Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PANDANGAN MASYARAKAT PIDIE TERHADAP FENOMENA TARI MEUGROB DAN ISU TRANCE
Pengarang
Tarina Seulanga - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Ramdiana - 197609162006042001 - Dosen Pembimbing I
ahmad sya'i - - - Dosen Pembimbing II
Tengku Hartati - 197108122006042001 - Penguji
Ilham Septian, Spd., M.Pd - - - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2106102030039
Fakultas & Prodi
Fakultas KIP / Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1) / PDDIKTI : 88209
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas KIP Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1)., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
793.31
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
ABSTRAK
Tarina Seulanga (2025), Pandangan Masyarakat Pidie Terhadap Fenomena
Tari Meugrob Dan Isu Trance. [Skripsi, Universitas Syiah Kuala]. Di bawah
Bimbingan Ramdiana, S.Sn., M.Sn, Dan Dr. Ahmad Syai, S.Pd., M.Sn
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan masyarakat
Gampong Pulo Lueng Teuga, Kabupaten Pidie, terhadap fenomena trance dalam
Tari Meugrob serta bagaimana masyarakat memaknai pengalaman tersebut dalam
konteks budaya dan spiritualitas lokal. Tari Meugrob merupakan seni pertunjukan
tradisional Aceh yang sarat nilai religius, sosial, dan estetika, yang sering kali
menimbulkan perdebatan karena adanya fenomena trance yang dialami oleh
penari selama pertunjukan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif
dengan analisis fenomenologi Edmund Husserl, melalui teknik pengumpulan data
berupa observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan angket. Subjek
penelitian meliputi tokoh adat, penari, pelaku budaya, dan masyarakat sekitar
Gampong Pulo Lueng Teuga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat
secara umum tidak memandang trance sebagai kesurupan atau fenomena mistis,
melainkan sebagai bentuk penghayatan spiritual yang mendalam terhadap syair,
gerak, dan irama dalam pertunjukan. Trance dipahami sebagai manifestasi dzikir
kolektif dan euforia spiritual yang memperkuat semangat kebersamaan serta
mempererat hubungan sosial masyarakat. Sementara sebagian kecil masyarakat
masih menilai fenomena tersebut sebagai hal yang perlu diluruskan dari sudut
pandang keagamaan, namun secara keseluruhan mereka tetap menganggap Tari
Meugrob sebagai warisan budaya yang bernilai religius dan patut dilestarikan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena trance dalam Tari Meugrob
bukanlah gejala mistik, melainkan ekspresi kesadaran budaya dan spiritual
masyarakat Aceh. Temuan ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan bagi
pelestarian dan pemahaman seni tradisional Aceh agar tidak tereduksi oleh
pandangan mistis, melainkan dipahami sebagai warisan budaya yang memiliki
kedalaman nilai spiritual dan sosial.
Kata kunci: Tari Meugrob, trance, fenomenologi, budaya Aceh, pandangan
masyarakat.
ABSTRACT Tarina Seulanga (2025), Pidie Community's Views on the Meugrob Dance Phenomenon and the Trance Issue. [Thesis, Syiah Kuala University]. Under the Guidance of Ramdiana, S.Sn., M.Sn, and Dr. Ahmad Syai, S.Pd., M.Sn This study aims to determine the views of the people of Gampong Pulo Lueng Teuga, Pidie Regency, regarding the trance phenomenon in the Meugrob Dance and how they interpret this experience within the context of local culture and spirituality. Meugrob Dance is a traditional Acehnese performing art steeped in religious, social, and aesthetic values, often sparking debate due to the trance phenomena experienced by dancers during the performance. The method used was a qualitative approach with Edmund Husserl's phenomenological analysis, using data collection techniques such as observation, in-depth interviews, documentation, and questionnaires. The research subjects included traditional leaders, dancers, cultural practitioners, and the community around Gampong Pulo Lueng Teuga. The results indicate that the community generally does not view trance as possession or a mystical phenomenon, but rather as a form of deep spiritual appreciation of the poetry, movement, and rhythm of the performance. Trance is understood as a manifestation of collective dhikr (remembrance of God) and spiritual euphoria that strengthens the spirit of togetherness and strengthens social ties. While a small portion of the community still views this phenomenon as something that needs to be addressed from a religious perspective, overall, they still consider the Meugrob Dance a cultural heritage with religious value and worthy of preservation. This study concludes that the trance phenomenon in the Meugrob Dance is not a mystical phenomenon, but rather an expression of the cultural and spiritual awareness of the Acehnese people. These findings are expected to serve as a reference for the preservation and understanding of Acehnese traditional arts, ensuring that they are not reduced to mystical views but rather understood as a cultural heritage possessing deep spiritual and social values. Keywords: Meugrob Dance, trance, phenomenology, Acehnese culture, public perception.
KAJIAN ETNOGRAFI TARI MEUGROB DI KABUPATEN PIDIE (Manisa, 2024)
NOTASI TARI MEUGROB DI GAMPONG PULO LUENG TEUGA KECAMATAN GLUMPANG TIGA KABUPATEN PIDIE (Nanda Putri Zuhra, 2016)
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP TARI LANG NGELEKAK DI KABUPATEN ACEH TAMIANG KECAMATAN SEURUWAY DESA IE MASEN (ALFI AKMALIA, 2018)
TARI "HASYEM MEULANGKAH" DALAM KONTEKS MASYARAKAT DI KECAMATAN KLUET TENGAH KABUPATEN ACEH SELATAN (Falidar, 2021)
EKSISTENSI TARI RATEB MEUSEKAT DI GAMPONG MEUDANG ARA BARO KECAMATAN BLANG PIDIE KABUPATEN ACEH BARAT DAYA (Badril Ummir, 2018)