<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1703011">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS KESIAPAN PETANI DALAM MENGADOPSI TEKNOLOGI SMART FARMING PADA PERKEBUNAN KOPI RAKYAT DI KABUPATEN ACEH TENGAH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Ferdian Triady</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Magister Agribisnis Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Transformasi pertanian melalui teknologi digital menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas petani, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan. Salah satu teknologi yang mulai dikembangkan adalah smart farming, yang memanfaatkan sensor berbasis Internet of Things (IoT) seperti sensor pupuk untuk membantu menentukan dosis pemupukan secara tepat. Di tingkat global, pasar teknologi sensor pertanian terus tumbuh dengan proyeksi mencapai USD 7,19 miliar pada 2034 (Precedence Research, 2024), dan telah diterapkan secara luas di negara maju. Namun, adopsi teknologi ini di negara berkembang seperti Indonesia masih sangat terbatas, terutama di wilayah pedesaan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Aceh Tengah, yang merupakan salah satu sentra utama produksi kopi rakyat di Indonesia. Meskipun memiliki potensi produksi yang besar, produktivitas kopi di daerah ini masih tergolong rendah akibat penggunaan teknik konvensional, keterbatasan akses informasi, dan belum meratanya dukungan terhadap penerapan teknologi. Sensor pupuk yang menjadi fokus kajian ini masih dalam tahap pengembangan dan belum diterapkan di lapangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesiapan petani dalam mengadopsi teknologi smart farming, khususnya sensor pupuk, serta mengidentifikasi faktor-faktor dan hambatan utama yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen kuesioner yang disebar kepada 100 responden petani kopi yang tersebar di 4 kecamatan: Atu Lintang, Pegasing, Bebesen, dan Bies, masing-masing satu desa. Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui metode multistage cluster random sampling, dengan mempertimbangkan perbedaan karakteristik geografis dan produksi kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga indikator kesiapan, yaitu pengetahuan, ketersediaan sumber daya, dan motivasi, mayoritas petani berada pada kategori cukup siap. Rata-rata skor tertinggi terdapat pada indikator motivasi. Sementara itu, dua variabel independen, yaitu karakteristik petani (X1) dan akses informasi serta infrastruktur (X2), terbukti memiliki pengaruh langsung dan signifikan terhadap kesiapan adopsi smart farming (Y1), masing-masing dengan koefisien 0,419 dan 0,245 (p &lt; 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa usia, pendidikan, pengalaman bertani, serta kemudahan akses informasi berperan penting dalam meningkatkan kesiapan petani. Namun, terdapat fenomena menarik pada dua variabel lainnya. Variabel dukungan kelembagaan (X3) dan persepsi petani terhadap teknologi (X4), meskipun memperoleh skor rata-rata yang tinggi dalam kuisioner (di atas 3,5 atau masuk kategori “baik”), secara statistik menunjukkan koefisien positif tetapi tidak signifikan terhadap kesiapan adopsi. Fenomena ini mengindikasikan bahwa dukungan kelembagaan memang ada, tetapi belum secara langsung relevan atau menjangkau semua petani secara merata. Kemungkinan lainnya adalah bentuk dukungan yang diberikan belum spesifik terhadap teknologi baru seperti sensor pupuk, dan belum ada program pelatihan atau pendampingan yang langsung terkait dengan teknologi ini. Dengan demikian, terjadi ketidaksesuaian antara persepsi umum petani (yang merasa sudah cukup didukung) dan efektivitas nyata dari dukungan tersebut dalam mendorong kesiapan adopsi teknologi. Situasi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara kesiapan teknologi dan kesiapan pengguna. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan pentingnya merancang strategi peningkatan kesiapan adopsi petani dengan memperkuat akses informasi, literasi teknologi, serta bentuk dukungan kelembagaan yang lebih spesifik terhadap teknologi smart farming. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah hambatan internal dan eksternal yang turut memengaruhi kesiapan petani dalam mengadopsi teknologi smart farming. Hambatan internal mencakup rendahnya literasi digital, keterbatasan pemahaman teknologi, serta faktor usia dan pendidikan yang beragam. Di sisi lain, hambatan eksternal meliputi minimnya akses terhadap informasi dan infrastruktur pendukung, termasuk keterbatasan koneksi internet, kondisi jalan ke kebun yang tidak layak, serta kurang meratanya pelatihan dari lembaga terkait. Hal ini tercermin dari skor rata-rata akses informasi dan infrastruktur yang tergolong rendah (2,1), meskipun secara umum persepsi dan dukungan kelembagaan dinilai tinggi. Situasi ini menunjukkan adanya ketimpangan antara persepsi, fasilitas yang tersedia, dan kesiapan aktual petani dalam mengadopsi teknologi baru.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>FARMERS</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>FARMING</topic>
 </subject>
 <classification>630.92</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1703011</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-09 10:32:37</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-09 11:30:24</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>