
terbaik. Karakteristik perlakuan terbaik ini menunjukkan kadar air 41,17 ± 0,77, kadar abu 3,02&#13;
± 0,21, kadar lemak 8,81 ± 0,93, kadar serat kasar 0,68 ± 0,16, kadar protein 6,76 ± 0,45, kadar&#13;
karbohidrat 40,24 ± 1,71, dan kadar kalsium 72,16 ± 3,93 mg/L.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1705171</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-27 13:32:04</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-27 15:12:02</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>