ANALISIS KEKOSONGAN KURSI LEGISLATIF DARI PARTAI POLITIK LOKAL PADA PEMILU 2024 DI KOTA BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS KEKOSONGAN KURSI LEGISLATIF DARI PARTAI POLITIK LOKAL PADA PEMILU 2024 DI KOTA BANDA ACEH


Pengarang

M. AIDIL AQSHAR - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Annisah Putri - 199208232022032009 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2110103010062

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Politik (S1) / PDDIKTI : 67201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

324.2

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Kota Banda Aceh merupakan pusat administrasi dari partai-partai lokal. Namun, tidak satu pun dari partai politik lokal tersebut berhasil memperoleh kursi di lembaga legislatif Kota Banda Aceh. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penyebab terjadinya kekosongan kursi legislatif pada partai politik lokal dalam pelaksanaan pemilihan umum tahun 2024 di Kota Banda Aceh. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori pelembagaan partai politik melalui empat dimensi utama, kemampuan beradaptasi, kompleksitas organisasi, otonomi, dan kohesi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menyebutkan bahwa partai-partai lokal terbukti gagal menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku pemilih, terutama generasi muda yang semakin rasional, sehingga kemampuan beradaptasi partai lokal tidak berjalan optimal. Lemahnya struktur internal dan proses rekrutmen yang tidak transparan mencerminkan rendahnya struktur internal partai lokal yang menyebabkan partai tidak memiliki sistem kaderisasi dan mekanisme organisasi yang jelas untuk melahirkan calon legislatif yang berkualitas. Kondisi ini membuat partai lokal tidak mampu bersaing dengan partai nasional yang memiliki struktur lebih mapan dan jaringan sosial yang lebih kuat. Konflik internal, dualisme kepemimpinan, dan lemahnya komunikasi antar kader menandakan lemahnya partai lokal dalam mengambil keputusan. Ketidakmampuan menjaga stabilitas organisasi dan kesatuan visi menyebabkan fragmentasi internal yang melemahkan soliditas kampanye, sehingga suara pemilih tidak terkonsolidasi secara efektif. Kekosongan kursi legislatif dari partai lokal di DPRK Banda Aceh pada Pemilu 2024 dapat dipahami sebagai konsekuensi langsung dari ketidakmampuan partai-partai lokal tersebut membangun institusi politik yang adaptif, terorganisir, otonom, dan kohesif.

Banda Aceh serves as the administrative center for local political parties. However, none of these local parties succeeded in securing seats in the Banda Aceh City Legislative Council. This study aims to analyze the underlying causes of the absence of legislative representation for local political parties in the 2024 general election in Banda Aceh. The research applies the theory of political party institutionalization through four key dimensions: adaptability, organizational complexity, autonomy, and cohesion. A qualitative method with a case study approach is employed. The findings indicate that local parties failed to adapt to the changing behavior of voters, particularly the increasingly rational younger generation, resulting in suboptimal adaptability. Weak internal structures and non-transparent recruitment processes reflect the underdeveloped organizational systems of local parties, leading to the absence of clear mechanisms for cadre development and the nomination of qualified legislative candidates. Consequently, local parties were unable to compete with national parties, which possess more established structures and stronger social networks. Internal conflicts, dual leadership, and poor communication among party members highlight the parties' weak decision-making capacity. The inability to maintain organizational stability and a unified vision has led to internal fragmentation, undermining campaign solidity and preventing effective voter mobilization. The absence of local party representation in the Banda Aceh City Council (DPRK) in the 2024 election can thus be understood as a direct consequence of their failure to build adaptive, organized, autonomous, and cohesive political institutions.

Citation



    SERVICES DESK