<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="168491">
 <titleInfo>
  <title>PENGUATAN CAPACITY BUILDING MAJELIS ADAT ACEH DALAM UPAYA MELESTARIKAN ADAT ISTIADAT PADA GENERASI MUDA (STUDI KASUS DI KOTA BANDA ACEH)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Dina elfira</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Globalisasi dan kemajuan teknologi telah membawa dampak besar terhadap pergeseran nilai budaya di Aceh, terutama di kalangan generasi muda. Adat istiadat Aceh yang merupakan bagian integral dari identitas masyarakat mulai terpinggirkan. Untuk itu, Majelis Adat Aceh (MAA) memiliki peran strategis dalam melestarikan adat istiadat kepada generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penguatan capacity building Majelis Adat Aceh dalam upaya melestarikan adat istiadat serta mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam proses tersebut.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teori yang digunakan adalah Capacity Building menurut Merilee S. Grindle, dengan tiga indikator utama: pengembangan sumber daya manusia (SDM), penguatan organisasi, dan reformasi kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Adat Aceh telah melakukan berbagai upaya seperti pelatihan adat, sosialisasi kepada generasi muda, serta penyusunan kebijakan pelestarian budaya. Namun, pelaksanaan program-program tersebut belum berjalan optimal karena keterbatasan SDM, minimnya dukungan anggaran dari pemerintah, serta kurangnya sinergi antara Majelis Adat Aceh dengan lembaga pendidikan dan organisasi kepemudaan. Generasi muda pun cenderung lebih akrab dengan budaya luar dibanding dengan nilai-nilai lokal. Kesimpulannya, penguatan capacity building Majelis Adat Aceh memerlukan dukungan multisektor dan pendekatan berkelanjutan. Peneliti merekomendasikan adanya kolaborasi aktif antara pemerintah, Majelis Adat Aceh, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam mendesain program pelestarian budaya yang relevan, menarik, dan terintegrasi ke dalam kehidupan generasi muda agar adat istiadat Aceh tetap lestari dan berkembang di tengah arus globalisasi.&#13;
&#13;
Kata Kunci: 	Capacity Building, Majelis Adat Aceh, Generasi Muda, Pelestarian Adat Istiadat&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>168491</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-28 16:04:40</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-28 16:13:40</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>