<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1703475">
 <titleInfo>
  <title>LIMPASAN PERMUKAAN DAN EROSI  BERDASARKAN PADA JENIS TANAH DI DAERAH TANGKAPAN AIR WADUK KEULILING MENGGUNAKAN RAINFALL SIMULATOR</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Andri Riansyah Ramadhan</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Hujan berperan besar dalam proses hidrologi, terutama limpasan permukaan dan erosi tanah. Intensitas hujan tinggi dengan laju infiltrasi rendah menyebabkan air mengalir di permukaan, membawa partikel tanah, dan memicu erosi, terutama pada lahan miring atau minim vegetasi. Untuk memahami hubungan antara intensitas hujan, sifat fisik tanah, limpasan, dan erosi, digunakan rainfall simulator yang mampu meniru hujan alami secara terkontrol. Alat ini memungkinkan pengamatan langsung terhadap limpasan, infiltrasi, dan erosi pada berbagai jenis tanah, termasuk sampel dari DTA Waduk Keuliling. Penelitian ini diharapkan menghasilkan data akurat sebagai dasar pengelolaan lahan dan pencegahan degradasi tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui  limpasan permukaan dan laju erosi berdasarkan pada jenis tanah dan kemiringan yang berbeda di Daerah Tangkapan Air Waduk Keuliling menggunakan rainfall simulator. &#13;
Penelitian ini terdiri dari dua tahap utama. Pertama, pengambilan sampel tanah dan analisis sifat fisiknya, meliputi penentuan lokasi, persiapan alat, pengambilan sampel tiga jenis tanah pada kedalaman 0–30 cm dan 30–60 cm, serta pengujian tekstur, kadar air, dan porositas. Kedua, pengukuran limpasan permukaan dan laju erosi menggunakan rainfall simulator pada kemiringan 10%, 15%, dan 23%. Alat dijalankan dengan mikrokontroler ESP32, mencatat durasi, debit, dan volume hujan buatan pada interval waktu tertentu. Volume limpasan diukur dari wadah penampung, dan sedimen yang terbawa air ditimbang untuk menghitung laju erosi. &#13;
Penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas hujan, jenis tanah, dan kemiringan lereng mempengaruhi limpasan permukaan dan laju erosi di Daerah Tangkapan Air Waduk Keuliling. Setiap jenis tanah memiliki karakteristik fisik berbeda yang mempengaruhi infiltrasi dan erosi. Podsolik Merah Kuning bertekstur lempung liat berpasir hingga liat berpasir dengan porositas 49,54–51,72%, Latosol bertekstur pasir berlempung hingga liat berpasir dengan porositas 50,05– 53,53% dan infiltrasi tinggi, sedangkan Komplek Ransing dan Litosol bertekstur lempung liat berpasir hingga liat dengan porositas 52,17–52,44% dan infiltrasi rendah. Sebelum uji, Latosol menyimpan air terbanyak di lapisan atas (19,7%), sedangkan Komplek Ransing dan Litosol terendah (15–16%). Setelah uji, Komplek Ransing dan Litosol lapisan atas memiliki kadar air tertinggi (27,1%), menunjukkan air tertahan di permukaan. Karakteristik intensitas hujan bervariasi antar jenis tanah, di mana Podsolik mengalami lonjakan tajam, Latosol meningkat stabil, dan Komplek Ransing dan Litosol memiliki dua tahap kenaikan dengan lonjakan mendadak. Limpasan permukaan dan laju erosi meningkat seiring kemiringan lereng dan intensitas hujan, terutama pada tanah berporositas rendah atau berinfiltrasi rendah. Analisis regresi menunjukkan hubungan kuat antara intensitas hujan dengan limpasan dan erosi (R² 0,73–0,98), sedangkan hubungan limpasan dengan erosi lemah (R² &lt; 0,22), menandakan pengaruh signifikan faktor lain seperti tekstur, kelembaban awal, dan struktur tanah. Penelitian ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan kombinasi faktor fisik tanah, curah hujan, dan kemiringan dalam pengelolaan lahan untuk mengendalikan limpasan dan erosi.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1703475</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-16 12:50:46</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-16 14:23:09</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>