<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1702999">
 <titleInfo>
  <title>A COMPARATIVE STUDY OF MALES AND FEMALES LANGUAGE FEATURES IN AN INDONESIAN MOVIE PENYALIN CAHAYA (PHOTOCOPIER)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rahimah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakulas KIP Bahasa Inggris</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ciri-ciri kebahasaan yang digunakan oleh karakter laki-laki dan perempuan dalam film Indonesia Penyalin Cahaya, berdasarkan teori Lakoff (2004) dan Coates (2004). Dengan menggunakan metode analisis isi, data dikumpulkan dari dialog para tokoh dan dianalisis untuk mengidentifikasi ciri-ciri linguistik yang berkaitan dengan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter perempuan lebih sering menggunakan ciri-ciri kebahasaan seperti hedges (ungkapan peredam), tag questions (pertanyaan tambahan di akhir kalimat), intensifiers (kata penguat), empty adjectives (kata sifat kosong), bentuk superpolite, dan emphatic stress (penekanan emosional). Ciri-ciri seperti istilah warna yang spesifik (precise color terms) dan tata bahasa yang sangat baku (hypercorrect grammar) hanya ditemukan dalam ujaran karakter perempuan, yang mendukung teori women’s language dari Lakoff. Sementara itu, karakter laki-laki lebih sering menggunakan perintah langsung, kata-kata makian (swearing), serta ungkapan yang tegas dan dominan, sejalan dengan pandangan Coates bahwa laki-laki menggunakan bahasa untuk menunjukkan kontrol dan kekuasaan. Sebanyak 89 ujaran laki-laki dan 117 ujaran perempuan dianalisis dalam penelitian ini. Temuan ini menegaskan bahwa media, khususnya film, mencerminkan dan memperkuat konstruksi sosial tentang gender melalui penggunaan bahasa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kajian sosiolinguistik, terutama dalam memahami hubungan antara gender dan bahasa dalam media.&#13;
&#13;
Kata kunci: Coates, Film, Gender, Lakoff, Ciri Kebahasaan</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1702999</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-09 00:07:27</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-09 09:21:05</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>