<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="169155">
 <titleInfo>
  <title>IMPLIKASI HUKUM KEABSAHAN AKTA PERALIHAN HAK RNATAS TANAH YANG DIBUAT PEJABAT PEMBUAT AKTA RNTANAH TANPA MELAKUKAN PENGECEKAN SERTIPIKAT</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Opra Wirdatul Tipla</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Hukum / Prodi Kenotariatan (S2)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>IMPLIKASI HUKUM KEABSAHAN AKTA PERALIHAN HAK ATAS TANAH &#13;
YANG DIBUAT PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH TANPA MELAKUKAN &#13;
PENGECEKAN SERTIPIKAT &#13;
ABSTRAK &#13;
Opra Wirdatul Tifla * &#13;
Yanis Rinaldi** &#13;
Novi Sri Wahyuni*** &#13;
Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) memiliki kewajiban hukum untuk melaksanakan &#13;
tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk melakukan &#13;
pengecekan sertipikat sebelum membuat akta peralihan hak atas tanah sebagaimana diatur &#13;
dalam Pasal 97 ayat (1) Peraturan Menteri ATR/BPN No. 3 Tahun 1997 yang telah diubah &#13;
terakhir dengan Peraturan Menteri ATR/BPN No. 16 Tahun 2021. Selain itu, ketentuan &#13;
mengenai jabatan PPAT diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 tentang &#13;
Peraturan Jabatan PPAT yang telah diubah dengan PP No. 24 Tahun 2016. Dalam praktiknya, &#13;
masih ditemukan pelanggaran oleh PPAT yang tidak melaksanakan pengecekan sertipikat &#13;
sebagaimana mestinya, seperti pada kasus di Kabupaten Nagan Raya. &#13;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis mekanisme &#13;
pengecekan sertipikat peralihan hak atas tanah yang di buat PPAT, akibat hukum akta peralihan &#13;
hak atas tanah tanpa pengecekan PPAT, perlindungan hukum bagi pihak pembeli tanah dalam &#13;
peralihan hak atas tanah tanpa pengecekan sertipikat oleh PPAT. &#13;
Metode Penelitan yang digunakan adalah yuridis normatif, dan Penelitian hukum ini &#13;
menggunakan pendekatan kasus (case approach) dan perundang-undangan (Statute &#13;
Approach). &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah memiliki peran &#13;
strategis dan tanggung jawab hukum dalam menjamin keabsahan peralihan hak atas tanah. &#13;
Dalam pelaksanaan tugasnya, PPAT diwajibkan melakukan pengecekan sertipikat di Kantor &#13;
Pertanahan atau melalui sistem elektronik sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. &#13;
Kelalaian dalam menjalankan kewajiban tersebut terbukti dapat menyebabkan akta menjadi &#13;
cacat formil, kehilangan kekuatan sebagai akta otentik, serta menimbulkan sengketa hukum &#13;
yang berdampak pada pertanggungjawaban administratif, etik, maupun perdata. Oleh karena &#13;
itu, hasil penelitian menegaskan pentingnya prinsip kehati-hatian, netralitas, dan penguasaan &#13;
regulasi oleh PPAT, khususnya yang diatur dalam PP No. 37 Tahun 1998 jo. PP No. 24 Tahun &#13;
2016, PP No. 24 Tahun 1997, dan kode etik profesi, untuk memberikan perlindungan hukum &#13;
yang optimal bagi para pihak serta mencegah potensi gugatan di kemudian hari. &#13;
Disarankan agar PPAT senantiasa melakukan pengecekan sertipikat secara cermat &#13;
sebelum membuat akta peralihan hak atas tanah guna memastikan keabsahan status hukum &#13;
tanah, mencegah cacat hukum, dan menghindari pelanggaran ketentuan kepemilikan oleh pihak &#13;
asing. Selain itu, PPAT perlu meningkatkan kompetensi, memverifikasi kebenaran formil dan &#13;
materiil, serta mematuhi seluruh regulasi dan kode etik profesi agar dapat memberikan &#13;
perlindungan hukum yang optimal dan menghindari risiko sengketa di kemudian hari. &#13;
Disarankan kepada BPN untuk meningkatkan pembinaan dan pengawasan PPAT dalam menjalankan tupoksinya, agar akta jual beli tanah memberikan kepastian hukum dan &#13;
memberikan perlindungan hukum bagi para pihak. &#13;
Kata Kunci: Impikasi Hukum, Keabsahan, Akta, Tanpa Pengecekan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>LAND - PROPERTY LAW - LAW</topic>
 </subject>
 <classification>343.054</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>169155</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-08-08 11:12:52</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-08-19 11:46:00</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>