<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1702991">
 <titleInfo>
  <title>CULTURE SHOCK PADA MAHASISWA GAMBIA DI UNIVERSITAS SYIAH KUALA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>RIZAL OLIYA TAQWADIN</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Proses adaptasi di lingkungan baru merupakan sebuah tantangan, terutama bagi mahasiswa internasional yang melanjutkan studi di negara dengan budaya yang sangat berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami pengalaman culture shock atau gegar budaya yang dialami oleh mahasiswa asal Gambia selama menempuh pendidikan di Universitas Syiah Kuala, Aceh, serta untuk mengidentifikasi hambatan komunikasi yang mereka hadapi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini menggali data melalui wawancara mendalam dengan tiga orang informan mahasiswa Gambia yang telah tinggal di Aceh selama kurang lebih empat tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi para mahasiswa Gambia selaras dengan empat fase dalam teori U-Curve. Tahap awal (honeymoon) ditandai dengan euforia dan rasa penasaran terhadap budaya Aceh yang religius dan damai, namun segera diikuti oleh fase krisis (crisis). Pada fase ini, mereka menghadapi tantangan signifikan seperti hambatan bahasa, perbedaan kuliner yang ekstrem, serta yang paling menonjol adalah pengalaman diskriminasi dan stereotip negatif dari sebagian masyarakat lokal, yang menimbulkan perasaan frustrasi, marah, dan terasing. Meskipun demikian, para informan tidak bersikap pasif. Mereka secara proaktif memasuki fase pemulihan (recovery) dan penyesuaian (adjustment) dengan mengembangkan berbagai strategi. Strategi tersebut meliputi usaha belajar Bahasa Indonesia, membangun jaringan dukungan sosial dengan mahasiswa lokal dan internasional, menjaga hubungan dengan keluarga, serta berusaha mengedukasi masyarakat sekitar mengenai budaya Afrika untuk meluruskan kesalahpahaman. Penelitan ini menyimpulkan, bahwa culture shock pada komunikasi antarbudaya yang dirasakan oleh mahasiswa Gambia adalah pada awalnya mereka penuh kesulitan, terutama dalam komunikasi akibat perbedaan budaya yang cukup signifikan sehingga membuat interaksi sosial dimulai dengan lamban dan terkadang menimbulkan perasaan inferior. Hambatan komunikasi yang dialami adalah hambatan budaya, bahasa, makanan, perasaan rasisme (warna kulit). Penelitian ini menyarankan kepada setiap mahasiswa asing yang akan menempuh pendididkan tinggi di Aceh mempelajari budaya Aceh, mencakup bahasa, norma sosial, makanan, dan penerapan syariat Islam.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Culture Shock, Komunikasi Antarbudaya, Mahasiswa Internasional Gambia, Universitas Syiah Kuala.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>INTERCULTURAL COMMUNICATION</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>CULTURE EXCHANGES - SOCIOLOGY</topic>
 </subject>
 <classification>303.482</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1702991</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-10-08 20:39:51</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-09 10:00:58</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>