<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1703669">
 <titleInfo>
  <title>EKSPLORASI PENGALAMAN PEREMPUANRNDALAM KOMUNITAS GYMRN(STUDI FENOMENOLOGI DI KOMUNITAS STADION GYM KOTA BANDA ACEH)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>MUHAMMAD AKHMAL RIFALDY</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman perempuan dalam komunitas gym, khususnya di Stadion Gym Kota Banda Aceh, dengan fokus pada hambatan fisik, mental, dan sosial yang mereka hadapi, serta bagaimana ruang gym berkontribusi dalam proses pemberdayaan perempuan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, yang menjelaskan bagaimana realitas dibentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap lima informan perempuan dari latar belakang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan mengalami tantangan fisik seperti nyeri otot dan keterbatasan stamina, hambatan mental berupa rasa malu dan rendah diri, serta tekanan sosial dari norma budaya dan agama setempat. Namun, melalui partisipasi aktif di gym, mereka membentuk makna baru tentang tubuh dan identitas mereka. Proses ini menggambarkan konstruksi ulang terhadap nilai dan norma tradisional. Gym menjadi ruang aman dan sosial bagi perempuan untuk mengekspresikan diri, membangun solidaritas, serta meningkatkan kepercayaan diri. Dengan demikian, komunitas gym tidak hanya menjadi tempat berolahraga, tetapi juga wadah sosial yang mendukung transformasi diri perempuan menuju kemandirian dan keberdayaan. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pengembangan kebijakan dan fasilitas yang ramah perempuan di ruang kebugaran, serta perlunya studi lanjutan yang mengeksplorasi praktik kebugaran dalam konteks sosial budaya yang berbeda.&#13;
Kata Kunci: Perempuan, Komunitas Gym, Konstruksi Sosial, pemberdayaan, Pengalaman Olahraga</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>GYMNASTICS</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>WOMEN - SOCIAL ASPECTS</topic>
 </subject>
 <classification>305.4</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1703669</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-17 18:29:22</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-20 11:55:56</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>