<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1704175">
 <titleInfo>
  <title>PEMETAAN GEOLOGI DAN ANALISIS TINGKAT KERENTANAN AIRTANAH TERHADAP PENCEMARAN MENGGUNAKAN METODE SIMPLE VERTICAL VULNERABILITY (SVV) PADA KECAMATAN BABAHROT, KABUPATEN ACEH BARAT DAYA, PROVINSI ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>RIFA MUTIA RIZKI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Lokasi penelitian terletak di Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh. Secara geografis, lokasi penelitian terletak pada koordinat 3o51’2,72” – 3o53’44,86” LU dan 96o40’38,79” – 96o43’2,96” BT dengan luasan 5x5 km2. Berdasarkan peta geologi regional lembar tapaktuan, sumatra lokasi penelitian tersusun atas 3 Formasi batuan dan 1 endapan alluvium, yaitu Formasi Babahrot (Muba), Formasi Meurah Buya (Tmm), Formasi Meulaboh (Qpm), dan Endapan aluvium fluviatil dan pantai (Qh). Sebagian besar lokasi penelitian terdiri dari endapan yang dimanfaatkan oleh warga untuk perkebunan sawit. Oleh sebab itu maka memerlukan penggunaan pupuk dan bahan kimia seperti peptisida dan herbisida dalam jumlah yang banyak. Bahan kimia yang digunakan dapat meresap kedalam tanah dan mencemari airtanah. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai pemetaan geologi, analisis kerentanan airtanah, dan analisis kualitas airtanah, dikarenakan ketiga data yang didapatkan tersebut akan disesuaikan, seperti jenis endapan yang didapatan pada saat pemetaan geologi dapat menunjukkan seberapa efektif lapisan tersebut untuk melindungi airtanah dari zat pencemar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi dan geomorfologi terbaru lokasi penelitian, untuk mengetahui kondisi hidrogeologi dan tingkat kerentanan airtanah terhadap pencemaran berdasarkan metode SVV, serta untuk mengetahui kualitas airtanah di lokasi penelitian berdasarkan sifat fisik dan kimia airtanah. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu pemetaan geologi, analisis petrografi, analisis resistivitas, analisis kerentanan airtanah berdasarkan metode SVV dan analisis kualitas airtanah berdasarkan sifat fisik dan kimia airtanah. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu terdapat 2 satuan batuan dan 3 satuan endapan, yaitu satuan batu andesit Babahrot (Muba), satuan batupasir karbonatan Meurah Buya (Tmms), satuan endapan lanau Meulaboh (Qpms), satuan endapan pasir aluvium (Qhs), dan satuan endapan kerikil kerakal aluvium (Qhg). Kondisi geomorfologi di lokasi penelitian terdiri dari 5 bentuklahan, yaitu bentuklahan asal struktural (S3), bentuklahan asal denudasional (D1), bentuklahan asal denudasional (D5), bentuklahan asal fluvial (F1), dan bentuklahan asal fluvial (F3). Kondisi hidrogeologi di lokasi penelitian dipengaruhi oleh ketebalan zona tidak jenuh air yang relatif dangkal yaitu (0,69 – 1,77 m), resapan air hujan (recharge) sebesar 133,1979 mm/tahun, dan jenis material dizona tidak jenuh air yang terdiri dari lapisan lanau dan lapisan pasir dan lempung yang didapatkan melalui pengukuran resistivtas batuan. Kerentanan airtanah dilokasi penelitian berdarkan metode SVV terdiri dari 3 kelas kerentanan yaitu, kerentanan airtanah sedang bernilai (45,5 – 46), kerentanan airtanah tinggi bernilai (33 – 34), dan kerentanan airtanah sangat tinggi bernilai (20 – 22). Berdasarkan hasil laboratorium mengenai kandungan nitrat yang terdapat pada sumur SN 2, SN 4, SN 7, SN 10, SN 14, dan SN 19 masih termasuk kedalam baku mutu nitrat untuk digunakan sebagai air minum. Analisis sifat fisik airtanah pada 6 sampel airtanah menggunalan alat pH meter terdiri dari temperatur (˚C), pH, TDS (mg/L), dan DHL (µs/cm) semuanya memenuhi standar baku mutu untuk dijadikan air minum, kecuali pH pada SN 2 bernilai (5,99) yang bersifat asam, sehingga tidak memenuhi standar baku mutu dapat untuk air minum.&#13;
Kata Kunci: Pemetaan Geologi, Metode SVV, Kerentanan airtanah, kualitas airtanah</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1704175</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-22 11:41:48</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-22 11:55:32</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>