DARI DESA PETANI MENJADI DESA WISATA: DESA NUSA, 2005-2023 | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

DARI DESA PETANI MENJADI DESA WISATA: DESA NUSA, 2005-2023


Pengarang

Haikal Ananda - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Drs. Mawardi, M.Hum., - 196803281993031001 - - - Dosen Pembimbing I
Alfian - 198810312022031007 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2106101020023

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Sejarah (S1) / PDDIKTI : 87201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

907.2

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Penelitian ini membahas pengembangan Desa Nusa, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, dari desa pertanian menjadi desa wisata pada periode 2005–2023. Desa Nusa awalnya merupakan wilayah pertanian yang terdampak berat oleh bencana tsunami 2004. Namun, melalui upaya kolektif masyarakat pascabencana, terutama inisiatif kelompok perempuan dalam komunitas Nusa Creation Community (NCC), desa ini perlahan bangkit dan mengembangkan konsep desa wisata berbasis masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah, yang mencakup tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Data dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka dari berbagai sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi Desa Nusa diawali dari pengelolaan sampah dan penguatan ekonomi kreatif, kemudian berkembang dengan terbentuknya Lembaga Pariwisata Nusa (LPN) dan pembangunan homestay. Pada tahun 2015, Desa Nusa resmi ditetapkan sebagai desa wisata dan terus mengalami kemajuan hingga meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2021. Perubahan yang terjadi mencakup aspek ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. Ekonomi lokal mengalami diversifikasi melalui produk unggulan seperti keripik daun kari dan asam sunti. Budaya lokal pun dilestarikan melalui kegiatan seni, edukasi lingkungan, dan pariwisata berbasis tradisi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa partisipasi aktif masyarakat, khususnya peran perempuan dan pemuda, menjadi faktor kunci keberhasilan pembangunan desa berbasis potensi lokal dan prinsip keberlanjutan.

This study discusses the development of Nusa Village, located in Lhoknga Subdistrict, Aceh Besar Regency, from an agricultural village into a tourist village during the period of 2005–2023. Initially, Nusa Village was an agricultural area severely affected by the 2004 tsunami disaster. However, through the collective efforts of the post-disaster community particularly the initiative of women through the Nusa Creation Community (NCC) the village gradually recovered and developed a community-based tourism concept. This research employs a qualitative approach using historical methods, which include the stages of heuristics, verification, interpretation, and historiography. Data were collected through interviews, documentation, and literature studies from various primary and secondary sources. The findings indicate that the transformation of Nusa Village began with community-based waste management and the strengthening of creative economy initiatives. This progress was followed by the establishment of the Nusa Tourism Institution (LPN) and the development of homestays. In 2015, Nusa Village was officially designated as a tourist village and continued to advance, culminating in the achievement of the Indonesian Tourism Village Award (ADWI) in 2021. The changes observed include economic, social, and cultural aspects of the community. The local economy has diversified through flagship products such as curry leaf chips and asam sunti (sun dried sour fruit). Local culture is preserved through art activities, environmental education, and tradition-based tourism. This study concludes that active community participation especially the role of women and youth has been a key factor in the successful development of the village based on local potential and the principle of sustainability.

Citation



    SERVICES DESK