<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="170189">
 <titleInfo>
  <title>PROSESI ADAT BERINAI PADA PENGANTIN ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Putri Nurul Aflah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas FKIP (S1)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Prosesi adat berinai merupakan salah satu tradisi penting dalam budaya pernikahan masyarakat Aceh yang kaya akan nilai-nilai filosofi dan spiritual. Prosesi ini biasanya dilakukan menjelang hari pernikahan dan melibatkan pengukir inai untuk mengaplikasikan inai pada tangan dan kaki pengantin wanita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prosesi adat berinai di Banda Aceh, mengidentifikasi perubahan atau evolusi dalam penggunaan inai oen gaca seiring berjalannya waktu, serta memahami tingkat ketertarikan pengantin dalam mempertahankan penggunaan inai oen gaca dalam acara pernikahan di Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek berjumlah tujuh orang yang terdiri dari tiga orang tokoh adat, dua orang pengukir inai, dan dua orang pengantin. Pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan tradisi berinai di Aceh merupakan bagian penting dari budaya pernikahan yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan religius yang kini menghadapi modernisasi. Seiring waktu, penggunaan inai instan semakin populer karena praktis, meski mengurangi nilai tradisional, sebagian pengantin tetap memilih inai oen gaca karena dianggap lebih islami dan tahan lama. Meskipun dalam adat Aceh pada umumnya inai lebih sering diterapkan pada pengantin wanita tetapi di daerah Aceh Barat dan Aceh Selatan, pengantin pria juga menggunakan inai pada bagian kuku. Hal ini menunjukkan adanya variasi dalam penerapan tradisi berinai di berbagai wilayah Aceh dan bahwa inai memiliki makna yang tidak terbatas pada gender, tetapi lebih pada simbolisme komunitas, persatuan, dan kesiapan memasuki fase kehidupan yang baru. Motif tradisional mulai tergeser oleh desain modern, namun pengukir inai terus berupaya melestarikannya dengan tetap mendesain motif Aceh pada bagian-bagian tertentu.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>CUSTOMS (PRACTICES)</topic>
 </subject>
 <classification>390</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>170189</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-09-08 23:58:44</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-09-09 15:09:41</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>