Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
CULTURE SHOCK PADA MAHASISWA GAMBIA DI UNIVERSITAS SYIAH KUALA
Pengarang
RIZAL OLIYA TAQWADIN - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nur Anisah - 197801192009122003 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
2110102010124
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Komunikasi(S1) / PDDIKTI : 70201
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
303.482
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Proses adaptasi di lingkungan baru merupakan sebuah tantangan, terutama bagi mahasiswa internasional yang melanjutkan studi di negara dengan budaya yang sangat berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami pengalaman culture shock atau gegar budaya yang dialami oleh mahasiswa asal Gambia selama menempuh pendidikan di Universitas Syiah Kuala, Aceh, serta untuk mengidentifikasi hambatan komunikasi yang mereka hadapi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini menggali data melalui wawancara mendalam dengan tiga orang informan mahasiswa Gambia yang telah tinggal di Aceh selama kurang lebih empat tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi para mahasiswa Gambia selaras dengan empat fase dalam teori U-Curve. Tahap awal (honeymoon) ditandai dengan euforia dan rasa penasaran terhadap budaya Aceh yang religius dan damai, namun segera diikuti oleh fase krisis (crisis). Pada fase ini, mereka menghadapi tantangan signifikan seperti hambatan bahasa, perbedaan kuliner yang ekstrem, serta yang paling menonjol adalah pengalaman diskriminasi dan stereotip negatif dari sebagian masyarakat lokal, yang menimbulkan perasaan frustrasi, marah, dan terasing. Meskipun demikian, para informan tidak bersikap pasif. Mereka secara proaktif memasuki fase pemulihan (recovery) dan penyesuaian (adjustment) dengan mengembangkan berbagai strategi. Strategi tersebut meliputi usaha belajar Bahasa Indonesia, membangun jaringan dukungan sosial dengan mahasiswa lokal dan internasional, menjaga hubungan dengan keluarga, serta berusaha mengedukasi masyarakat sekitar mengenai budaya Afrika untuk meluruskan kesalahpahaman. Penelitan ini menyimpulkan, bahwa culture shock pada komunikasi antarbudaya yang dirasakan oleh mahasiswa Gambia adalah pada awalnya mereka penuh kesulitan, terutama dalam komunikasi akibat perbedaan budaya yang cukup signifikan sehingga membuat interaksi sosial dimulai dengan lamban dan terkadang menimbulkan perasaan inferior. Hambatan komunikasi yang dialami adalah hambatan budaya, bahasa, makanan, perasaan rasisme (warna kulit). Penelitian ini menyarankan kepada setiap mahasiswa asing yang akan menempuh pendididkan tinggi di Aceh mempelajari budaya Aceh, mencakup bahasa, norma sosial, makanan, dan penerapan syariat Islam.
Kata Kunci: Culture Shock, Komunikasi Antarbudaya, Mahasiswa Internasional Gambia, Universitas Syiah Kuala.
Adapting to a new environment presents a significant challenge, particularly for international students pursuing their studies in a country with a vastly different culture. This study aims to investigate the culture shock experiences of Gambian students during their studies at Syiah Kuala University, Aceh, and to identify the communication barriers they encountered. Employing a qualitative approach with a case study design, this research gathered data through in-depth interviews with three Gambian student informants who have resided in Aceh for approximately four years. The findings indicate that the adaptation process of the Gambian students aligns with the four phases of the U-Curve theory. The initial stage (honeymoon) was characterized by euphoria and curiosity towards Aceh's religious and peaceful culture, but was soon followed by the crisis phase. In this phase, they faced significant challenges, including language barriers, extreme culinary differences, and, most prominently, experiences of discrimination and negative stereotyping from some members of the local community, leading to feelings of frustration, anger, and alienation. Despite these challenges, the informants were not passive. They proactively entered the recovery and adjustment phases by developing various coping strategies. These strategies included learning the Indonesian language, building social support networks with local and international students, maintaining family ties, and attempting to educate the local community about African culture to rectify misunderstandings. The study concludes that the culture shock experienced by Gambian students manifested significantly in intercultural communication. Initially, they faced considerable difficulties due to cultural differences, leading to slow social integration and occasional feelings of inferiority. The communication barriers they encountered included cultural differences, language, food, and racism (based on skin color). This study recommends that prospective international students in Aceh familiarize themselves with Acehnese culture, including its language, social norms, cuisine, and the application of Islamic sharia law. Keywords: Culture Shock, Intercultural Communication, Gambian International Students, Syiah Kuala University.
CULTURE SHOCK AMONG INTERNATIONAL STUDENTS (A CASE STUDY AT UNIVERSITAS SYIAH KUALA) (RIZKI MAULIDZA HAQQU, 2022)
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MENGATASI CULTURE SHOCK (STUDI PADA MAHASISWA ASING DARMASISWA DI UNIVERSITAS SYIAH KUALA) (NUR ALAWIYAH, 2018)
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN CULTURE SHOCK PADA MAHASISWA RANTAU DI UNIVERSITAS SYIAH KUALA (CUT SITTI KAMILA MUSLIM, 2025)
CULTURE SHOCK DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
(STUDI TERHADAP MAHASISWA UNIVERSITAS SYIAH KUALA YANG TERGABUNG DALAM IKATAN PELAJAR MAHASISWA MINANG BANDA ACEH) (Marisa Putri Hardani, 2014)
STRATEGI ADAPTASI TERHADAP CULTURE SHOCK PADARNMAHASISWA PAPUAYANG MENEMPUH PENDIDIKAN RNDI UNIVERSITAS SYIAH KUALA (Gina Sonia Sihombing, 2015)