EFEKTIVITAS KARBON AKTIF DARI LIMBAH RNSABUT KELAPA (COCOS NUCIFERA L.) SEBAGAI RNADSORBEN PENURUNAN KADAR AMONIA PADA RNBUDIDAYA IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) RNSISTEM RESIRKULASI | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

EFEKTIVITAS KARBON AKTIF DARI LIMBAH RNSABUT KELAPA (COCOS NUCIFERA L.) SEBAGAI RNADSORBEN PENURUNAN KADAR AMONIA PADA RNBUDIDAYA IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) RNSISTEM RESIRKULASI


Pengarang

RAUDHATUL JANNAH - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Said Ali Akbar - 199102282022031002 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2111102010117

Fakultas & Prodi

Fakultas Kelautan dan Perikanan / Budidaya Perairan (S1) / PDDIKTI : 54243

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Kelautan dan Perikanan Budidaya Perairan (S1)., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Budidaya ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan sektor perikanan tawar yang populer
dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Namun, kegiatan budidaya ini
menghasilkan limbah padat dan cair, termasuk amonia yang dapat menurunkan
kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas karbon aktif yang
disintesis dari limbah sabut kelapa (Cocos nucifera L.) sebagai adsorben dalam
menurunkan kadar amonia (NH₃) pada budidaya ikan mas (Cyprinus carpio) sistem
resirkulasi (RAS). Dengan menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan
percobaan acak lengkap (RAL) yaitu 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan meliputi
kontrol (tanpa karbon aktif) dan penambahan karbon aktif sabut kelapa dengan massa
5 g, 10 g, 15 g, dan 20 g. Analisis data dilakukan dengan uji ANOVA dan uji lanjut
untuk mengetahui pengaruh karbon aktif terhadap kadar amonia dan kelangsungan
hidup ikan. Karbon aktif disintesis melalui proses karbonisasi kemudian diaktivasi
menggunakan larutan NaOH. Karakterisasi karbon aktif menunjukkan peningkatan
kualitas secara signifikan, analisis morfologi menggunakan SEM menunjukkan
peningkatan jumlah dan ukuran pori, sedangkan analisis XRD dan FTIR
mengindikasikan perubahan struktur kristalin dan gugus fungsi permukaan karbon
aktif. Penggunaan karbon aktif sabut kelapa secara signifikan menurunkan kadar
amonia dalam media budidaya ikan mas. Perlakuan P5 (20 g karbon aktif)
menunjukkan efektivitas tertinggi, dengan kadar amonia terendah yaitu 0,0071 ppm
pada hari ke-10 dan 0,0103 ppm pada hari ke-20, yang berada di bawah ambang batas
baku mutu. Tingkat kelangsungan hidup ikan mas tertinggi dicapai pada perlakuan P5
(97,50%), Dosis 20 g karbon aktif (P5) memberikan hasil terbaik dalam penurunan
amonia dan kelangsungan hidup ikan, menjadikannya alternatif yang ramah
lingkungan dan berkelanjutan untuk pengelolaan kualitas air dalam akuakultur.
Parameter kualitas air lainnya (suhu, pH, DO) selama penelitian berada dalam kisaran
optimal untuk budidaya ikan mas (Cyprinus carpio).
Kata kunci: Karbon aktif, sabut kelapa, amonia, recirculating Aquaculture System
(RAS), kelangsungan hidup ikan (Cyprinus carpio), kualitas air

The cultivation of common carp (Cyprinus carpio) is a popular freshwater aquaculture sector with growing market demand. However, this activity generates both solid and liquid waste, including ammonia, which can degrade water quality. This study aims to know the effectiveness of activated carbon synthesized from coconut husk waste (Cocos nucifera L.) as an adsorbent for reducing ammonia (NH₃) levels in a recirculating aquaculture system (RAS) for common carp. A quantitative method was employed using a completely randomized design (CRD) consisting of 5 treatments and 4 replications. The treatments included a control (no activated carbon) and the addition of coconut husk activated carbon at doses of 5 g, 10 g, 15 g, and 20 g. Data were analyzed using ANOVA followed by post hoc tests to determine the effect of activated carbon on ammonia and fish survival. Activated carbon was synthesized through a carbonization process followed by activation using NaOH solution. Characterization of the activated carbon showed a significant improvement in quality; SEM analysis indicated an increase in pore size and number, while XRD and FTIR analyses revealed changes in crystalline structure and surface functional groups. The use of coconut husk activated carbon significantly reduced ammonia levels in the aquaculture media. Treatment P5 (20 g activated carbon) showed the highest effectiveness, with the lowest ammonia concentration of 0.0071 ppm on day 10 and 0.0103 ppm on day 20, both below the quality standard threshold. The highest survival rate of common carp was also recorded in treatment P5 (97.50%). The 20 g dose of activated carbon (P5) yielded the best results for ammonia reduction and fish survival, making it an environmentally friendly and sustainable alternative for water quality management in aquaculture. Other water quality parameters (temperature, pH, DO) remained within optimal ranges for Cyprinus carpio cultivation throughout the study. Keywords: Activated carbon, coconut husk, ammonia, recirculating aquaculture system (RAS), fish survival (Cyprinus carpio), water quality

Citation



    SERVICES DESK