Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PEMETAAN GAGAL PANEN PADI SAWAH AKIBAT BANJIR DAN KEKERINGAN DI KABUPATEN ACEH UTARA
Pengarang
Cut Fajriah - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Abubakar - 196210101988111001 - Dosen Pembimbing I
Khairullah - 196505201992031007 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2105108010039
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Ilmu Tanah (S1) / PDDIKTI : 54294
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
632.17
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan wilayah – wilayah yang mengalami gagal panen padi sawah akibat bencana banjir dan kekeringan di Kabupaten Aceh Utara. Daerah ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Provinsi Aceh dengan luas sawah yang cukup besar, baik sawah irigasi maupun tadah hujan. Namun, ancaman bencana seperti banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau menyebabkan terganggunya produktivitas tanaman padi, yang berujung pada gagal panen di beberapa wilayah.
Penelitian ini dibantu dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mengintegrasikan dan menganalisis data dari berbagai sumber. Data yang digunakan mencakup data spasial seperti Shapefile batas administrasi wilayah Kecamatan, Kabupaten, dan Desa Aceh Utara, Shapefile sawah irigasi dan sawah tadah hujan. Serta data non-spasial seperti curah hujan bulanan, luas tanam, luas panen, produktivitas, produksi padi, dan produksi beras selama lima tahun terakhir periode 2019 hingga 2023. Selain itu, wawancara dengan petani juga dilakukan untuk mendapatkan informasi langsung mengenai penyebab terjadinya gagal panen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gagal panen paling sering terjadi pada musim rendeng, akibat curah hujan tinggi memicu banjir. Sementara itu pada musim gadu, gagal panen disebabkan oleh kekeringan akibat dari curah hujan yang rendah sehingga minimnya pasokan air menjadi penyebab utama. Di beberapa wilayah, banjir kiriman juga dapat menyebabkan gagal panen meskipun terjadi pada musim kemarau. Gagal panen akibat banjir dan kekeringan ini tersebar di sejumlah kecamatan dengan luas yang bervariasi setiap tahunnya baik pada musim rendeng maupun musim gadu. Pada tahun 2019, gagal panen akibat banjir tercatat seluas 195 Ha. Jumlah ini meningkat drastis pada tahun 2020 menjadi 4.561 Ha, ditambah 138 Ha akibat kekeringan. Pada tahun 2021 tercatat gagal panen akibat banjir seluas 218 Ha, sementara tahun 2022 menjadi tahun dengan luas gagal panen terbesar yaitu mencapai 6.054 Ha, semuanya disebabkan oleh banjir. Sedangkan pada tahun 2023, gagal panen akibat banjir seluas 2.273 Ha dan akibat kekeringan 65 Ha.
This study aims to map areas experiencing rice crop failure due to flooding and drought in North Aceh Regency. This area is known as one of Aceh Province's rice granaries, with a significant area of rice paddies, both irrigated and rain-fed. However, the threat of disasters such as flooding during the rainy season and drought during the dry season disrupt rice crop productivity, resulting in crop failure in several areas. This research was supported by a Geographic Information System (GIS) to integrate and analyze data from various sources. The data used included spatial data such as shapefiles of administrative boundaries for sub-districts, regencies, and villages in North Aceh, shapefiles of irrigated and rain-fed rice paddies, and non-spatial data such as monthly rainfall, planted area, harvested area, productivity, rice production, and rice yield for the last five years (2019 to 2023). Furthermore, interviews with farmers were conducted to obtain direct information on the causes of crop failure. The results showed that crop failure most often occurs during the dry season, due to heavy rainfall triggering flooding. Meanwhile, during the dry season, crop failure is caused by drought due to low rainfall, resulting in a lack of water supply. In some areas, flash flooding can also cause crop failure even during the dry season. Crop failure due to flooding and drought is spread across several sub-districts, with varying extents each year, both during the dry and dry seasons. In 2019, crop failure due to flooding was recorded at 195 hectares. This number increased drastically in 2020 to 4,561 hectares, with an additional 138 hectares due to drought. In 2021, crop failure due to flooding was recorded at 218 hectares, while 2022 was the year with the largest crop failure area, reaching 6,054 hectares, all due to flooding. Meanwhile, in 2023, crop failure due to flooding affected 2,273 hectares and drought affected 65 hectares.
ANALISIS TINGKAT RAWAN KEKERINGAN LAHAN SAWAH DI KABUPATEN ACEH BESAR DENGAN PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) (Zia Azila Ulfa, 2019)
PENGARUH VARIABEL-VARIABEL PENYULUHAN TERHADAP PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH DI KECAMATAN TRIENGGADENG KABUPATENPIDIE JAYA (YUNIS, 2016)
EKSISTENSI KEUJRUEN BLANG DALAM PENGELOLAAN AIR IRIGASI PERSAWAHAN DI GAMPONG BLANG PATEUK KECAMATAN SEUNAGAN KABUPATEN NAGAN RAYA (Arief Rahman Hakim, 2017)
STUDI KEKERINGAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP PRODUKSI TANAMAN PADI DI KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR (sutarni, 2016)
PEMETAAN LAHAN SAWAH DAN PRODUKTIVITAS PADI DI TIGA KECAMATAN DALAM KABUPATEN ACEH BESAR (Ahmad Hakim Hk, 2017)