<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1703643">
 <titleInfo>
  <title>PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KOPI ARABIKA MELALUI PERBAIKAN TEKNOLOGI BUDIDAYA SPESIFIK LOKASI DI KABUPATEN BENER MERIAH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Manfarizah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pasca Sarjana (S3)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>MANFARIZAH.     Peningkatan Produktivitas Kopi Arabika Melalui Perbaikan Teknologi Budidaya Spesifik Lokasi di Kabupaten Bener Meriah, di bawah bimbingan Abubakar sebagai Promotor, Hairul Basri sebagai Ko-Promotor I dan Muyassir sebagai Ko-Promotor II.&#13;
&#13;
Salah satu daerah penghasil utama kopi Indonesia adalah Provinsi Aceh, setelah Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung. Kopinya  lebih dikenal dengan sebutan Kopi “Gayo”. Kopi Gayo merupakan varietas kopi Arabika yang menjadi salah satu komoditi unggulan yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo, salah satunya Kabupaten Bener Meriah.  Sejak tahun 1992 petani kopi Arabika Gayo telah terlibat dalam program sertifikasi produk yang berprinsip pada sistem pertanian berkelanjutan. Hingga saat ini sertifikasi produk kopi yang telah dimiliki antara lain Organic Certified, Fairtrade dan Rainforest. Program sertifikasi ini telah mampu meningkatkan nilai jual kopi Arabika  Gayo di pasar  dunia yang  biasa  disebut sebagai harga Premium (Mawardo et al., 2008).  Berbagai atribut yang telah melekat pada kopi Arabika Gayo memberikan  keuntungan besar bagi pengembangan agribisnis kopi Arabika Gayo di Kabupaten Bener Meriah. &#13;
Sertifikat Indikasi Geografis menunjukkan bahwa kopi Gayo dikenal sebagai kopi organik berwawasan lingkungan. Label ini membawa petani menerima harga lebih  tinggi karena telah memenuhi standar internasional terkait dengan pelestarian alam dan pembangunan berwawasan lingkungan. Harga seharusnya membawa kondisi petani kopi Gayo bisa menjadi lebih sejahtera karena hasil pertanian mereka dibeli oleh para buyer dengan harga relatif tinggi. Namun demikian  kondisi riil di lapangan belum sepenuhnya menggambarkan hal demikian. Salah satu penyebabnya adalah produktivitas kopi Gayo yang masih tergolong rendah. Produktivitas kopi Arabika Dataran Tinggi Gayo berkisar antara 500-900 kg per hektar per tahun, yaitu Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah berkisar sekitar 780- 840 kg per hektar per tahun,  Kabupaten Gayo Lues hanya dapat mencapai sekitar 500-540 kg per hektar per tahun. Padahal potensi produksi kopi Arabika di Dataran Tinggi Gayo dapat mencapai 2.000-3.000 kg per hektar per tahun (Karim et al., 2018). &#13;
Ada beberapa faktor penyebab rendahnya produktivitas kopi Arabika di Dataran Tinggi Gayo antara lain (Khalid, 2017): (1)  dibudidayakan pada habitat yang belum sepenuhnya mendukung pencapaian produktivitas optimal (kualitas lahan), (2) bahan tanam beragam dan berumur lanjut (varietas yang diusahakan tidak seragam), (3) di tanam pada lahan-lahan yang berlereng, dan tidak diikuti paket teknologi konservasi tanah dan air, (4) dikelola dan dirawat tidak optimal (tidak sepenuhnya ada naungan/tanaman pelindung yang memenuhi persyaratan,  pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan pemangkasan yang tidak dilakukan secara baik).&#13;
Disamping itu tanaman kopi yang lebih banyak diusahakan oleh rakyat belum sepenuhnya sesuai dengan anjuran Good Agriculture Practices on Coffee (GAP on Coffee) dalam teknik budidayanya, seperti pemanfaatan sumberdaya dan penerapan teknologi tepat guna untuk tanaman kopi (Auliansyah et al., 2019).  Demi mendukung pembangunan perkebunan kopi agar dapat berhasil dengan baik, pemerintah telah menetapkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 49/Permentan/OT.140/4/2014  tentang Pedoman Teknis Budidaya Kopi yang Baik (Good Agriculture Practices/GAP on Coffee), sebagai acuan dalam melaksanakan budidaya kopi yang baik dan berkelanjutan. Pedoman GAP on Coffee adalah panduan tentang budidaya kopi yang baik. Pedoman GAP on Coffee kopi sudah disosialisasikan sejak tahun 2014 oleh Dinas Pertanian namun produktivitas kopi di Kabupaten Bener Meriah masih rendah. &#13;
