EFEK PEMBERIAN EKSTRAK PITUITARI SAPI TERHADAP PENINGKATAN JUMLAH FOLIKEL OVARIUM DAN KONSENTRASI ESTRADIOL PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK PITUITARI SAPI TERHADAP PENINGKATAN JUMLAH FOLIKEL OVARIUM DAN KONSENTRASI ESTRADIOL PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS)


Pengarang

Indah kesuma siregar - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1109200120006

Fakultas & Prodi

Fakultas Kedokteran Hewan / Kesehatan Masyarakat Veterenir (S2) / PDDIKTI : 54162

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Veteriner.,

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Superovulasi merupakan salah satu upaya merangsang pertumbuhan dan perkembangan folikel-folikel pada ovarium menjadi folikel-folikel yang siap ovulasi dan jumlahnya lebih banyak dari nominal. Terbatasnya jumlah folikel yang mengalami ovulasi pada setiap siklus estrus pada hewan disebabkan terbatasnya jumlah hormon gonadotropin yang disekresikan oleh pituitari anterior. Hormon gonadotropin yang dimaksud adalah hormon FSH yang bertanggungjawab untuk inisiasi dan perkembangan folikel yang akan ovulasi. Hermon yang paling sering digunakan untuk tujuan superovulasi adalah pregnant mare's serum gonadotropin (PMSG) dan follicle stimulating hormone (FSH).
Pituitari sapi merupakan limbah Rumah Potong Hewan (RPH) yang
mengandung hormon-hormon gonadotropin. Indikator untuk mengukur keberhasilan pemberian ekstrak pituitari sapi kepada hewan selama ini dilakukan dengan mengobservasi gejala klinis, jumlah embrio, dan jumlah anak per kelahiran. Observasi yang lebih mendalam perlu dilakukan dengan melihat aktivitas peningkatan folikulogenesis secara mikroskopis dan pengukuran kadar hormon estradiol.
Dalam penelitian ini digunakan 10 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) betina
dewasa, galur wistar, berumur 3-4 bulan dengan bobot badan antara 200-250 g yang dibagi atas 2 kelompok. Pada kelompok kontrol, tikus diinjeksi dengan hormon PMSG (PG 600, Intervet, Boxmeer, Holland) 5 IU secara intraperitoneal. Pada kelompok perlakuan, tikus diinjeksi dengan ekstrak pituitari secara intraperitoneal selama 3 hari yakni 1,0; 0,5; dan 0,3 ml. Empat hari setelah perlakuan awal, sampel darah dikoleksi langsung dari jantung untuk pemeriksaan konsentrasi estradiol, kemudian tikus-tikus tersebut dikorbankan dengan cara dislokasio cervicalis untuk pemeriksaan mikroskopis ovarium. Penghitungan terhadap jumlah folikel dilakukan dengan menggunakan rnikroskop cahaya. Penghitungan konsentrasi estradiol darah dilakukan dengan teknik enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Data jumlah folikel dan konsentrasi estradiol dianalisis menggunakan uji T.
Jumlah folikel primer, sekunder, tertier, dan CL pada kelompok PMSG vs ekstrak piututari masing-masing adalah 3,0±1,58 vs 4,413,97; 5,411,52 vs 6,413,91; dan 9,254,32 vs 4,413,51 sedangkan konsentrasi estradiol pada kelompok PMSG vs ekstrak pituitari adalah 62,4±12,9 vs 58,8±11,8 pg/ml. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan jumlah folikel pada setiap kategori dan konsentrasi estradiol, namun peningkatan tersebut secara statistik tidak berbeda (P>0,05

Kata kunci : pituitari, PMSG, folikel, estradiol, tikus putih (Rattus norvegicus)


Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK