<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="168531">
 <titleInfo>
  <title>MODEL PENGEMBANGAN RANTAI PASOK KEBERLANJUTAN PERKEBUNAN NILAM RAKYAT MENGGUNAKAN PENDEKATAN MANAJEMEN RISIKO DI PROVINSI ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sofia Keumalasari</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Prodi Program Doktor Ilmu Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Indonesia khususnya Provinsi Aceh merupakan produsen utama minyak nilam dunia yang menguasai hingga 90% pangsa pasar global.  Keberlanjutan usaha nilam rakyat dihadapkan pada tantangan besar berupa fluktuasi harga dan produksi, yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani kecil sebagai pelaku utama. Ketika harga turun banyak petani tidak merawat atau memanen nilam, sehingga kesinambungan pasokan dan kualitas ekspor terancam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis risiko dalam rantai pasok nilam di Aceh, mengukur tingkat keberlanjutan rantai pasok, serta membangun model skenario berbasis sistem dinamik untuk memperkuat keberlanjutan.&#13;
Penelitian dilakukan di tiga kabupaten utama penghasil nilam, yaitu Aceh Jaya, Aceh Selatan, dan Gayo Lues, dengan melibatkan 172 responden yang terdiri dari petani, koperasi, agen, pemerintah, dan pelaku usaha terkait. Data dikumpulkan melalui observasi, survei, wawancara, dan kuesioner. Analisis risiko menggunakan metode House of Risk (HOR) untuk mengidentifikasi, memprioritaskan, dan memitigasi risiko utama dalam rantai pasok. Selanjutnya, analisis tingkat keberlanjutan dilakukan dengan Multidimensional Scaling (MDS), yang menilai lima dimensi utama: ekologi, ekonomi, sosial, infrastruktur-teknologi, dan hukum-kelembagaan. Hasil kedua analisis tersebut kemudian digunakan sebagai dasar dalam membangun model rantai pasok untuk simulasi perbaikan dan penguatan jangka panjang.&#13;
Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa risiko tertinggi yang menghambat keberlanjutan rantai pasok nilam di Aceh antara lain penggunaan bahan bakar kayu untuk penyulingan yang tidak ramah lingkungan, terbatasnya jumlah agen penampung nilam, tidak adanya inovasi produk turunan, keterbatasan modal usaha tani, tidak adanya proses pembuatan pupuk organik, serta kurangnya perawatan dan pemberian pupuk selama berusahatani. Analisis HOR pada tingkat provinsi menegaskan bahwa tiga risiko utama yang perlu segera diatasi adalah penggunaan kayu bakar pada proses penyulingan, keterbatasan jumlah agen penampung, dan minimnya inovasi produk turunan berbasis minyak nilam. Sementara itu, pada tingkat kabupaten, terdapat variasi risiko prioritas, seperti kurangnya pemberian pupuk dan perawatan di Aceh Jaya, serta keterbatasan modal dan proses pembuatan pupuk organik di Aceh Selatan dan Gayo Lues.&#13;
Analisis MDS memperlihatkan bahwa dimensi ekologi berada pada kategori tidak berkelanjutan (indeks 40), sedangkan dimensi ekonomi, infrastruktur-teknologi, dan hukum-kelembagaan masuk kategori cukup berkelanjutan (indeks 46–51). Dimensi sosial sudah berkelanjutan (indeks 72), menunjukkan kekuatan pada aspek kerjasama dan kelembagaan sosial petani. Rata-rata indeks keberlanjutan Provinsi Aceh adalah cukup berkelanjutan (51,44), namun dimensi ekologi menjadi titik lemah yang membutuhkan intervensi prioritas. Hasil ini menunjukkan perlunya perbaikan pada aspek lingkungan, terutama terkait praktik budidaya, penggunaan pupuk, dan teknologi penyulingan yang ramah lingkungan.&#13;
Model rantai pasok yang dikembangkan dalam penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kelembagaan, khususnya koperasi dan perusahaan daerah, sebagai pusat konsolidasi produksi, distribusi, inovasi, dan akses permodalan. Koperasi berperan strategis dalam menyediakan sarana produksi secara kolektif, mengkonsolidasikan hasil panen untuk memenuhi volume pasar industri dan ekspor, mengelola unit penyulingan bersama, melakukan negosiasi harga secara kolektif, serta mendorong inovasi produk turunan. Penguatan koperasi juga diharapkan mampu memperbaiki akses petani terhadap pembiayaan, pelatihan, dan teknologi, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi nilam secara berkelanjutan.&#13;
Rekomendasi strategis dari penelitian ini adalah memprioritaskan perbaikan pada risiko tidak adanya pemberian pupuk, perawatan, dan proses pembuatan pupuk organik. Selain itu, penguatan kelembagaan koperasi dan perusahaan daerah harus menjadi fokus utama sebagai pusat layanan produksi, hilirisasi, pemasaran, dan pembiayaan. Penelitian dan pengembangan produk turunan berbasis minyak nilam juga sangat penting untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambah. Pemerintah diharapkan memberikan dukungan dalam bentuk fasilitasi akses modal, pelatihan, serta regulasi yang mendukung rantai pasok berkelanjutan.&#13;
Secara keseluruhan, disertasi ini menegaskan bahwa pengelolaan risiko secara terstruktur dan penguatan kelembagaan adalah kunci keberlanjutan rantai pasok nilam di Aceh. Dimensi ekologi menjadi titik lemah yang perlu intervensi prioritas, sementara dimensi sosial relatif kuat. Implementasi model rantai pasok berbasis mitigasi risiko, penguatan koperasi dan perusahaan daerah diyakini dapat meningkatkan stabilitas harga, kualitas, dan kesejahteraan petani nilam rakyat Aceh secara berkelanjutan&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>168531</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-28 16:54:28</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-28 17:32:21</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>