STUDI ETNOBOTANI KAPUR BARUS (DRYOBALANOPS AROMATICA GAERTN.) PADA MASYARAKAT LOKAL DI KAWASAN TAHURA LAE KOMBIH KECAMATAN PENANGGALAN KOTA SUBULUSSALAM | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

STUDI ETNOBOTANI KAPUR BARUS (DRYOBALANOPS AROMATICA GAERTN.) PADA MASYARAKAT LOKAL DI KAWASAN TAHURA LAE KOMBIH KECAMATAN PENANGGALAN KOTA SUBULUSSALAM


Pengarang

RAMADANI SINAGA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Essy Harnelly - 197501092000122002 - Dosen Pembimbing I
Saida Rasnovi - 197111131997022002 - Dosen Pembimbing II
Teti Arabia - 196109141986022001 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2105150020008

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Kehutanan (Gayo Lues) (S1) / PDDIKTI : 54254

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

581.63

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Taman Hutan Raya (Tahura) Lae Kombih merupakan kawasan pelestarian alam dengan tujuan menghimpun tumbuhan dan satwa baik alam maupun buatan yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian, ilmu pengetahuan, pariwisata, dan pelestarian budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pemanfaatan tradisional kapur barus (Dryobalanops aromatica Gaertn.) oleh masyarakat lokal Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif melalui pendekatan kualitatif-kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan lima bentuk utama pemanfaatan kapur barus oleh Masyarakat yaitu sebagai bahan bangunan, obat-obatan, wewangian alami pengawet jenazah, campuran pembuatan parfum dan bahan pangan Sebagai bahan bangunan, penggunaan tertinggi terdapat di Desa Sikelang (33,33%), diikuti oleh Desa Jontor (28,21%) dan Desa Lae Ikan (25,64%). Sebagai obat-obatan, pemanfaatan tertinggi ditemukan di Desa Sikelang (25,64%), disusul oleh Desa Lae Ikan (23,8%) dan Desa Jontor (23,08%). Untuk fungsi sebagai wewangian alami pengawet jenazah, Desa Jontor mencatat angka tertinggi (30,77%), sementara Desa Sikelang dan Lae Ikan masing-masing sebesar 23,08% dan 20,51%. Sebagai campuran parfum, penggunaan tertinggi tercatat di Desa Lae Ikan (17,95%), diikuti oleh Desa Jontor (12,82%) dan Desa Sikelang (10,26%). Dalam hal pemanfaatan sebagai pangan, Desa Lae Ikan juga menunjukkan persentase tertinggi (12,82%), sedangkan Desa Sikelang dan Jontor masing-masing sebesar 7,69% dan 5,13%.

Lae Kombih Botanical Forest Park is a nature conservation area with the aim of collecting natural and artificial plants and animals that can be utilised for research, science, tourism, and cultural preservation. This study aims to determine the traditional use of camphor (Dryobalanops aromatica Gaertn.) by the local community of Penanggalan District, Subulussalam City. This research used a descriptive survey method through a qualitativequantitative approach. The results showed five main forms of camphor utilisation by the community, namely as building materials, medicines, natural fragrances for preserving corpses, perfume-making mixtures and food ingredients as building materials, the highest use was found in Sikelang Village (33.33%), followed by Jontor Village (28.21%) and Lae Ikan Village (25.64%). As medicine, the highest utilisation was found in Sikelang Village (25.64%), followed by Lae Ikan Village (23.8%) and Jontor Village (23.08%). For the function as a natural fragrance for preserving corpses, Jontor Village recorded the highest rate (30.77%), while Sikelang and Lae Ikan Villages recorded 23.08% and 20.51% respectively. As a perfume mixture, the highest use was recorded in Lae Ikan Village (17.95%), followed by Jontor Village (12.82%) and Sikelang Village (10.26%). In terms of utilisation as food, Lae Ikan village also showed the highest percentage (12.82%), while Sikelang and Jontor villages recorded 7.69% and 5.13% respectively.

Citation



    SERVICES DESK