PEMETAAN SEBARAN SITUS ARKEOLOGI BENTENG GUNUNG BIRAM, KABUPATEN ACEH BESAR MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS 2D KONFIGURASI WENNER-SCHLUMBERGER | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PEMETAAN SEBARAN SITUS ARKEOLOGI BENTENG GUNUNG BIRAM, KABUPATEN ACEH BESAR MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS 2D KONFIGURASI WENNER-SCHLUMBERGER


Pengarang

FATIMAH AZZAHRA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Nazli - 197104212000031002 - Dosen Pembimbing I
Zakia Masrurah - 199311132019032017 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2104107010036

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Geofisika (S1) / PDDIKTI : 33201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

622.15

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Benteng Gunung Biram ini terletak di Desa Lamtamot, Kecamatan Lembah Seulawah tepat berada di jalur patahan aktif membentang dari Lampung hingga ke Laut Andaman yang dikenal dengan The Great Sumatran Fault tepatnya di Segmen Seulimeum. Keadaan tersebut menjadikan Situs Benteng Gunung Biram rentan terhadap ancaman kerusakan benteng seperti ancaman geologis, ancaman internal serta ancaman eksternal lainnya. Situs warisan cagar budaya dapat memberikan wawasan tentang sejarah dan kebudayaan lokal serta peranannya dalam konteks pertahanan di masa lampau serta menjadi objek studi yang vital untuk penelitian arkeologi agar bisa dikaji dan digali lagi. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode geolistrik resistivitas dengan konfigurasi Wenner-Schlumberger untuk mengidentifikasi dan memetakan objek arkeologi yang terkubur. Akuisisi data dilakukan menggunakan Resistivitymeter MAE X612EM dengan 48 elektroda pada setiap lintasan dengan spasi elektroda 1 meter, dan total 2 lintasan yang saling sejajar. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Res2Dinv untuk menghasilkan model resistivitas 2D. Hasil pengolahan data menunjukkan variasi nilai resistivitas antara 22,5 – 997 Ωm. Nilai resistivitas antara 22,5–100 Ωm diinterpretasikan sebagai lempung, sementara nilai reistivitas 101 – 500 Ωm diidentifikasi sebagai pasir dan kerikil dan nilai resistivitas 501 – 997 Ωm diidentifikasi sebagai batuan vulkanik yang merupakan pondasi benteng. Beberapa hasil penting dari penelitian ini menunjukkan bahwa area yang diteliti merupakan sebuah situs arkeologi. Selain itu, keberadaan pondasi benteng di lokasi tersebut tampak jelas melalui model penampang resistivitas 2D, yang membuka peluang untuk melakukan rekonstruksi bangunan benteng di masa mendatang. Temuan arkeologi ini diharapkan mampu mengungkap situs bersejarah yang sebelumnya belum diketahui, sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap upaya konservasi dan pelestarian situs-situs arkeologi.

Kata Kunci: Resistivitas, Benteng Gunung Biram, Wenner-Schlumberger, Arkeologi

Gunung Biram Fort is located in Lamtamot Village, Seulawah Valley Sub-district right on an active fault line stretching from Lampung to the Andaman Sea known as The Great Sumatran Fault precisely in the Seulimeum Segment. This situation makes the Gunung Biram Fort Site vulnerable to threats to fort damage such as geological threats, internal threats and other external threats. Cultural heritage sites can provide insight into local history and culture and their role in the context of defence in the past and become vital study objects for archaeological research so that they can be studied and explored again. This research was conducted using resistivity geoelectric method with Wenner-Schlumberger configuration to identify and map buried archaeological objects. Data acquisition was carried out using a MAE X612EM Resistivitymeter with 48 electrodes on each track with an electrode spacing of 1 metre, and a total of 2 parallel tracks. Data processing was carried out using Res2Dinv software to produce a 2D resistivity cross-section model. The results of data processing show a variation in resistivity values between 22.5 - 997 Ωm. Resistivity values between 22.5 - 100 Ωm were interpreted as clay, while resistivity values of 101 - 500 Ωm were identified as sand and gravel and resistivity values of 501 - 997 Ωm were identified as volcanic rock which is the foundation of the fort. Some important results of this study indicate that the area under study is an archaeological site. In addition, the presence of a fort foundation at the site is clearly visible through the 2D resistivity cross-section model, which opens up opportunities for reconstructing the fort building in the future. These archaeological findings are expected to reveal previously unknown historical sites, thus making a significant contribution to the conservation and preservation of archaeological sites. Keywords: Resistivity, Biram Mountain Fort, Wenner-Schlumberger, Archaeology

Citation



    SERVICES DESK