Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
FRAUD HEXAGON IN FINANCIAL REPORTING: CASE STUDY OF THE STRONGEST ISLAMIC BANKS LISTED IN THE ASIAN BANKER 2024
Pengarang
PUTRI SARA AMALIA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Ratna Mulyany - 198202282015042003 - Dosen Pembimbing I
Fauziah Aidafitri - 196103171988112001 - Dosen Pembimbing II
Rahmawaty - 198005102008122001 - Penguji
Gamal Batara - 199401312020121002 - Penguji
Dinaroe - 198606052015041002 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2101103010085
Fakultas & Prodi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis / Akuntansi (S1) / PDDIKTI : 62201
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Ekonomi dan Bisnis., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
657.3
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Penelitian ini mengkaji penerapan Teori Fraud Hexagon dalam mendeteksi
laporan keuangan curang pada bank-bank syariah terkuat di dunia yang tercantum
dalam daftar The Asian Banker tahun 2024. Meskipun berlandaskan pada prinsipprinsip Islam, lembaga keuangan syariah tetap rentan terhadap kecurangan,
sehingga diperlukan kerangka kerja yang kuat untuk mendeteksinya. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis pengaruh enam elemen, yaitu tekanan (pressure),
rasionalisasi (rationalization), peluang (opportunity), kapabilitas (capability),
arogansi (arrogance), dan kolusi (collusion) terhadap kecurangan pelaporan
keuangan, dengan menggunakan masing-masing proksi: leverage, rasio akrual
total, pengawasan yang tidak efektif, pergantian direktur, dualitas CEO, dan proyek
publik-swasta. Dengan pendekatan kuantitatif, penelitian ini menggunakan data
sekunder yang diperoleh dari 213 laporan tahunan yang mencakup 71 bank syariah
selama periode 2021 hingga 2023. Analisis data dilakukan menggunakan regresi
linear berganda, dengan pengukuran laporan keuangan curang berdasarkan model
F-score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat variabel, yaitu leverage
(tekanan), rasio akrual total (rasionalisasi), pergantian direktur (kapabilitas), dan
proyek publik-swasta (kolusi), berpengaruh signifikan terhadap kemungkinan
terjadinya kecurangan pelaporan keuangan. Sementara itu, pengawasan yang
tidak efektif (peluang) dan dualitas CEO (arogansi) tidak menunjukkan pengaruh
yang signifikan secara statistik. Temuan ini menegaskan relevansi Teori Fraud
Hexagon dalam konteks perbankan syariah, meskipun tidak semua komponen
secara merata mampu memprediksi risiko kecurangan. Studi ini menekankan
pentingnya peningkatan mekanisme tata kelola dan pengendalian internal pada
lembaga keuangan syariah untuk mengurangi kerentanan terhadap faktor-faktor
kompleks yang memicu kecurangan. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa
lembaga pengatur dan pemangku kepentingan perlu mengintegrasikan strategi
deteksi kecurangan yang multidimensional dan disesuaikan dengan karakteristik
operasional unik dari bank syariah.
Kata kunci: Fraud Hexagon, Laporan Keuangan Curang, Bank Syariah.
This study investigates the applicability of the Fraud Hexagon Theory in detecting fraudulent financial statements among the world's strongest Islamic banks listed by The Asian Banker in 2024. Despite adherence to Islamic principles, Islamic financial institutions remain susceptible to fraud, necessitating robust frameworks for detection. This research aims to analyze the influence of six elements which is pressure, rationalization, opportunity, capability, arrogance, and collusion on financial reporting fraud, using their respective proxies: leverage, total accrual ratio, monitoring effectiveness, change in director, CEO duality, and public-private project. Employing a quantitative approach, the study utilized secondary data derived from 213 annual reports covering 71 Islamic banks from 2021 to 2023. Data analysis was conducted using multiple linear regression, with fraudulent financial statements measured via the F-score model. The results indicate that four variables, leverage (pressure), total accrual ratio (rationalization), change in director (capability), and public-private project (collusion), significantly affect the likelihood of fraudulent financial reporting. Meanwhile, monitoring effectiveness (opportunity) and CEO duality (arrogance) do not show a statistically significant influence. These findings confirm the relevance of the Fraud Hexagon Theory in the Islamic banking context, although not all components equally predict fraud risk. The study underscores the importance of enhancing governance mechanisms and internal controls in Islamic financial institutions to mitigate vulnerabilities associated with complex fraud drivers. The implications suggest that regulatory bodies and stakeholders should integrate multidimensional fraud detection strategies tailored to the unique operational environment of Islamic banks. Keyword: Fraud Hexagon, Fraudulent Financial Statement, Islamic Banks
PENGARUH KESESUAIAN KOMPENSASI, PENERAPAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI, DAN EFEKTIFITAS PENGENDALIAN INTERNAL TERHADAP KECURANGAN AKUNTANSI STUDI PADA BPR DI KOTA BANDA ACEH (Ryan Muhammad, 2017)
PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PELAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH (STUDI PADA MAHASISWA JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SYIAH KUALA) (m. chalis, 2016)
THE EFFECT OF RELATED-PARTY TRANSACTION, PROFITABILITY, LEVERAGE, AND EXECUTIVE EQUITY INCENTIVES ON THE OCCURRENCE OF ACCOUNTING IRREGULARITIES (AN EMPIRICAL STUDY ON NON-FINANCIAL COMPANIES LISTED ON IDX YEAR 2012-2014) (Cut Chaira Ashdiqa, 2016)
THE IMPACT OF CORPORATE SUSTAINABILITY AND DIGITALIZATION ON NATIONAL BANK'S PERFORMANCE (PUTRI ZIDNI AYU MEUTHIA, 2022)
COMPARATIVE PERFORMANCE OF FINANCIAL MEASUREMENT, BUSINESS DEVELOPMENT AND TREND ANALYSIS OF ISLAMIC AND CONVENTIONAL BANKS IN INDONESIA DURING AND AFTER GLOBAL FINANCIAL CRISIS PERIOD OF 2007-2014: A COMPARATIVE ANALYSIS (Muhammad Khaidir, 2016)