AN ANALYSIS OF CONNOTATIVE AND DENOTATIVE MEANINGS OF GAYO PROVERBS 'SUMANG' | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

AN ANALYSIS OF CONNOTATIVE AND DENOTATIVE MEANINGS OF GAYO PROVERBS 'SUMANG'


Pengarang

SALAWATI - Personal Name;

Dosen Pembimbing


Nomor Pokok Mahasiswa

2106102020008

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Bahasa Inggris (S1) / PDDIKTI : 88203

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP Bahasa Inggris.,

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Masyarakat Gayo di Aceh Tengah menjunjung tinggi Sumang, yaitu sebuah kode moral yang
diwujudkan dalam pepatah-pepatah sebagai mekanisme budaya untuk menjaga martabat, etika, dan
tatanan sosial. Penelitian ini menganalisis makna denotatif dan konotatif pepatah Gayo tentang Sumang
dengan menerapkan kerangka semantik Lyons (1995) dan Leech (1981). Dengan menggunakan metode
deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan sepuluh informan
yang dipilih secara purposif, observasi partisipan, dan analisis dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna denotatif pepatah Sumang mengekspresikan aturan moral
dan larangan yang bersifat eksplisit, sedangkan makna konotatif mengungkapkan nilai-nilai budaya
yang lebih mendalam yang menuntun perilaku dan menjaga keharmonisan komunal. Pepatah-pepatah
tersebut dikategorikan ke dalam empat ranah: Sumang Perceraken (aturan berbicara), Sumang
Pelangkahen (aturan perjalanan), Sumang Pekunulen (aturan tempat dan sikap tubuh), dan Sumang
Penengonen (aturan pandangan). Meskipun modernisasi telah memengaruhi kehidupan sehari-hari,
pepatah-pepatah ini tetap berfungsi sebagai sarana pengajaran moral, pelestarian identitas, dan
pewarisan budaya lintas generasi.
Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami hubungan antara bahasa dan budaya, sekaligus
menawarkan wawasan bagi penelitian linguistik, pelestarian budaya, serta integrasi kearifan lokal
dalam pendidikan.

The Gayo community in Central Aceh upholds Sumang, a moral code expressed in proverbs that function as cultural mechanisms to maintain dignity, ethics, and social order. This research analyzes the denotative and connotative meanings of Gayo proverbs on Sumang by applying the semantic framework of Lyons (1995) and Leech (1981). Using a qualitative descriptive method, data were collected through semi-structured interviews with ten purposively selected informants, participant observation, and documentation analysis. The findings indicate that the denotative meanings of Sumang proverbs express explicit moral rules and prohibitions, while the connotative meanings reveal deeper cultural values that guide behavior and sustain communal harmony. These proverbs are categorized into four domains: Sumang Perceraken (rules of speech), Sumang Pelangkahen (rules of travel), Sumang Pekunulen (rules of place and posture), and Sumang Penengonen (rules of gaze). Although modernization has influenced daily life, the proverbs continue to function as tools for moral instruction, identity preservation, and cultural transmission across generations. This study contributes to understanding the relationship between language and culture, while offering insights for linguistic research, cultural preservation, and the integration of local wisdom into education.

Citation



    SERVICES DESK