<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1704839">
 <titleInfo>
  <title>RESPON PERTUMBUHAN SERTA SERAPAN HARA FOSFOR DAN KALIUM TANAMAN KEDELAI EDAMAME (GLYCINE MAX (L.) MERRILL) AKIBAT PEMBERIAN PUPUK PADA ENTISOL DATARAN RENDAH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>SELLINA AFRILIA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued></dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tanaman kedelai edamame (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu komoditas pangan yang penting sebagai sumber protein nabati yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Kacang ini kaya akan protein, serat, vitamin, dan mineral yang penting untuk tubuh. Di Indonesia, kedelai edamame ini didatangkan dari negara Jepang yang biasanya dikonsumsi dalam bentuk biji muda atau polong segar yang dikonsumsi sebagai sayuran. Produktivitas kedelai edamame ini masih rendah terutama jika ditanam pada lahan marginal atau tanah lainnya yang miskin unsur hara. Salah satu ordo tanah yang berpotensi dikembangkan kedalai edamame adalah Entisol. Sebagian besar tanah ini terbentuk di wilayah zona dataran rendah dengan tingkat kesuburan tanah yang bervariasi tergantung dari bahan induk pembentukannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: respon pertumbuhan serta serapan fosfor dan kalium tanaman kedelai edamame terhadap pemberian hara (pupuk) pada Entisol dataran rendah menggunakan teknik percobaan omisi.&#13;
Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh, pada Juni hingga September 2024. Metode yang digunakan adalah percobaan pot di rumah plastik dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor yang terdiri atas delapan perlakuan pupuk yang disusun menggunakan teknik substraksi (omission trials), yaitu perlakuan pemberian hara (pupuk) lengkap N, P, K, Ca, Mg, S dan perlakuan-perlakuan yang dikurangi salah satu unsur, serta kontrol tanpa pupuk. Setiap perlakuan diulang tiga kali, sehingga diperoleh 24 satuan percobaan. Parameter yang diukur meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 14, 28, dan 42 hari setelah tanam (HST), konsentrasi dan serapan hara P dan K dalam daun, bobot kering tanaman atas, serta perhitungan serapan dan kebutuhan P dan K per hektar. Analisis jaringan tanaman (daun) dilakukan di Laboratorium Penelitian Tanah dan Tanaman Universitas Syiah Kuala. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 14, 28, dan 42 HST secara umum tidak dipengaruhi oleh perlakuan pemberian hara secara omisi, tetapi terdapat kecenderungan bahwa perlakuan hara lengkap (PL) menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering tanaman atas, dan serapan hara lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pemberian pupuk dan perlakuan omisi atau dikurangi salah satu unsur hara. Serapan fosfor (P) tertinggi sebesar 8,4 kg P ha-¹ (setara 53,9 kg SP-36 ha-¹) diperoleh pada perlakuan hara lengkap (PL), pemberian hara lengkap tanpa Ca (P-Ca), dan perlakuan hara lengkap tanpa Mg (P-Mg), sedangkan serapan kalium (K) tertinggi sebesar 41,2 kg K ha-¹ (124,97 kg KCl ha-¹) terdapat pada perlakuan P-Mg. &#13;
Berdasarkan estimasi serapan P dan K, maka tanaman kedelai edamame tersebut masih membutuhkan penambahan pupuk P sebesar 46,1 kg ha-¹ SP-36 agar diperoleh pertumbuhan dan hasil yang optimal, sedangkan untuk pupuk K tidak diperlukan lagi karena sudah mencukupi rekomendasi Kementerian Pertanian yaitu: 100 kg ha-¹ SP-36 dan 75 kg ha-¹ KCl.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1704839</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-24 14:57:08</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-24 16:03:45</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>