ANALISI KERENTANAN DAN STRATEGI ADAPTASI MASYARAKAT DI WILAYAH RURAL URBAN FRINGE BANDA ACEH-ACEH BESAR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISI KERENTANAN DAN STRATEGI ADAPTASI MASYARAKAT DI WILAYAH RURAL URBAN FRINGE BANDA ACEH-ACEH BESAR


Pengarang

RINDI OKTAVIA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Sofyan - 196611051992031004 - Dosen Pembimbing I
Irfan Zikri - 198004042006041003 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2105102010020

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Agribisnis (S1) / PDDIKTI : 54201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

307.26

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerentanan dan strategi adaptasi masyarakat di wilayah rural–urban fringe Banda Aceh–Aceh Besar yang mengalami tekanan akibat urbanisasi dan transformasi sosial ekonomi. Pendekatan yang digunakan adalah metode kuantitatif-deskriptif dengan teknik pengukuran Social-Economic Vulnerability Index (SeVI). Tiga dimensi utama dianalisis dalam penelitian ini, yaitu keterpaparan (exposure), sensitivitas (sensitivity), dan kapasitas adaptasi (adaptive capacity), yang mencakup indikator sosial dan ekonomi. Pengambilan data dilakukan pada 20 desa terpilih menggunakan metode systematic sampling, dengan total 500 responden yang dipilih secara purposive berdasarkan keterwakilan karakteristik sosial ekonomi wilayah fringe.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerentanan masyarakat secara keseluruhan berada pada kategori sedang, dengan nilai indeks SeVI sebesar 0,4677. Nilai indeks keterpaparan masyarakat tergolong tinggi (0,7164), yang didominasi oleh tekanan alih fungsi lahan, kesulitan akses mata pencaharian, serta kenaikan harga lahan. Sensitivitas berada pada kategori sedang ke rendah (0,4088), ditunjukkan oleh menurunnya kepercayaan sosial, terkikisnya nilai budaya lokal, namun masih ditopang oleh kondisi kesehatan masyarakat yang cukup baik. Sementara itu, kapasitas adaptasi tergolong tinggi (0,7222), terutama karena tingginya skor pada indikator diversifikasi penghidupan, akses terhadap pelatihan kerja, dan partisipasi dalam jaringan sosial masyarakat.
Strategi adaptasi dianalisis secara deskriptif berdasarkan kecenderungan perilaku adaptif masyarakat terhadap kondisi yang berkembang. Masyarakat merespons tekanan tersebut dengan memperluas sumber penghidupan melalui usaha informal dan jasa, mengikuti pelatihan keterampilan dari berbagai program, memanfaatkan teknologi secara terbatas, serta aktif dalam kegiatan komunitas lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun masyarakat menghadapi tekanan sosial dan ekonomi, mereka tetap memiliki kapasitas untuk menyesuaikan diri. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan perlunya dukungan kebijakan berbasis lokal dan multisektor untuk memperkuat kapasitas adaptif masyarakat di wilayah perbatasan kota dan desa.

This study aims to analyze the vulnerability levels and adaptation strategies of communities in the rural-urban fringe of Banda Aceh-Aceh Besar, which are experiencing pressures due to urbanization and socioeconomic transformation. The approach used is a quantitative-descriptive method using the Socio-Economic Vulnerability Index (SeVI) measurement technique. Three main dimensions are analyzed in this study: exposure, sensitivity, and adaptive capacity, encompassing social and economic indicators. Data were collected in 20 selected villages using a systematic sampling method, with a total of 500 respondents selected purposively based on their representation of the socioeconomic characteristics of the fringe region. The results indicate that the overall level of community vulnerability is moderate, with a SeVI index value of 0.4677. The community exposure index value is high (0.7164), dominated by pressures from land conversion, difficulties in accessing livelihoods, and rising land prices. Sensitivity was in the medium to low category (0.4088), indicated by declining social trust and the erosion of local cultural values, but still supported by relatively good community health. Meanwhile, adaptive capacity was high (0.7222), primarily due to high scores on indicators of livelihood diversification, access to job training, and participation in community social networks. Adaptation strategies were analyzed descriptively based on the community's adaptive behavioral tendencies to evolving conditions. The community responded to these pressures by expanding livelihoods through informal businesses and services, participating in skills training programs, utilizing technology to a limited extent, and being active in local community activities. These findings indicate that despite facing social and economic pressures, the community still possesses the capacity to adapt. Therefore, this study recommends the need for locally based and multi-sectoral policy support to strengthen the adaptive capacity of communities in urban and rural border areas.

Citation



    SERVICES DESK