Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PENGUATAN CAPACITY BUILDING MAJELIS ADAT ACEH DALAM UPAYA MELESTARIKAN ADAT ISTIADAT PADA GENERASI MUDA (STUDI KASUS DI KOTA BANDA ACEH)
Pengarang
Dina elfira - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Wais Alqarni - 199204262019031019 - Dosen Pembimbing I
Helmi - 198804272017011101 - Penguji
Nurul Kamal - 196903232023211002 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2010104010100
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Pemerintahan (S1) / PDDIKTI : 65201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala., 2025
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Globalisasi dan kemajuan teknologi telah membawa dampak besar terhadap pergeseran nilai budaya di Aceh, terutama di kalangan generasi muda. Adat istiadat Aceh yang merupakan bagian integral dari identitas masyarakat mulai terpinggirkan. Untuk itu, Majelis Adat Aceh (MAA) memiliki peran strategis dalam melestarikan adat istiadat kepada generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penguatan capacity building Majelis Adat Aceh dalam upaya melestarikan adat istiadat serta mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam proses tersebut.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teori yang digunakan adalah Capacity Building menurut Merilee S. Grindle, dengan tiga indikator utama: pengembangan sumber daya manusia (SDM), penguatan organisasi, dan reformasi kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Adat Aceh telah melakukan berbagai upaya seperti pelatihan adat, sosialisasi kepada generasi muda, serta penyusunan kebijakan pelestarian budaya. Namun, pelaksanaan program-program tersebut belum berjalan optimal karena keterbatasan SDM, minimnya dukungan anggaran dari pemerintah, serta kurangnya sinergi antara Majelis Adat Aceh dengan lembaga pendidikan dan organisasi kepemudaan. Generasi muda pun cenderung lebih akrab dengan budaya luar dibanding dengan nilai-nilai lokal. Kesimpulannya, penguatan capacity building Majelis Adat Aceh memerlukan dukungan multisektor dan pendekatan berkelanjutan. Peneliti merekomendasikan adanya kolaborasi aktif antara pemerintah, Majelis Adat Aceh, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam mendesain program pelestarian budaya yang relevan, menarik, dan terintegrasi ke dalam kehidupan generasi muda agar adat istiadat Aceh tetap lestari dan berkembang di tengah arus globalisasi.
Kata Kunci: Capacity Building, Majelis Adat Aceh, Generasi Muda, Pelestarian Adat Istiadat
Globalization and technological advancement have significantly shifted cultural values in Aceh, particularly among the younger generation. Acehnese customs, which are an integral part of local identity, are gradually being marginalized. In response, the Aceh Customary Assembly (Majelis Adat Aceh/MAA) plays a strategic role in preserving traditional customs and values for future generations. This study aims to examine how Majelis Adat Aceh strengthens its capacity building in preserving Acehnese customs and to identify the obstacles it encounters in doing so. This research adopts a descriptive qualitative method with data collection techniques including interviews, observations, and documentation. The theoretical framework used is Merilee S. Grindle’s concept of Capacity Building, which emphasizes three key indicators: human resource development, organizational strengthening, and institutional reform. The findings indicate that Majelis Adat Aceh has made several efforts, such as organizing customary training sessions, conducting outreach to the youth, and formulating cultural preservation policies. However, these initiatives have not been optimally implemented due to limitations in human resources, insufficient government funding, and a lack of synergy with educational institutions and youth organizations. Moreover, young people are often more familiar with global popular culture than with their own local traditions. In conclusion, strengthening Majelis Adat Aceh capacity building requires multisectoral support and a sustained approach. The researcher recommends active collaboration among the government, Majelis Adat Aceh, educational institutions, and society at large to design cultural preservation programs that are engaging, relevant, and integrated into the lives of the younger generation—ensuring Acehnese customs remain preserved and relevant amid globalization. Keywords : Capacity Building, Aceh Customary Assembly, Youth, Cultural Preservation
ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN MAJELIS ADAT BANDA ACEH DALAM PELESTARIAN ADAT DAN BUDAYA DI BANDA ACEH TAHUN 2021 (MEIDI JUANDA, 2023)
KEDUDUKAN DAN FUNGSI MAJELIS ADAT ACEH DALAM PELAKSANAAN OTONOMI KHUSUS ACEH (MAURISKA KHAIRUNNISA, 2020)
PERAN MAJELIS ADAT KABUPATEN ACEH JAYA DALAM MELESTARIKAN TRADISI PEUMEUNAB DAN SEUMELUENG (TAMLI KHAIS, 2026)
PERAN MAJELIS ADAT KABUPATEN ACEH JAYA DALAM MELESTARIKAN TRADISI PEUMEUNAB DAN SEUMELUENG (TAMLI KHAIS, 2026)
PERAN MUKIM TERHADAP PELESTARIAN ADAT ISTIADAT (STUDI DI KEMUKIMAN LEUPUNG MESJID KECAMATAN KUTA BARO KABUPATEN ACEH BESAR) (DIAN RIZKI AMALIA, 2015)