Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KAJIAN SEMIOTIKA BENANG MERAH PADA PERTUNJUKAN TEATER WAKTU TANPA BUKU SUTRADARA FARHAN RISZKI MUTTAQIN
Pengarang
SAFRINA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Ramdiana - 197609162006042001 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
2106102030014
Fakultas & Prodi
Fakultas KIP / Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1) / PDDIKTI : 88209
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas KIP., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
401.41
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Safrina (2025). Kajian Semiotika Benang Merah Pada Pertunjukan Teater Waktu Tanpa Buku Sutradara Farhan Riszki Muttaqin [Skripsi Universitas Syiah Kuala]. Dibawah bimbingan Ramdiana, S.Sn., M.Sn. dan Ismawan, S.Sn., M.Sn
Penelitian ini berjudul “Kajian Semiotika Benang Merah Pada Pertunjukan Teater Waktu Tanpa Buku Sutradara Farhan Riszki Muttaqin” bertujuan untuk mengkaji makna properti benang merah dalam pertunjukan Waktu Tanpa Buku karya sutradara Farhan Riszki Muttaqin dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Pertunjukan ini merupakan bagian dari pagelaran mata kuliah Teknik Komposisi dan Seni Peran oleh mahasiswa Teater angkatan 21 yang mengangkat isu trauma, pelanggaran hak asasi manusia, dan ingatan kolektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan teknik observasi, dokumentasi, serta wawancara dengan sutradara dan aktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa properti benang merah memiliki makna denotatif sebagai properti visual dan hand property yang digunakan secara aktif dalam aksi panggung. Sedangkan pada makna konotatif, benang merah merepresentasikan trauma kolektif, keterikatan masa lalu, dan luka sejarah yang belum pulih. Properti ini berfungsi sebagai simbol keterhubungan antar tokoh dan peristiwa, menjembatani masa lalu dan masa kini, serta membentuk struktur dramatik yang berlapis. Dalam kerangka semiotika Barthes, benang merah menjadi sistem tanda yang tidak hanya menunjuk pada fungsi fisiknya, tetapi juga menyimpan makna sosial dan emosional yang mendalam. Kesimpulannya, penggunaan benang merah dalam pertunjukan ini tidak hanya memperkuat kekuatan visual, tetapi juga menghadirkan pengalaman reflektif bagi penonton terhadap isu-isu kemanusiaan yang dibungkam. Pertunjukan ini memperlihatkan keberanian artistik sutradara dalam menggabungkan unsur realis dan surealis sebagai bentuk eksplorasi pertunjukan.
Safrina (2025). Semiotics Study of Red Threads in Time Without Books Theater Performance Directed by Farhan Riszki Muttaqin [Thesis, Syiah Kuala University]. Under the guidance of Ramdiana, S.Sn., M.Sn. and Ismawan, S.Sn., M.Sn.. This research entitled “Semiotics Study of Red Thread in Time Without Books Theater Performance by Director Farhan Riszki Muttaqin” aims to examine the meaning of red thread property in Time Without Books performance by director Farhan Riszki Muttaqin with Roland Barthes semiotics approach. This performance is part of the performance of the Composition Technique and Role Art course by the 21st batch of Theater students who raised the issue of trauma, human rights violations, and collective memory. This research uses a qualitative-descriptive method with observation, documentation, and interviews with the director and actors. The results showed that the red thread property has a denotative meaning as a visual property and hand property that is actively used in stage action. As for the connotative meaning, the red thread represents collective trauma, past entanglements, and unhealed historical wounds. This property functions as a symbol of the connection between characters and events, bridging the past and present, and forming a layered dramatic structure. In Barthes' semiotic framework, red thread becomes a sign system that not only points to its physical function, but also holds deep social and emotional meanings. In conclusion, the use of red thread in this performance not only strengthens the visual power, but also presents a reflective experience for the audience on silenced humanitarian issues. This performance shows the director's artistic courage in combining realist and surreal elements as a form of performance exploration.
PENYUTRADARAAN PERTUNJUKAN TEATER KOLABORASI "SUATU KETIKA DI BANDAR LAMURI" (ANISA FITRI, 2021)
ANALISIS IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM PERTUNJUKAN TEATER KOKAKI MAHASISWA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA : PENDEKATAN SEMIOTIK CHARLES SANDERS PEIRCE (Sefti Sari Nanda, 2025)
KAJIAN SEMIOTIKA PERTUNJUKAN DRAMATISASI PUISI DENGAN JUDUL “PERISAK” (Melia Yusfiza, 2024)
PERANCANGAN GEDUNG PERTUNJUKAN SENI DI BANDA ACEH (Deddy Handayani, 2014)
RE-KREASI PERTUNJUKAN TARI SINING KE DALAM PERTUNJUKAN TEATER SINING GUGAT (Raihanul Nisa, 2026)