Berdasarkan permasalahan tersebut, peningkatan produktivitas kopi Arabika di Kabupaten Bener Meriah dapat  dilakukan dengan melakukan perbaikan paket teknologi yang telah diterapkan oleh petani setempat sesuai GAP on Coffee.  Paket teknologi tentunya akan berbeda pada masing-masing lokasi, sehingga diperlukan rancangan paket teknologi yang sesuai dengan lokasi masing-masing, yang dikenal dengan paket teknologi spesifik lokasi. Oleh karena itu diperlukan kajian tentang peningkatan produktivitas kopi Arabika melalui perbaikan teknologi budidaya spesifik lokasi di Kabupaten Bener Meriah.&#13;
Tujuan umum dari penelitian ini adalah  :  (1) Menganalisis pengaruh antara komponen teknologi budidaya spesifik lokasi dan karakteristik  petani terhadap produktivitas kopi Arabika  di Kabupaten Bener Meriah, (2) Menganalisis pengaruh kualitas lahan terhadap  produktivitas kopi Arabika  di Kabupaten Bener Meriah, dan (3)  Menganalisis rancangan perbaikan paket teknologi budidaya kopi Arabika secara spesifik lokasi dalam peningkatan produktivitas kopi Arabika secara berkelanjutan di Kabupaten Bener Meriah.&#13;
Penelitian 1 adalah  Teknik Budidaya Kopi Arabika Eksisting di Kabupaten Bener Meriah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei.  Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan responden yaitu petani yang membudidayakan kopi Arabika. Responden untuk mengetahui profil petani kopi ditetapkan melalui stratified random sampling, yaitu penetapan kecamatan (seluruh kecamatan yang petaninya membudidayakan kopi), penetapan kampung contoh (3-4 kampung per kecamatan) dan penetapan petani responden (3-5 petani pada setiap kampung contoh) yang didasarkan pada ketinggian tempat. Setelah didapatkan jumlah petani masing-masing kecamatan, maka dilakukan wawancara yang merujuk pada kuesioner yang telah dibuat.  Data produksi diperoleh dari penelitian 2 yaitu  dari produksi tanaman contoh yang telah ditetapkan dan diamati secara  langsung  pada 3 batang kopi Arabika yang dipilih secara random. Data produksi yang diambil hanya satu musim panen yaitu saat panen raya. Data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait dengan penelitian ini.  Hasil wawancara diperoleh informasi teknik budidaya kopi yang dilakukan petani secara turun temurun.  Selanjutnya dilakukan analisis regresi dan korelasi untuk mencari arah dan pengaruh serta hubungan dari masing-masing variabel terhadap produksi kopi Arabika.  &#13;
Hasil penelitian  menunjukkan bahwa semua parameter karakteristik petani (umur petani, tingkat pendidikan, jumlah keluarga yang ikut membantu dan pengalaman bertani) tidak berpengaruh terhadap produksi kopi Arabika. Begitu juga dengan teknik budidaya seperti varietas, jarak tanam, jenis pohon pelindung, jenis pupuk, jenis hersida dan pestisida yang digunakan juga tidak berpengaruh terhadap produksi kopi Arabika.  Hal ini dikarenakan petani kopi di Kabupaten Bener Meriah masih menjalankan usahatani secara konvensional (turun-temurun). Selain itu dikarenakan pada penelitian ini hanya terfokus pada faktor yang diamati yaitu faktor X1 – X10 dengan asumsi letak lahan, kondisi lahan, dan takaran pupuk yang diberikan adalah homogen. &#13;
Penelitian 2 adalah   Analisis Kualitas Lahan  Budidaya Kopi Arabika di Kabupaten Bener Meriah. Penelitian dilakukan di kebun kopi petani pada penelitian pertama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai serta melakukan analisis terhadap data dan informasi yang didapatkan di lapangan maupun dari analisis contoh tanah di laboratorium secara deskriptif dan analisis regresi korelasi. Ada beberapa tahapan dalam penelitian ini yaitu persiapan, penentuan Satuan Peta Lahan (SPL), pengamatan morfologi lahan, sifat kimia dan fisika tanah.  Overlay peta  ketinggian tempat, peta kelerengan dan peta jenis tanah dilakukan untuk memperoleh Satuan Peta Lahan (SPL). SPL dibutuhkan untuk menentukan tapak pengamatan dan pengambilan sampel tanah di lapangan. Pengamatan meliputi  pengamatan morfologi lahan dan analisis sifat fisika dan kimia tanah sesuai dengan karakteristik lahan  untuk  tanaman kopi.  Karakteristik lahan selanjutnya   di matching dengan persyaratan tumbuh tanaman  kopi Arabika menggunakan kriteria kesesuaian Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Kementerian Pertanian, 2014), untuk memperoleh kelas kesesuaian lahan, yaitu Kelas S1 (sangat sesuai atau highly suitable ), Kelas S2  (cukup sesuai atau moderately suitable), Kelas S3 (sesuai marginal  atau marginal suitable), dan Kelas N (tidak sesuai  atau not suitable), yang  hasilnya dalam bentuk peta kelas  kesesuaian  lahan tanaman kopi Arabika. Selanjutnya dilakukan juga pengamatan terhadap besarnya erosi yang terjadi dengan menggunakan persamaan USLE.  