Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PROSESI ADAT BERINAI PADA PENGANTIN ACEH
Pengarang
Putri Nurul Aflah - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nomor Pokok Mahasiswa
2006104010064
Fakultas & Prodi
Fakultas KIP / Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (S1) / PDDIKTI : 83206
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas FKIP (S1)., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
390
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Prosesi adat berinai merupakan salah satu tradisi penting dalam budaya pernikahan masyarakat Aceh yang kaya akan nilai-nilai filosofi dan spiritual. Prosesi ini biasanya dilakukan menjelang hari pernikahan dan melibatkan pengukir inai untuk mengaplikasikan inai pada tangan dan kaki pengantin wanita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prosesi adat berinai di Banda Aceh, mengidentifikasi perubahan atau evolusi dalam penggunaan inai oen gaca seiring berjalannya waktu, serta memahami tingkat ketertarikan pengantin dalam mempertahankan penggunaan inai oen gaca dalam acara pernikahan di Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek berjumlah tujuh orang yang terdiri dari tiga orang tokoh adat, dua orang pengukir inai, dan dua orang pengantin. Pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan tradisi berinai di Aceh merupakan bagian penting dari budaya pernikahan yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan religius yang kini menghadapi modernisasi. Seiring waktu, penggunaan inai instan semakin populer karena praktis, meski mengurangi nilai tradisional, sebagian pengantin tetap memilih inai oen gaca karena dianggap lebih islami dan tahan lama. Meskipun dalam adat Aceh pada umumnya inai lebih sering diterapkan pada pengantin wanita tetapi di daerah Aceh Barat dan Aceh Selatan, pengantin pria juga menggunakan inai pada bagian kuku. Hal ini menunjukkan adanya variasi dalam penerapan tradisi berinai di berbagai wilayah Aceh dan bahwa inai memiliki makna yang tidak terbatas pada gender, tetapi lebih pada simbolisme komunitas, persatuan, dan kesiapan memasuki fase kehidupan yang baru. Motif tradisional mulai tergeser oleh desain modern, namun pengukir inai terus berupaya melestarikannya dengan tetap mendesain motif Aceh pada bagian-bagian tertentu.
The berinai traditional ceremony is one of the important traditions in the wedding culture of Acehnese society, rich in philosophical and spiritual values. This ceremony is usually held before the wedding day and involves a henna artist applying henna to the bride's hands and feet. The aim of this study is to explore the berinai tradition in Banda Aceh, to identify the changes or evolution in the use of inai oen gaca over time, and to understand the level of interest among brides in preserving the use of inai oen gaca in Acehnese wedding ceremonies. This study employs a qualitative approach. The method used is descriptive research with a qualitative approach. The subjects consisted of seven individuals, including three traditional leaders, two henna artists, and two brides. Data was collected through observation, interviews, and documentation. The results show that the berinai tradition in Aceh is a significant part of the wedding culture, carrying historical, philosophical, and religious values, yet currently facing modernization. Over time, the use of instant henna has become more popular due to its practicality, although it diminishes traditional values. Nonetheless, some brides still prefer inai oen gaca as it is considered more Islamic and longer-lasting. Although in Acehnese tradition henna is more commonly applied to brides, in regions such as West Aceh and South Aceh, grooms also apply henna to their nails. This indicates a variation in the practice of the berinai tradition across different regions in Aceh, and that henna carries meanings that are not limited to gender, but rather symbolize community, unity, and readiness to enter a new phase of life.Traditional motifs are gradually being replaced by modern designs, yet henna artists continue to strive to preserve them by incorporating Acehnese patterns in certain areas.
NILAI -NILAI YANG TERKANDUNG DALAM PROSESI ADAT NYENE AMAN MAYAK (PERKENALAN PENGANTIN PRIA) DI KECAMATAN BLANGKEJEREN KABUPATEN GAYO LUES (Maria, 2022)
NILAI -NILAI YANG TERKANDUNG DALAM PROSESI ADAT NYENE AMAN MAYAK (PERKENALAN PENGANTIN PRIA) DI KECAMATAN BLANGKEJEREN KABUPATEN GAYO LUES (Maria, 2022)
PROSES UPACARA BERINAI PADA PENGANTIN DI DESA TEUBANG PHUI BARU KECAMATAN MONTASIK KABUPATEN ACEH BESAR (Novianti Surya Putri, 2018)
EKSISTENSI BUDAYA DAN ADAT PERKAWINAN GAYO DI BANDA ACEH (Dinda Maulida, 2022)
TRADISI UPACARA PERKAWINAN ADAT JAWA DI KOTA LANGSA (KIKI SYAFRIDAYANTI, 2021)