<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1703219">
 <titleInfo>
  <title>PENERAPAN TEORI HUKUM PROGRESIF DALAM PEMENUHAN NAFKAH ISTERI PASCA CERAI GUGAT  PADA MAHKAMAH SYAR’IYYAH BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Zihan Fahira</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Magister Hukum Unsyiah</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>PENERAPAN TEORI HUKUM PROGRESIF DALAM&#13;
PEMENUHAN NAFKAH ISTERI PASCA CERAI GUGAT&#13;
PADA MAHKAMAH SYARIYYAH BANDA ACEH &#13;
 &#13;
Zihan Fahira *&#13;
Iman Jauhari **&#13;
Muazzin ***&#13;
&#13;
ABSTRAK &#13;
Pemenuhan nafkah isteri pasca cerai gugat masih menjadi isu hukum yang&#13;
menimbulkan ketidakpastian dalam praktik peradilan di Indonesia. Ketentuan&#13;
normatif seperti Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan&#13;
Pasal 149 huruf (d) Kompilasi Hukum Islam memang mengatur kewajiban suami&#13;
memberi nafkah selama ikatan perkawinan berlangsung. Namun, tidak ada&#13;
regulasi yang secara eksplisit mengatur mengenai nafkah bagi isteri setelah&#13;
putusan cerai gugat dijatuhkan. Kekosongan hukum ini berpotensi menimbulkan&#13;
ketidakadilan, terutama bagi pihak isteri yang tidak terbukti nusyuz namun tidak&#13;
mendapatkan perlindungan hukum terkait nafkah pasca perceraian. Meskipun&#13;
terdapat pedoman melalui SEMA Nomor 2 Tahun 2019 dan yurisprudensi&#13;
Mahkamah Agung, implementasinya belum seragam. Putusan hakim sering kali&#13;
berbeda antara satu perkara dengan yang lain, baik dalam hal mengabulkan,&#13;
menolak, maupun mengabulkan sebagian tuntutan nafkah, sehingga memunculkan&#13;
kebutuhan akan pendekatan hukum yang lebih progresif dan berkeadilan&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dasar pertimbangan hukum&#13;
Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyyah Banda Aceh dalam memutus tuntutan&#13;
nafkah isteri pasca cerai gugat, serta mengkaji penerapan teori hukum progresif  &#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis normatif dengan&#13;
pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konseptual&#13;
(conceptual approach), dan pendekatan kasus (case approach). Data sekunder&#13;
diperoleh dari bahan hukum primer berupa undang-undang, Kompilasi Hukum&#13;
Islam, yurisprudensi, dan SEMA; bahan hukum sekunder berupa literatur ilmiah,&#13;
jurnal hukum, serta hasil wawancara langsung dengan tiga orang hakim&#13;
Mahkamah Syar’iyyah Banda Aceh; dan bahan hukum tersier seperti kamus&#13;
hukum dan ensiklopedia. Data ini diperkuat dengan data lapangan berupa salinan&#13;
putusan Mahkamah Syar’iyyah Banda Aceh. Analisis dilakukan secara kualitatif&#13;
untuk mengidentifikasi pola pertimbangan hukum dan konsistensi penerapan&#13;
prinsip hukum progresif.&#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan Majelis Hakim&#13;
Mahkamah Syar’iyyah Banda Aceh dalam memutus nafkah isteri pasca cerai&#13;
gugat didasarkan pada norma hukum positif seperti UU No. 1 Tahun 1974, KHI,&#13;
SEMA No. 2 Tahun 2019, dan asas hukum acara. Hakim menolak tuntutan nafkah&#13;
apabila isteri terbukti nusyuz atau jika tuntutan tidak dicantumkan dalam petitum&#13;
karena terikat larangan memutus ultra petita. Sebaliknya, jika isteri tidak terbukti&#13;
nusyuz dan petitum memuat tuntutan nafkah, hakim dapat mengabulkan dengan&#13;
mempertimbangkan fakta persidangan dan kemampuan ekonomi suami. Dalam&#13;
hal ini, hakim menerapkan asas judex facti, prinsip rechtsvinding, serta teori&#13;
hukum progresif untuk menyesuaikan hukum dengan kondisi sosial-ekonomi para&#13;
pihak guna mencapai keadilan substantif tanpa mengabaikan kepastian hukum&#13;
formal. &#13;
Penelitian ini merekomendasikan pentingnya harmonisasi regulasi terkait&#13;
nafkah pasca cerai gugat dan perlunya Mahkamah Agung memperkuat pedoman&#13;
bagi hakim agar pendekatan hukum progresif dapat diterapkan secara konsisten,&#13;
adaptif, dan berorientasi pada keadilan sosial. &#13;
&#13;
&#13;
Kata Kunci: Hukum Progresif, Nafkah Pasca Cerai, Keadilan Substantif &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>MARRIAGE - LAW</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>ISLAMIC LAW</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>LAW ENFORCEMENT - LAW</topic>
 </subject>
 <classification>345.052</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1703219</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-14 09:36:42</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-15 11:43:17</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>