Karakteristik lahan yang diukur dari setiap satuan lahan pengamatan yang terbentuk dibandingkan dengan persyaratan tanaman kopi Arabika. Setelah diperoleh kelas kesesuaian lahan selanjutnya dilakukan analisis regresi dan korelasi untuk mencari arah dan pengaruh serta hubungan dari masing-masing variabel. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter karakteristik lahan (ketinggian tempat, lereng, kedalaman efektif, debu, liat, pH, C-organik, KTK, P tersedia, Kdd dan erosi)  secara signifikan mempengaruhi produksi kopi Arabika, baik secara simultan maupun parsial.  Hasil analisis kesesuaian lahan pada lokasi penelitian diperoleh 2 kelas kesesuaian lahan yaitu S2 (cukup sesuai) dan S3 (sesuai marginal). Kendala yang paling dominan ditemukan sebagai faktor pembatas adalah kekurangan unsur hara terutama unsur hara P. &#13;
Penelitian 3 adalah  Aplikasi pupuk NPK, dolomit dan kompos terhadap sifat kimia dan produksi kopi Arabika  Kabupaten Bener Meriah. Penelitian ini dilaksanakan di kebun kopi petani Desa Karang Rejo Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah. Sifat kimia tanah dianalisis di Laboratorium Penelitian Tanah dan Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 3 faktor. Faktor pertama pemberian pupuk NPK dengan 3 taraf: P0 = 0 kg ha-1 (kontrol), P1 = 307,2 kgha-1 NPK + 137,6 kgha-1 Urea + 83,2 kgha-1 KCl dan P2 = 614,4 kg ha-1 NPK + 275,2 kgha-1 Urea +166,4 kgha-1 KCl.  Faktor kedua pemberian dolomit dengan 3 taraf: D0 = 0 kg ha-1 (kontrol), D1 = 1 Aldd ( 0,588 ton ha-1) dan D2 = 2 Aldd (1,176 ton ha-1).  Faktor ketiga yaitu kompos dengan 3 taraf sebagai berikut: K0 = 0 ton ha-1(kontrol), K1 = 5 ton ha-1, dan K2 = 10 ton ha-1. Dari ketiga faktor tersebut diperoleh 27 perlakuan, diulang 3 kali sehingga diperoleh 81 unit satuan percobaan. Masing-masing unit percobaan terdiri dari 3 tanaman sampel tanaman  sehingga diperoleh 243 sampel tanaman. Ada beberapa tahapan penelitian yaitu penentuan sampel tanaman kopi, pemberian pupuk, pemeliharaan, pengambilan sampel tanah awal dan sampel tanah setelah lebih kurang 3 bulan perlakuan.  Pengamatan meliputi sifat kimia tanah (pH H2O, Kdd, N Total, P total dan P tersedia), pertumbuhan (jumlah cabang produktif per batang), dan produksi (jumlah dompol per batang, jumlah buah per batang dan berat biji bersih atau green bean per hektar). Data dianalisis secara statistik dengan sidik ragam (Anova) dan dilanjutkan dengan uji lanjut dengan Uji Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa pemberian pupuk NPK + Urea + KCl meningkatkan  jumlah dompol per batang pada tanaman kopi. Interaksi pupuk NPK + Urea + KCl dan dolomit meningkatkan  kandungan pH dan  N total tanah. Interaksi dolomit dan kompos meningkatkan  kandungan Kdd, N total,  jumlah  buah per batang, dan berat green bean per hektar. Interaksi pupuk NPK + Urea + KCl dan kompos meningkatkan pH tanah, Kdd, N Total, P total dan P tersedia. Interaksi pupuk NPK + Urea + KCl, dolomit, dan kompos meningkatkan pH tanah, Kdd,  dan  berat green bean per hektar. Secara keseluruhan, penggunaan pupuk NPK, dolomit, dan kompos berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman kopi.  Pada pemberian pupuk dosis 307,20 kg ha-1 NPK + 137,60 kg ha-1 Urea + 83,20 kg ha-1 KCl, dolomit 1,176 ton ha-1 (2xAldd) dan kompos 5 ton ha-1 (P1D2K1) atau setara dengan 108 kg ha-1 N + 46,08 kg ha-1 P2O5 + 96 kg ha-1 K2O + 1,176 ton ha-1 dolomit + 5 ton ha-1 kompos diperoleh produksi green bean tertinggi yaitu 1,900 ton ha-1.&#13;
Peningkatan produktivitas kopi Arabika di Kabupaten Bener Meriah memerlukan pendekatan yang komprehensif, yang mencakup perbaikan teknik budidaya, pengelolaan kualitas lahan, dan pemupukan yang tepat. Rangkaian penelitian telah mampu meningkatkan produktivitas kopi Arabika Bener Meriah sebesar 90,57 %, yaitu dari 0,997 ton ha-1 (kontrol) menjadi 1,900 ton ha-1 (perlakuan terbaik). &#13;
&#13;
Kata kunci : Kopi Arabika, spesifik lokasi, kualitas lahan, pupuk NPK, dolomit, kompos,   Kabupaten Bener Meriah&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>COFFEE- AGRICULTURE</topic>
 </subject>
 <classification>633.73</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1703643</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-17 15:36:10</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-20 12:04:59</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>