PERTUNJUKAN RAPA'I GEURIMPHENG DI KAMPUNG PULO TUKOK KABUPATEN PIDIE | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    KARYA KERJA ILMIAH

PERTUNJUKAN RAPA'I GEURIMPHENG DI KAMPUNG PULO TUKOK KABUPATEN PIDIE


Pengarang

Mauliza Anggraini - Personal Name;

Dosen Pembimbing


Nomor Pokok Mahasiswa

1906102030013

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1) / PDDIKTI : 88209

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

793.31

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Mauliza Anggraini. (2025). Pertunjukan Rapa’i Geurimpheng di Kampung Pulo Tukok Kabupaten Pidie. [Skripsi. Universitas Syiah Kuala]. Di bawah bimbingan Dra. Tri Supadmi, M.Sn dan Samsuri, S.Pd., M.Ed.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan Rapa’i Geurimpheng di Kampung Pulo Tukok, Kabupaten Pidie, sebagai bagian dari seni pertunjukan tradisional Aceh. Rapa’i Geurimpheng merupakan pertunjukan yang memadukan elemen musik, gerakan, syair Islami, tata busana khas, serta pola penyajian yang terstruktur. Pertunjukan ini biasanya dimainkan dalam acara-acara keagamaan, adat, dan perayaan tertentu oleh sekelompok pemain yang disebut aneuk Rapa’i , dipimpin oleh seorang syahi atau syeh sebagai vokalis dan pengatur ritme pertunjukan.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi langsung terhadap pertunjukan, wawancara dengan tokoh seni lokal dari Sanggar Putra Baroena Batee, dan dokumentasi foto serta video. Fokus analisis diarahkan pada empat unsur utama bentuk pertunjukan, yaitu gerak, musik dan iringan, tata busana, serta tata panggung.Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak dalam pertunjukan Rapa’i Geurimpheng didominasi oleh gerakan duduk bersila, anggukan kepala, gerakan tangan, serta perpindahan posisi yang mengikuti irama tabuhan Rapa’i . Musik iringan berasal dari alat musik Rapa’i yang dimainkan secara serempak, dengan variasi ritme dari lambat hingga cepat, disertai syair religius yang dinyanyikan oleh syahi. Tata busana para pemain mencerminkan adat Aceh, dengan penggunaan kemeja berlengan panjang, celana longgar, songket, dan ikat kepala bermotif khas. Tata panggung bersifat terbuka dan sederhana, umumnya dilakukan di ruang publik seperti balai desa atau halaman meunasah, dengan penataan formasi duduk melingkar atau sejajar menghadap penonton.Secara keseluruhan, pertunjukan Rapa’i Geurimpheng di Kampung Pulo Tukok memiliki bentuk penyajian yang khas dan dinamis, serta menjadi bagian penting dari tradisi pertunjukan masyarakat setempat.

Kata Kunci: Rapa’i Geurimpheng, pertunjukan, musik tradisional, budaya Aceh.

his study aims to describe the form of the Rapa’i Geurimpheng performance in Pulo Tukok Village, Pidie Regency, as part of Aceh’s traditional performing arts. Rapa’i Geurimpheng is a performance that combines elements of music, movement, Islamic chants, traditional costumes, and a structured presentation pattern. This performance is usually staged during religious, cultural, or celebratory events by a group of performers called aneuk Rapa’i , led by a syahi or syeh who acts as the vocalist and rhythm director. This research uses a descriptive qualitative approach. Data were obtained through direct observation of performances, in-depth interviews with local art figures from the Sanggar Putra Baroena Batee, and documentation through photos and videos. The analysis focused on four main elements of performance structure: movement, music and accompaniment, costumes, and staging. The results show that the movements in Rapa’i Geurimpheng are dominated by seated postures, head nodding, hand gestures, and position shifts that follow the rhythm of the Rapa’i drum. The musical accompaniment consists of rhythmic beats from the Rapa’i drum played in unison, with varying tempos from slow to fast, combined with religious chants sung by the syahi. The costumes worn by the performers reflect Acehnese cultural identity, consisting of long-sleeved shirts, loose trousers, songket, and traditional headbands. The stage setting is generally open and simple, typically held in public spaces such as village halls or mosque courtyards, with players arranged in circular or straight formations facing the audience. Overall, the Rapa’i Geurimpheng performance in Pulo Tukok Village has a distinctive and dynamic presentation structure, serving as an essential component of the local community’s performance tradition. Keywords: Rapa’i Geurimpheng, performance, traditional music, Acehnese culture.

Citation



    SERVICES DESK