<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1702333">
 <titleInfo>
  <title>KAJIAN SEMIOTIKA BENANG MERAH PADA PERTUNJUKAN TEATER WAKTU TANPA BUKU SUTRADARA FARHAN RISZKI MUTTAQIN</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>SAFRINA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas KIP</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Safrina (2025). Kajian Semiotika Benang Merah Pada Pertunjukan Teater Waktu Tanpa Buku Sutradara Farhan Riszki Muttaqin [Skripsi Universitas Syiah Kuala]. Dibawah bimbingan Ramdiana, S.Sn., M.Sn. dan Ismawan, S.Sn., M.Sn&#13;
Penelitian ini berjudul “Kajian Semiotika Benang Merah Pada Pertunjukan Teater Waktu Tanpa Buku Sutradara Farhan Riszki Muttaqin” bertujuan untuk mengkaji makna properti benang merah dalam pertunjukan Waktu Tanpa Buku karya sutradara Farhan Riszki Muttaqin dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Pertunjukan ini merupakan bagian dari pagelaran mata kuliah Teknik Komposisi dan Seni Peran oleh mahasiswa Teater angkatan 21 yang mengangkat isu trauma, pelanggaran hak asasi manusia, dan ingatan kolektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan teknik observasi, dokumentasi, serta wawancara dengan sutradara dan aktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa properti benang merah memiliki makna denotatif sebagai properti visual dan hand property yang digunakan secara aktif dalam aksi panggung. Sedangkan pada makna konotatif, benang merah merepresentasikan trauma kolektif, keterikatan masa lalu, dan luka sejarah yang belum pulih. Properti ini berfungsi sebagai simbol keterhubungan antar tokoh dan peristiwa, menjembatani masa lalu dan masa kini, serta membentuk struktur dramatik yang berlapis. Dalam kerangka semiotika Barthes, benang merah menjadi sistem tanda yang tidak hanya menunjuk pada fungsi fisiknya, tetapi juga menyimpan makna sosial dan emosional yang mendalam. Kesimpulannya, penggunaan benang merah dalam pertunjukan ini tidak hanya memperkuat kekuatan visual, tetapi juga menghadirkan pengalaman reflektif bagi penonton terhadap isu-isu kemanusiaan yang dibungkam. Pertunjukan ini memperlihatkan keberanian artistik sutradara dalam menggabungkan unsur realis dan surealis sebagai bentuk eksplorasi pertunjukan.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>SEMIOTICS - LINGUISTICS</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>THEATER - PERFORMING ARTS</topic>
 </subject>
 <classification>401.41</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1702333</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-09-23 07:15:05</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-09-23 10:58:29</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>